Media Islam dan Kebebasan Pers Menurut Pandangan Islam

10 November 2015 / 12:49 Dibaca sebanyak: 2037 kali Tulis komentar

DALAM konstelasi media yang begitu luas sekarang, ada segmen yang dinamakan ”media Islam” dan atau ”media Islami.” Sayangnya, kajian akademis tentang media ini belum cukup banyak. Tulisan ini berupaya memberikan kategorisasi yang lebih jelas tentang apa itu ”media Islam” dan atau ”media Islami,” serta perbedaannya dengan media lain.

Ada yang menganggap, media Islam dan media Islami sepenuhnya identik.
Kata “Islam” menunjukkan suatu identitas. Agar bisa disebut sebagai orang Islam, seseorang minimal harus sudah mengucapkan kalimat syahadat, mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.

”Media Islam” tentu juga harus memiliki syarat tertentu, yang membedakannya dengan media lain. Syarat pertama, media itu harus dimiliki oleh orang Islam. Jika kepemilikannya bersifat kolektif (misalnya, saham perusahaan media itu sudah diperjualbelikan untuk umum di bursa efek), mayoritas saham harus dimiliki orang Islam.

Syarat kedua, media itu sedikit banyak harus mengemban misi dakwah, yakni misi mengagungkan agama Allah, menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam, memajukan dan mencerdaskan umat Islam, dan sebagainya. Ini bukan berarti media itu harus semata-mata diisi dengan kumpulan kotbah agama.

Perwujudan misi dakwah bisa sangat luas, tergantung kreativitas pengelolanya. Media Islam bebas menyajikan topik apa saja, mulai dari yang spesifik berkaitan dengan agama sampai topik lain, asalkan dilandasi niat dakwah. Jadi, misi media Islam bukan semata-mata komersial.

Syarat ketiga, media Islam harus menerapkan etika dan nilai-nilai ajaran Islam, dalam menjalankan bisnis perusahaan dan aktivitas keredaksian. Jika syarat kedua berkaitan dengan niat dan tujuan, maka syarat ketiga ini berkaitan dengan cara mencapai tujuan.

Dalam aspek bisnis, misalnya, media Islam tidak membabi buta mencari keuntungan. Tidak semua iklan, betapapun besar nilainya, akan diterima. Media Islam akan menolak mengiklankan semua hal yang diharamkan oleh Islam. Jadi, tidak akan ada iklan minuman keras atau makanan yang mengandung daging babi di media Islam.

Kebebasan Pers Menurut Islam

Dalam aspek keredaksian, ada persinggungan antara etika yang dilandasi ajaran Islam dan ”etika jurnalistik universal” yang dianut berbagai media lain. Etika jurnalistik yang dianut media Islam juga melarang pemberian suap, praktik amplop buat jurnalis, penyiaran kabar bohong, dan sebagainya.

Namun, ada beda dalam cara memandang kebebasan pers, yang merupakan prasyarat penting bagi terwujudnya fungsi media, untuk memberi informasi, mendidik masyarakat, menghibur, dan melakukan kritik sosial.

Kebebasan pers itu bisa menjurus ke wujud ekstrem. Misalnya, tiap warga dianggap bebas menerbitkan media apa saja, termasuk yang mengeksploitasi seks. Penerbitan semacam Playboy dan Popular, yang mengumbar aurat dianggap sah-sah saja. Toh memang ada segmen pembaca tertentu yang menggemari dan mengonsumsinya.

Contoh lain, sejumlah media Eropa beberapa waktu lalu pernah memuat karikatur Nabi Muhammad SAW dalam format yang melecehkan. Hal ini dilakukan di bawah payung ”kebebasan pers” dan ”kebebasan berekspresi,” yang dianggap sebagai bagian dari hak-hak asasi manusia.

Nah, dalam hal semacam inilah terdapat perbedaan antara media Islam dan media lain. Bagi media Islam, pengertian “kebebasan pers” dan “kebebasan berekspresi” bukanlah kebebasan yang liar, bukan kebebasan demi kebebasan itu sendiri. Melainkan, kebebasan yang luas dalam berkreasi melalui media, sebagai sarana dakwah dan wujud pengabdian kepada Allah SWT.

Pelayanan kepentingan publik, yang sudah jadi kredo jurnalisme universal, adalah bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Jadi, tidak ada ceritanya media Islam memuat konten yang cabul, pelecehan terhadap Rasulullah, dan lain-lain, yang justru menjauhkan pembacanya dari ajaran Islam.

Media Islami

Kalau kata “Islam” menunjukkan identitas, maka kata “Islami” menunjukkan suatu sifat atau ciri yang merujuk ke identitas “Islam.” Orang Islam yang mengimplementasikan ajaran Islam pada seluruh aspek kehidupannya, akan menunjukkan ciri-ciri Islami.

Namun, bisa terjadi, ciri Islami ini tidak terwujud dalam seluruh aspek kehidupan. Misalnya, ada orang yang pantang makan daging babi dan semua makanan yang diharamkan dalam Islam. Tetapi orang itu ternyata sangat kikir, tidak pernah mau berzakat pada fakir miskin. Jadi, perilakunya terhadap makanan terkesan “Islami,” tetapi perilaku kikirnya jelas “tidak Islami.”

Selain itu, orang yang menunjukkan ciri Islami tidak otomatis berarti dia orang Islam, karena bisa jadi “ciri Islami” itu tidak berangkat dari ajaran Islam sebagai landasannya. Ciri-ciri itu lebih terlihat pada tampilan, tetapi tampilan tidak selalu mencerminkan esensi.

Orang yang pantang makan daging babi mungkin melakukan itu hanya karena instruksi dokter (daging babi mengandung banyak lemak). Ia bukan berniat mematuhi ajaran Islam. Banyak orang non-Muslim bahkan berpantang daging sama sekali, menjadi vegetarian, karena pertimbangan kesehatan.

Dengan analogi itu, dapat dikatakan bahwa media Islam itu identik dengan media Islami. Sebaliknya, media ”Islami” belum tentu bisa dikategorikan sebagai media Islam. Kalau seluruh aspeknya sudah ”Islami,” barulah ia bisa disamakan dengan media Islam. Misalnya, ada media yang kebijakan redaksionalnya terkesan ”Islami,” tetapi media itu bukan media Islam, karena tidak dimiliki oleh orang Islam.

Dalam dunia modern kehidupan masyarakat tidak lagi dapat dipisahkan dari jurnalistik dan pers. Secara ekstrem para ahli jurnalistik menyamakan pers dengan udara yang dibutuhkan manusia untuk hidup. Manusia modern tidak lagi dapat hidup tanpa mendapatkan suguhan pers, yang memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi (H. Assegaff, 1991: 9).

Keberhasilan dakwah tidak semata terletak pada format dan isi, tetapi sangat tergantung pula pada metode dan media, pengaruh media informasi sungguh makin nyata. Sementara di kalangan umat Islam umumnya kita juga mulai menyaksikan adanya semacam pergeseran proporsionalitas struktur penggunaan media dakwah, yakni da’wah bil qalam (media cetak) mendapat posisi besar di samping dakwah billisan (Hamka dan Rafiq, 1989:122).

Secara umum fungsi media komunikasi massa tersebut adalah:
a. memberikan informasi
b. mendidik
c. menghibur dan
d. mempengaruhi  (Effendy, 1986: 116).

Surat kabar sebagai salah satu media dakwah, baik surat kabar harian maupun mingguan, keduanya telah memiliki fungsi tersebut di atas. Persoalannya adalah apakah muballigh sudah siap untuk menggunakan dan memanfaatkan surat kabar sebagai media saluran dakwah? Ini adalah sebuah tantangan bagi para muballigh dalam menyampaikan pesan-pesan agama kepada masyarakat khususnya melalui media cetak (surat kabar).

Ciri masyarakat informasi ditandai dengan makin lebar dan intensidnya kegiatan komunikasi, baik yang bersifat interakatif maupun media massa. Teknologi informasi merupakan ciri dominan kehidupan masyarakat dalam mencari, memproses, dan menyajikan informasi  (Firdaus, 2003: 12).

Dengan demikian tampak  ada kesamaan antara fungsi surat kabar (pers) dan fungsi dakwah. Hasanuddin mengatakan bahwa persamaan antara dakwah dan publisistik yaitu sama-sama menyampaikan isi pernyataan, objeknya sama-sama manusia, sama-sama bertujuan agar manusia lain jadi sependapat, selangkah dan serasi dengan orang yang menyampaikan isi pernyataan (Ardhana, 199: 45).

Surat kabar sebagai media informasi dan media dakwah sangat besar pengaruhnya dalam penyiaran Islam kepada masyarakat. Surat kabar sebagai media massa memuat dan menyajikan berbagai macam informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat selalu konsumen. Makalah ini akan membahas pengaruh dakwah melalui surat kabar.

Dakwah Melalui Surat Kabar

Dakwah adalah kewajiban yang harus ditegakkan oleh umat Islam, kapan dan di manapun mereka berada. Dakwah dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk, misalnya melalui perbuatan (akhlak), tutur kata (lisan), dan melalui tulisan (surat kabar). Untuk membahas dakwah melalui tulisan, maka di bawah ini akan dikemukakan pengertian, beberapa media dakwah dan pengaruhnya melalui surat kabar.

a.        Pengertian media dakwah
Kata  “media”  berasal   dari   bahasa   latin,   yaitu  “median” yang artinya alat perantara. Sedangkan kata media merupakan jamak darikata median tersebut (Syukir, 1983:163). Dari  pengertian  ini  dipahami,  bahwa  yang dimaksud dengan media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Menurut H. Hamzah Ya’qub (1981: 47), bahwa media dakwah adalah “alat obyektif yang menjadi saluran menghubungkan ide dengan ummat, suatu elemen yang vital dan merupakan urat nadi dalam totaliteit dakwah”.

Asmuni Syukir (1983:163) menjelaskan bahwa media dakwah adalah alat yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan. Media dakwah ini dapat berupa barang (material), manusia, tempat, kondisi tertentu dan sebagainya.

Abd. Kadir Munsyi (1981: 41), menjelaskan bahwa media dakwah adalah alat yang menjadi saluran penghubung ide  dengan  umat,  suatu   elemen  yang  vital yang merupakan urat nadi dalam totalitiet dakwah.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa media dakwah  adalah  segala sesuatu yang dipergunakan dalam rangka pelaksanaan dakwah demi tercapainya tujuan dari pada dakwah.

b.       Beberapa media Dakwah
Mengingat banyak media yang dapat digunakan oleh para da’i dalam menyampaikan pesan-pesan agama kepada masyarakat, maka berikut akan dikemukakan beberapa pendapat para ahli tentang media dakwah.

1.    H. Hamzah Ya’qub (1981: 47-48) membagi media dakwah dalam lima (5) bahagian, yaitu:
a)    Lisan, seperti khutbah, pidato, ceramah, kuliah diskusi, seminar, musyawarah, nasehat, pidato radio, ramah tamah, anjang sana, obrolan secara bebas dan lain sebagainya yang menggunakan lidah dan suara.
b)   Tulisan, misalnya menyampaikan dakwah lewat buku-buku,
majalah, surat kabar, buletin, spanduk, dan lain-lainnya.
c)    Lukisan, seperti gambar-gambar, foto, film cerita dan lain-lain lukisan yang mengandung nilai-nilai dakwah.
d)   Audio visual, yaitu yang dapat didengar dan dilihat. Misalnya televisi dan lain-lain.
e)    Akhlak (uswatun hasanah), yakni menunjukkan perbuatan nyata seperti mensiarhi orang sakit, membangun masjid, sekolah, poliklinik dan lain-lain.

2. Menurut Abd. Kadir Munsyi, bahwa ada enam (6) macam media dakwah yaitu:
a)       Lisan
b)      Tulisan
c)       Lukisan atau gambar
d)      Audio visual
e)       Perbuatan
f)       Organisasi  (Munsyi, 1981: ix-x).

Berdasarkan  uraian  di atas, maka dapat dipahami bahwa, media dakwah adalah alat yang digunakan sebagai perantara dalam rangka pencapaian tujuan dakwah. Meskipun hanya sebagai alat perantara tetapi sangat berperan dalam pelaksanaan dakwah.  Hal tersebut menunjukkan bahwa media dakwah sangat dibutuhkan dalam proses penyelenggaraan aktivitas dakwah di masyarakat.

Dengan demikian media dakwah yang meliputi segala sesuatu yang digunakan dalam hubungannya dengan pelaksanaan dakwah, sekalipun hanya alat penunjang,  akan  tetapi  sangat  besar   pengaruhnya   dalam   pencapaian  tujuan yang ingin dicapai oleh dakwah.

Sekalipun media dakwah itu sangat banyak, tetapi tidak ada  media yang sempurna, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, kekurangan yang ada pada media yang satu akan disempurnakan oleh media lainnya.

Makin banyak menguasai penggunaan media dalam pelaksanaan dakwah, maka semakin mengantar kepada keberhasilan dan kesuksesan  dalam pelaksanaan dakwah. Oleh karena itu, dalam memilih media dakwah sebaiknya selalu dikondisikan dengan objek dakwah, sebab tidak semua media dakwah bisa digunakan dalam semua kondisi dan situasi.

Media dakwah merupakan salah satu unsur dakwah yang dapat menunjang suksesnya dakwah.  Sebab itu, materi dakwah yang akan disampaikan harus disesuaikan degan media yang akan digunakan. Dengan demikian, dakwah  yang disalurkan lewat media lebih mudah  mempengaruhi mad’u. Di sinilah pentingnya media bagi juru dakwah dalam menyampaikan materi dakwah terhadap mad’u.

Pesan yang akan disampaikan oleh komunikator melalui media cetak (suarat kabar) sedapat mungkin dirumuskan sebagai berikut:
a. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan.
b. Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti.
c. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut.
d. Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan  yang layak bagi situasi komunikan  (Effendy, 1986:39).

Pengaruh Dakwah Melalui Surat Kabar

Akhir abad XX dewasa ini adalah masa terjadinya banjir media massa dan menjurus kepada terjadinya kekerasan media massa yang sukar diabaikan oleh pembentuk-pembentuk watak manusia. Media massa seperti surat kabar, televisi, radio, film, teater, majalah dan sebagainya. Oleh para da`i harus dimanfaatkan seefektif mungkin, sebab bila tidak, media tersebut akan cenderung berupa alat sekularistis yang akan mendangkalkan penghayatan keagamaan umat Islam.

Surat kabar sebagai salah satu media dakwah sangat besar peranannya dalam mentransformasikan nilai-nilai ajaran agama kepada masyarakat. Peranan surat kabar antara lain dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Empat buah koran yang memusuhi lebih berbahaya daripada seribu  bayonet.
b. Dalam melaksanakan perjuangan meletakkan dasarnya cita-cita atau penyebaran cita-cita maka koran merupakan benteng pertahanan
c. Untuk mengetahui amanat penderitaan rakyat yang sebenarnya dapat dicerminkan dalam koran
d. Apabila koran dibiarkan secara merdeka, saya tidak akan bisa memerintah lebih dari 30 bulan (Napolion)
e. Koran dapat disamakan dengan mata, telinga, dan lidahnya rakyat
f. Adapun yang tidak benar yang disiarkan oleh koran bisa mengakibatkan benar dan rakyat akan mempercayainya
g. Koran langsung bisa menjadi pembunuh bila ia terlalu dibebaskan berbicara
h. Bila digunakan sebenarnya koran dapat menguasai dan memerintah dunia
i. Suatu negara bisa menjadi baik atau buruk tergantung dari peranan korannya
j. Bicara hanya menghasilkan sejumlah kecil manusia yang terpengaruh, tetapi dengan koran jutaan manusia bisa terpengaruh (H.M. Iskandar, 2008:58).

Fungsi dakwah adalah membentuk opini, merubah sikap dan untuk mengarahkan tingkah perseorangan dan masyarakat. Dakwah sebagai agen pembaharuan, perbaikan dan perubahan, mempunyai sarana yang sama dengan pendidikan, yaitu keluarga, pendidikan formal, lingkungan masyarakat dan media massa (Habib, 1982:138).

Sebagai agen perubahan, maka sesungguhnya keluarga selain menempati tempat yang paling penting, juga sebagai pendahuluan dan tahap awal pendidikan manusia. Oleh karena itu, melalui fungsi keluarga dakwah sangat penting artinya dalam pembentukan  watak dan pribadi muslim, sebagai benih terbentuknya masyarakat yang dikendalikan oleh pola dakwah  (Habib, 1982: 138).

Surat kabar sebagai media dan sarana dakwah diperlukan oleh manusia yang akan berkembang terus-menerus sejalan dengan laju dan perkembangan manusia. Apabila dikaitkan dengan media dan sarana dakwah dalam al-Qur’an, maka akan ditemukan sebagai contoh media dakwah, misalnya pentingnya baca tulis sebagai media dakwah. Informasi tentang perintah baca tulis dapat dilihat dalam al-Qur’an surah al-‘alaq: 1-5;

Terjemahnya:
1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.  (Departemen Agama RI., 1989:1079).

Media tulis, termasuk di dalamnya surat kabar sangat membantu dalam pelaksanaan dakwah terutama yang ditujukan kepada masyarakat dan kelompok-kelompok yang berpendidikan. Di sini juru dakwah mesti proaktif mengambil bagian dan betul-betul memanfaatkan media massa tersebut.

Berkaitan dengan itu, diperlukan teknik penyajian yang menarik, seperti penggunaan bahasa, materi yang menarik dan sebagainya. Karena itu pemanfaatan media secara efektif memerlukan ketrampilan dan keahlian bagi pengguna media itu. Di sini perlunya lembaga dakwah dan pendidikan membentuk kader-kader da`i berupa:

1.     Menyiapkan para pengarang, penerjemah dan penulis yang memenuhi syarat untuk memenuhi pasaran bacaan ilmiah sastra budaya yang di dalamnya ditemukan benih-benih tauhid yang kuat dan kokoh.
2.     Menyiapkan penyiaran dan perfilman, agar dunia film suatu waktu akan dipengaruhi dengan cerita yang menyebabkan orang asyik menontonnya dan barulah pada akhirnya menarik nafas puas, karena film itu ternyata film yang bernada agama.
3.     Menyiapkan seniman dalam segala macam jenisnya yang mampu mengantarkan karya seninya untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengagumi keindahan dan menghargai segala ciptaan Allah di alam raya ini.

Tenaga-tenaga seperti inilah yang diharapkan dapat memanfaatkan media komunikasi massa sehingga dakwah dapat berkembang dan turut mewarnai kehidupan umat manusia. Sekarang media massa memasuki babak baru dengan istilah abad informasi dan globalisasi. Media ini mempunyai efek yang sangat luas, tidak terbatas pada suatu daerah, bahkan mungkin sampai ke seluruh dunia. Karena itu materi dakwah melalui media surat kabar akan dapat menjangkau sasaran yang luas.

Penulis:

Zaenal Ihsan

(Disadur dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.