“Citarum Harum” Jihad Lingkungan Kita Bersama!

2 Januari 2019 / 01:04 Dibaca sebanyak: 106 kali Tulis komentar

BUMI dan alam Jawa Barat adalah tempat yang luar biasa indah Allah berikan kepada manusia. Bahkan indahnya Parahyangan, terucap dalam ungkapan penyair Mesir : “Allah ciptakan saat Tuhan tersenyum”.

Bumi dan alam sejatinya harus kita maknai sebagai rumah. Rumah tempat berteduh, istirahat dan beribadah. Namun rasanya kita belum memperlakukan rumah kita dengan rasa cinta dan hormat, bahkan lebih dari itu cenderung hanya menjadi objek eksploitatif semata.

Hampir sebagian besar masyarakat bahkan para pengusaha memperlakukan sungai adalah beranda belakang rumah, bukan beranda depan. Sehingga sungai dapat dijadikan tempat pembuangan limbah yang kotor bahkan berbahaya.

Sungai Citarum yang memiliki nilai historis, peradaban bahkan menjadi urat nadi kehidupan jutaan masyarakat Jabar dan DKI, sumber tiga pembangkit listrik tenaga air mendapat predikat Sungai yang dikategorikan sebagai salah satu sungai tercemar dan tekotor di dunia ini yang terjadi akibat ulah manusia itu sendiri.

Maka diperlukan jihad kita semua untuk membangun harmoni, bergandengan tangan bersinergi merawat sungai dan sumber daya alam lainnya. Merawat dan menjaga sumber daya alam alam, hakekatnya adalah bagian penting menjaga NKRI.

Hampir satu tahun berjalannya Program Citarum Harum, terlepas dari kekurangan yang ada, kita harus syukuri dan apresiasi pada pihak yang menginisiasi, konseptor dan para pejuang dari unsur pemerintah, TNI dan masyarakat yang telah menumbuhkan optimisme baru. Bahkan telah menghidupkan kesadaran (awareness) akan pentingnya merawat sungai dan lingkungan.

Juga telah tumbuh kebersamaan dalam visi dan aksi antar seluruh komponen masyarakat, akademisi, pegiat lingkungan, agamawan, budayawan dalam melaksanakan program bersama. Dan tinggal dikembangkan hadirnya komitmen manajemen program yang didasari spirit penjaminan mutu (continous improvement) spirit untuk senantiasa menghadirkan evaluasi perbaikan, penyempurnaan dari langkah langkah program sebelumnya. Tanpa harus menghilangkan peran peran sebelumnya yang positif.

Secara objektif sebelum hadirnya program Citarum Harum, aura pesimisme lebih menyelimuti ihtiar untuk memperbaiki sungai Citarum. Mengingat kompleksitas masalah Citarum demikian terstruktur, sistimatis bahkan massif. Seperti mengurai benang kusut saja: Tak tahu dari mana harus memulai, bagaimana harus memulai, siapa yang harus memulai, dengan cara apa harus memulai.

Optimisme baru mulai terbit untuk membenahi sungai Citarum dengan hadirnya Program Citarum Harum yang secara normative diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum

Tiga Tantangan Bersama
Dari perspektif manajemen untuk keberhasilan program Citarum Harum tentu diperlukan kesungguhan dengan melakukan perubahan besar terkait aspek regulasi, struktural dan tentu aspek kultural dalam program yang komprehensif.

Aspek regulasi yang menjadi payung hukum program Citarum Harum yaitu Perpres 15 tahun 2018, telah menjadikan landasan hukum yang kokoh untuk semua pihak bergerak. Yang rintisannya sudah dimulai sejak bulan November 2017, yang digagas oleh Mayjen Doni Monardo saat menjadi Pangdam III Siliwangi.

Hadirnya Perpres nomor 15 tahun 2018, menjadikan upaya penataan termasuk penegakan hukum mulai berjalan yang semula dikesankan berjalan mandul dikarenakan aturan hukum yang ada masih belum menjadi rujukan yang kuat untuk menjerat para penjahat lingkungan selain upaya penegakan hukum itu sendiri yang terkesan kurang optimal.

Meski bukan bidangnya Prajurit TNI dari Kodam III Siliwangi, yang terjun langsung turun ke lapangan, mengecek instalasi pembuangan limbah milik perusahaan dan pabrik. Perusahaan nakal pun diperingatkan, bahkan hingga dicor semen dan blokade pembuangan limbahnya, untuk yang masih membandel.

Sebagai sebuah strategi awal shock terapi bagi upaya penegakan dan membangun kesadaran hukum adalah efektif. Namun kedepan membangun kesadaran dan pranata hukum masyarakat untuk tidak merusak lingkungan adalah hal utama yang harus kita bangun bersama.

Aspek kultural, atau budaya adalah hal tersulit karena terkait perilaku budaya tertib dan bersih dari masyarakat bahkan perilaku dunia industri yang masih menjadi penyumbang masalah terbesar pencemaran Citarum.

Hal terpenting dalam pendekatan ini adalah memandang masyarakat sebagai subjek dan bukan objek dalam upaya merubah kultur masyarakat agar mampu tertib untuk tidak merusak lingkungan

Mari kita rawat fondasi niat baik, pondasi kearifan, pondasi regulasi, pondasi kerjasama, pondasi harmoni, pondasi program yang sudah terbentuk untuk dijaga, demi kepentingan memuliakan sungai dan alam.

Kami berharap Gubernur sebagai Dan Satgas, dalam mengembangkan struktur organisasi, mengawalinya dengan kajian akademik untuk membuat struktur yang tepat yang mampu menjawab tantangan tugas. Dan tentu yang juga penting adalah menempatkan personil bukan karena pertimbangan politik atau subjektif namun pertimbangan kompetensi dan komitmen terbaiknya yang menjadi pilihan utama.

Dan hal terpenting juga adalah melibatkan secara tulus dan signifikan peran serta masyarakat, akademisi, pegiat lingkungan dengan ruang ekspresi dan ruang dialog memadai dan kontruktif, tidak sekedar pelengkap semata. Karena sesungguhnya di era demokratisasi peran pemerintah bukan segalanya. Dan tidak bermakna signifikan kalau hanya berjalan sendiri sendiri.

Dalam kerangka penegakan hukum, pihak kepolisian sebagai leading sektor, bersinergis bersama kejaksaan termasuk TNI, akademisi, pegiat lingkungan untuk mampu mengambil langkah besar dalam upaya membangun kesadaran dan pranata hukum lingkungan yang hadir ditengah tengah masyarakat.

Mari kita kembangkan filosofi “Hablum minal Alam” yang merupakan kearifan lokal dengan pendekatan blue ocean strategi, dalam menyikapi aura dunia yang serba berkompetisi menuju terwujudnya harmoni bagi tumbuhnya sinergi merawat alam

Wantannas menawarkan gagasan strategis bagi solusi besar terhadap konservasi alam merujuk pada model sinergi pentahelix. Konsep modern yang hakekatnya sejalan dengan pitutur “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”, yang mengandung makna bahwa kerukunan menumbuhkan kekuatan, perpecahan menumbuhkan kerusakan.

Sinergi pentahelik berwujud harmoni dan sinerginya unsur akademisi, pemerintah, komunitas, unsur bisnis dan unsur media dalam wujudkan tujuan bersama. “Basam Mako Manjadi.”

Juga mari kita resapi filosofi tatar Sunda “sareundeuk saigel, sabobot sapihanean” yang memberi pesan positif kepada kita semua dalam ihtiar menyelesaikan masalah untuk mengutamakan kebersamaan, harmoni, sinergi dan tentu dengan mengharap ridha Allah SWT.

Penulis:

Dr. Eki Baihaki, M.Si
Ketua Citarum Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.