10 Tahun Yang Akan Datang Ditentukan Sikap Kita Hari Ini

8 Oktober 2010 / 13:04 Dibaca sebanyak: 497 kali Tulis komentar

BANDUNG (Lintasjabar.com),- Bayangkan apa yang ada dipikiran anda tentang lingkungan Kota Bandung sepuluh tahun kedepan”, tanya Wakil Walikota Bandung, Ayi Vivanada kepada para kepala sekolah dan guru di gedung Aula Dinas Pendidikan jalan Dr. Rajiman No. 6 dalam acara semiloka tentang pendidikan lingkungan hidup bagi kepala sekolah dan guru di wilayah Kota Bandung, Kamis (07/10)

“Bandung yang kita rasakan tidak seperti Bandung seperti dulu, dimana tahun 80an pada pagi hari kita masih merasakan dinginnya embun pagi, semakin hari lingkungan kita terasa semakin panas disebabkan efek rumah kaca” lanjutnya memaparkan efek rumah kaca yang pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada 1824, secara alamiah sinar matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa. Sebagian sinar matahari yang dipantulkan itu akan diserap oleh gas-gas di atmosfer yang menyelimuti bumi disebut gas rumah kaca, sehingga sinar tersebut terperangkap dalam bumi. panas yang masuk akan terperangkap di dalamnya, tidak dapat menembus ke luar kaca, sehingga dapat menghangatkan seisi rumah kaca tersebut. “sederhananya apabila kita diam didalam mobil dengan kaca yang tertutup di tengah terik matahari tanpa menggunakan AC” lanjutnya

Ayi menawarkan perlunya gerakan lingkungan hidup karena pertumbuhan manusia saat ini tidak diimbangi oleh jumlah pertumbuhan pohon, “kita dihadapkan pada dua pilihan, yaitu hanya diam saja dan merasakan lingkugan tidak nyaman atau bergerak secepatnya demi meraih lingkungan yang diharapkan, 10 tahun yang akan datang sangat ditentukan sikap kita hari ini, anak-anak adalah masa depan bangsa, yang menentukan sikap generasi yang akan datang adalah lingkungan sekolah, bapak dan ibu adalah pahlawan bagi lingkungan hidup dimasa depan” tegasnya

Ketua panita semiloka, Hj. Ayuning Tresno Tri Subianti menyatakan semiloka diadakan merupakan keprihatinan terhadap lingkungan hidup karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan hidup, “Walaupun Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) sudah masuk kurikulum sekolah, masih kurang tingkat disiplin masyarakat, karena itu Ikatan Alumni SMA 9 Bandung, Pertamina, dan Pemerintah kota mengadakan semiloka ini” katanya

Sasmita Nugraha mewakili Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia memaparkan pentingnya Pendidikan Lingkungan Hidup, “Ini sebagai upaya mengubah prilaku dan sikap masyakat, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kesadaran tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan, yang akhirnya menggerakan kesadaran penyelamatan lingkungan untuk generasi sekarang dan yang akan datang” paparnya

Kepada para kepala sekolah Ayi mengusulkan, setiap tahun ajaran baru pendaftar sekolah diwajibkan menyumbang pohon, “Saya usulkan pada Dinas Pendidikan wajib tiap anak didik menanan satu pohon, agar dijaga dan bertanggung jawab hingga rasa memiliki dan ikatan emosional kuat terhadap pohon tersebut,  hingga setiap tahun sekolah menyumbang 150 ribu pohon” usulnya

Pemerintah Kota Bandung menggalakan Revolusi Bandung Hijau melaui lima gerakan, gerakan penghijauan dengan menanam 2 juta pohon sampai tahun 2013, Hemat dan menabung air dengan membuat sumur resapan dan biofori, sungai bersih melalui cikapundung bersih, gerakan sejuta bunga, gerakan udara bersih menerapkan uji emisi bagi kendaraan bermotor, program car free day di kawasan jalan dago setiap hari minggu serta gerakan pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pengawasan lingkungan hidup (GP4LH). (Herdi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.