GPII Jabar dan Maung Institute Mengutuk Keras Aksi Penistaan Simbol Agama Oleh Oknum Banser

23 Oktober 2018 / 08:28 Dibaca sebanyak: 1777 kali Tulis komentar

BANDUNG, LJ – Berdasarkan beredarnya video berdurasi 02.05 menit yang sudah viral di media sosial bahkan tersebar di laman Youtube,  terkait aksi pembakaran bendera hitam yang bertuliskan kalimat tauhid oleh belasan oknum anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Ansor, Nahdlatul Ulama (NU) Garut menyukut protes dan kecaman dari beberapa kalangan.

Pembakaran bendera beraksara arab dengan tulisan “laa ilaha illallah muhammad rasulullah” yang diyakini sebagai ar-royah oleh beberapa kalangan kaum muslim dilakukan oknum anggota Banser pada momentum perayaan hari santri di Garut belum lama ini.

Protes dilayangkan Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PW GPII) Jawa Barat atas aksi pembakaran tersebut. GPII Jabar menilai aksi yang dilakukan oknum anggota Banser itu telah meresahkan masyarakat muslim pada umumnya.

“Aksi pembakaran itu sangat meresahkan, terlebih dilakukan pada peringatan Hari Santri Nasional di salah satu daerah. Dari video yang beredar terlihat dilakukan oleh beberapa orang yang mengatas namakan Barisan Ansor Nahdlatul Ulama (BANSER NU). Melihat situasi dan bahasa yang digunakan berbahasa Sunda, patut diduga kegiatan ini dilaksanakan di Jawa Barat,” terang Ketua PW GPII Jabar, Irwan Sholeh Amir dalam prees realesenya yang diterima redaksi, Senin malam (22/10).

Dalam pernyataan sikap PW GPII Jabar yakni: 1. Menuntut klarifikasi resmi dari pihak BANSER atas insiden tersebut, 2. Menuntut permintaan maaf kepada seluruh umat Islam atas tragedi pembakaran kalimat Tauhid, 3. Menuntut pihak berwajib untuk segera bertindak, memproses dugaan penistaan simbol agama, 4. Mengajak kepada seluruh warga Jawa Barat untuk bersikap tenang dan tidak reaktif apalagi terpancing untuk konflik serta 5. Menyerahkan semua hal pada proses hukum yang berlaku di Indonesia.

Hal senada pula dilayangkan Masyarakat Unggul (Maung) Institute. Dalam keterangan persnya, Maung Institute menilai pembakaran bendera bertuliskan kalimah tauhid dengan dalih bahwa itu merupakan bendera HTI adalah sikap pengecut.

“Sama bendera saja takut. Rasa takut yang didasari rasa benci akan membuat diri panik. Tidak mampu memprediksi efek. Bahkan Buta. Sedikit ada tulisan ‘la ilaaha illallah’ langsung HTI menghantui, ini sikap jiwa yang tidak sehat. Paranoid,” terang Ketua Maung Institute, M. Rizal Fadillah didampingi Sekretaris
Hari Maksum.

Menurutnya, kini sikap pengecut itu kena batunya. Di hari santri sang ‘santri’ berjiwa preman membakar bendera berkalimah yang dimuliakan umat. Dia membakar dirinya sendiri.

Maung Institute pun menilai wajar bila umat muslim mengutuk keras dan meluapkan kemarahannya atas perbuatan yang dipandang tak beradab ini.

Dalam pernyataan sikapnya Maung Institute atas aksi tersebut mendesak diantaranya; Pertama, aparat penegak hukum untuk serius memproses perbuatan melanggar hukum yang terjadi dengan mengusut detail motif dan pihak pihak yang mungkin menggerakkan terjadinya pembakaran itu; Kedua, ormas ormas yang melabelkan diri sebagai ormas Islam, mesti menjadi teladan dan berakhlak Islami menjauhi anarkhisme dan premanisme karena bukan simpati yang didapat tetapi antipati, bahkan dimusuhi oleh umat Islam sendiri;

Selain itu Ketiga, kewaspadaan tinggi terhadap kemungkinan penyusupan ‘PKI baru’ dalam gerakan gerakan kemasyarakatan di Indonesia. Berbaju pembela Ideologi dan NKRI yang sebenarnya sedang merancang penggantian ideologi dan menggoyahkan NKRI. Serta Keempat, masyarakat bersama TNI sebagai pilar kekuatan bangsa mempertinggi ‘awareness’ dan ‘alertness’ untuk menjaga kemungkinan permainan politik domestik dan asing yang berniat mengacaukan keadaan negara Indonesia, menjelang puncak kompetisi politik di tahun 2019 ini.

Pernyataan Sikap ini dibuat untuk dijadikan peringatan bahwa agama di Indonesia ini dilindungi secara hukum. Dan siapa pun tak bisa berbuat semena-mena apalagi menistakan agama lain. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.