Dewan Anggarkan Pengadaan Alat Kontrasepsi

12 Agustus 2014 / 14:33 Dibaca sebanyak: 474 kali Tulis komentar

BANDUNGLJ – Dalam rapat koordinasi antara Komisi E DPRD Jawa Barat dengan Dinas Keshatan Jabar terungkap bahwa stok alat kontrasepsi sudah sangat minim, bahkan dibeberapa Kab/kota sudah ada yang kosong. Untuk itu, Dewan meminta kepada pemerintah pusat dan bahkan menyetujui pengalokasian anggaran demi memenuhi kebutuhan alat kontrasepsi bagi masyarakat.

Menurut Sekretaris Komisi E DPRD Jabar, H.Yod Mintaraga (FPG) mengatakan, keberadaan dan kebutuhan alat kontrasepsi sangat penting untuk menekan angka laju pertambahan penduduk.

“ Kalau alat kotrasepsi sebagai pengendali jumlah kehamilan sulit didapatkan masyarakat, tentunya tentunya sangat sulit untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk.,” kata Yod kepada wartawan saat ditemui di ruang Komisi E DPRD Jabar, Selasa (12/8)

Dikatakan, pada pembahasan APBD Perubahan 2014 sekarang, Badan Anggaran DPRD Jabar, dapat menerima usulan Dinas Kesehatan untuk dapat dialokasikan anggaran dalam APBD PErubahan 2014,terkait sudah minimnya stok alat kontrasepsi. Walaupun kita (dewan-red) menyayangkan atas minimnya stok alat kontrasepsi, ujarnya.

Yod juga mengatakan, penduduk Jabar saat ini terbesar di Indonesia bahkan jumlahnya sudah mendekati angka 45 juta jiwa. Kalau laju pertumbuhan tidak dapat ditekan, tentunya akan terjadi permasalahan social kedepannya. Selain itu, laju pertumbuhan penduduk harus dibarengi dengan pembangunan di bidang infrastruktur, pendidikan, kesehatan hingga kebutuhan pangan.

Sementara itu, ditempat terpisah, Kepala Perwakilan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jabar Siti Fatonah mengungkapkan, menipisnya stok alat kontrasepsi tersebut sudah terjadi sejak Juni 2014 lalu.

“Sejak Juni lalu stok alkon (alat kontrasepsi) memang sudah tipis di lapangan. Sudah dalam tanda kritis, artinya tidak akan mencukupi hingga tiga bulan ke depan,” kata Siti di Kantor BKKBN Jabar, Bandung, belum lama ini.

Siti mengungkapkan, menipisnya persediaan terjadi pada alat kontrasepsi jenis pil dan suntik. Padahal, hampir sebagian besar masyarakat Jabar atau hampir sekitar 80 persennya menggunakan dua jenis alat kontrasepsi tersebut. (Ihsan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.