Sukmawati dan Islam Sontoloyo

6 April 2018 / 07:56 Dibaca sebanyak: 156 kali Tulis komentar

Oleh: Irwan Sholeh Amir*

 

BARU-BARU ini kita dikejutkan dengan viral-nya sebuah video penyampaian puisi oleh Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri. Putri sang proklamator ini menyampaikan puisi ciptaannya sendiri yang berjudul “Ibu Indonesia” di acara 19 Tahun Anne Avantie Berkarya dalam Indonesia Fashion Week 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), pada 2 April 2018 yang lalu.

Ternyata di luar dugaan, dengan lantang dan berani, Sukmawati memulai puisi itu dengan bait: “Aku tak tahu Syariat Islam”. Sontak, semua mata penonton tertuju pada Sukmawati, karena memulai puisi itu dengan pengakuan yang sensasional namun seolah menyindir dan berbau SARA.

Tak hanya itu, bait-bait selanjutnya digambarkan Sukmawati dengan nada satir bahkan cenderung sarkastik, dengan membandingkan sari konde ibu Indonesia lebih baik dari cadar, lalu ia pun sebut bahwa suara kidung ibu Indonesia lebih merdu dari adzan. Puisi kotroversial Sukmawati ini menyulut kemarahan umat Islam, membuat gaduh dunia maya, dan akhirnya berbuah laporan-laporan dari elemen masyarakat kepada pihak penegak hukum, karena dianggap sebagai ujaran kebencian.

Gelombang protes semakin besar, hal ini memaksa Sukmawati untuk meminta maaf secara terbuka. Dengan berurai air mata, Sukmawati menyampaikan penyesalannya. Tak pernah ia bermaksud menghina umat Islam lirihnya. Bahkan ia mengaku sebagai seorang muslimah yang bangga dengan keislamannya. Tentunya, pengakuannya tak berbanding lurus dengan puisi yang dibuatnya. Sukmawati menyerang simbol-simbol agama dengan brutal, walaupun diakuinya sendiri bahwa ia tak paham agamanya sendiri. Salah memahami Islam seperti inilah yang oleh bapaknya sendiri (Soekarno) disebut dengan Islam Sontoloyo.

Istilah Islam Sontoloyo dikenalkan Soekarno pada tahun 1940 dalam surat kabar Panji Islam. Kemudian Islam Sontoloyo menjadi sebuah judul buku karya Soekarno, kumpulan dari artikel-artikel pemikiran keislaman Soekarno yang pernah terbit di surat kabar Panji Islam. Tulisan-tulisan Soekarno tentang Islam ini merupakan kritiknya terhadap realitas umat Islam yang menurutnya gagal memahami ruh dan api Islam. Walaupun pemikiran-pemikiran keislaman Soekarno cenderung dianggap sekuler, tetapi Soekarno cukup fasih berbicara tentang Islam, dan Soekarno pun banyak berguru pada tokoh-tokoh Islam pada zamannya.

Gagasan Soekarno tentang Islam Sontoloyo sebenarnya merupakan respon dan kritiknya terhadap pemahaman fiqh yang rigid di Indonesia. Menurutnya, fiqh bisa menjadi sumber masalah jika hanya dijadikan pembenaran hawa nafsu manusia.

Seperti kritiknya terhadap kasus oknum pemuka agama yang dengan mudahnya menikahi murid-murid perempuannya dengan alasan fiqh, yaitu sebelum dia mengajar murid-murid perempuannya, guru agama itu mesti menjadikan murid-murid perempuan menjadi mahram-nya, atau menikahinya, karena interaksi belajar-mengajar antara lawan jenis dianggapnya haram.

Maka menurut Soekarno: “Benar-benarlah di sini kita melihat Islam Sontoloyo! Sesuatu perbuatan dosa dihalalkan menurut hukum fiqih.” (Soekarno, cetakan 2017: 188).

Soekarno juga menyinggung permasalahan fiqh lainnya, juga mengutip pandangan-pandangan tokoh-tokoh yang memperkuat argumentasinya. Ia ingin meyakinkan bahwa urusan Islam bukan hanya urusan fiqh. Menurut Soekarno, ada urusan yang jauh lebih penting dari pada fiqh, apalagi fiqih yang salah kaprah. Pemahaman fiqh dan begitu ragam perbedaan pandangan fiqh dianggapnya mematikan semangat Al-Quran dan Api Islam. Bahkan Soekarno menilai, kadang pemahaman fiqh-fiqh itu bertentangan dengan roh Islam yang sejati.

Selain urusan fiqh, Soekarno juga membahas tentang sejarah Islam. Bahwa menurutnya, sebagai umat Islam harus memahami pelajaran besar dari Tarikh Islam. Sejarah Islam yang digambarkan Soekarno bisa terbang tinggi dengan tauhid dan roh etik Islam yang menyala-nyala. Orang Islam harus paham dengan Islam-nya sendiri, juga tidak mengerdilkan semangat Islam yang luas itu.

Di akhir tulisannya (Soekarno, 2017: 190), Soekarno berujar: “Janganlah kita kira diri kita sudah mukmin, tetapi hendaklah kita insyaf, bahwa banyak di kalangan kita yang Islamnya masih Islam Sontoloyo!”.

*Ketua Umum PW GPII Jabar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.