DR. Dewi Sartika: Era Revolusi Industri 4.0, Mata Pelajaran Harus Banyak Penyesuaian

19 Januari 2019 / 17:49 Dibaca sebanyak: 9 kali Tulis komentar

BANDUNG, LJ – Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar beserta jajaran bekerjasama dengan Disdik Kabupaten/kota se Jabar, dibawah kepemimpinan Gubernur Jabar Ridwan Kamil akan bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan IPM (Indek Pembangunan Manusia) dan APK (Angka Partisipasi Kasar). Untuk mengejar ketertinggal IPM dan APK tentunya yang utama adalah meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di lingkungan internal dan eksternal. Untuk itu, Disdik Jabar akan menggenjot SDM.

Demikian hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jawa Barat DR. Dewi Sartika yang akrab disapa Ike kepada wartawan Jabar Media Group di ruangannya Jl Rajiman No.6, Bandung, Jumat (18/1/2019). Ineu juga mengakui bahwa IPM Jabar saat ini baru mencapai angka 70,69 sedangkan IPM Nasional 70,81. Jadi IPM Jabar masih dibawah sedikit IPM Nasional.

“Ada tiga indikator penentuan IPM yaitu Ekonomi (Daya beli masyarakat); Pendidikan dan Kesehatan. Bidang Pendidikan ini tentunya menjadi tanggungjawab kita, untuk itu, program-program dari Disdik Jabar harus bertujuan untuk meningkatkan IPM Bidang Pendidikan,” kata Ike.

Dikatakan, untuk mengejar IPM Bidang Pendidikan, Gubernur Jabar Ridwan Kamil telah meluncurkan beberapa program inovasi yang cukup brilian seperti, Program Ngabring ka Sakola; Program Jabar Masagi; Program Sekoper Cinta; Program Kolecer dan Candil; Program Jabar Quick Response. Bahkan masih ada beberapa program lagi yang akan diluncurkan pak Gubernur Emil. Semua program yang diluncurkan tentunya bertujuan untuk meningkatkan IPM, walaupun tidak semua tanggungjawab Disdik Jabar tapi ada juga di OPD lainnya.

Selaku leading sektor yang bertanggungjawab terhadap Pendidikan Disdik Jabar bekerjasama dengan Disdik Kab/kota se Jabar, untuk bersama menggenjot SDM demi mengejar ketertinggalan angka IPM Nasional. Adapun terkait dengan Angka Partisipasi Kasar (APK), dimana APK Jabar baru mencapai 81,25 sedangkan APK Nasional sudah diangka 86,94, ini menunjukan APK Jabar masih jauh dibawah APK Nasional. Hal ini, menjadi tanggungjawab bersama, bukan hanya Disdik Jabar

“Memang APK SLTA merupakan tanggungjawabnya ada ditingkat Provinsi, namun, untuk mencapai peningkatan APK tentunya tidak terlepas dari singkronisasi ditingkat PAUD, SD dan SLPT. Untuk itu Pemprov Jabar tidak bisa hanya membatasinya hanya sesuai kewenangannya saja, tetapi harus menyeluruh,satu kesatuan antar Provinsi dan Kabupaten Kota,” jelasnya.

Lebih lanjut Ike mengatakan pada tahun 2019 ini sampai akhir pemerintahan Gubernur Jabar Ridwan Kamil, pemprop akan kejar APK dan harus optimis dapat melampaui dari APK Nasional untuk SMA.

Diungkapkannya, ada beberapa persoalan seperti jumlah guru yang memang belum sesuai dengan anak didik, jumlah sekolah dan jumlah murid yang belum sesuai termasuk juga soal sarana-prasarana sekolah dan lingkungan menyinggung faktor dan kendala sehingga APK Jabar jauh dibawah Nasional.

Selain itu, kendala lainnya, mutu pendidikan di Jawa Barat juga masih kurang, sehingga perlu segera ditingkatkan karena kita akan dihadapkan pada era revolusi Industri 4.0. Selain itu, posisi dirinya yang baru beberapa pekan menjadi Kadisdik Jabar yakin sebab semua teman dari masing-masing bidang seperti Balai, Kantor Cabang Daerah (KCD) siap membantu.

Pada tingkat SMK, untuk mengatasi Era Revolusi Industri, menurut Ike mata pelajaran harus disesuaikan dengan optekernya. Maksudnya, lanjutnya, industri mengingatkan mata pelajaran apa yang tengah dibutuhkan dalam dunia kerja, lalu kita menjabarkannya lewat kurikulum.

“Kalau dulu itu, kita yang menentukan mata-mata pelajaran, kalau sekarang dibalik, jadi kita bekerjasama dengan industri-industri. Jadi kita bekerjasama dengan industri-industri, industri menginginkan apa mata pelajarannya, kemudian balik ke kita dan kita sesuaikan,” terangnya.

Dalam hal peningkatan mutu pendidikan di Jabar, kita juga terus berupaya menjalin kerjasama dengan pelaku industri. Bahkan pihaknya juga, menjalankan kerjasama dengan beberapa negara dengan cara mengirim para guru dan tenaga kependidikan ke berbagai negara termasuk juga pertukaran anatar pelajar. (Ihsan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.