Legislator FPAN: Proses Sejarah Kebangsaan Harus Dipahami Secara Utuh

19 Januari 2019 / 17:41 Dibaca sebanyak: 73 kali Tulis komentar

GARUT, LJ – Bangsa yang bijak adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Mengapa sebagai bangsa Indonesia harus mengenal sejarah sendiri? Sebab ada ungkapan bijak yang mengatakan “history repeats itself” atau sejarah itu berulang kembali.

Selain itu, dengan mempelajari catatan sejarah, tentunya diharapkan akan lebih menghargai apa yang dimiliki sebagai bangsa. Disamping pula menghargai betapa besar perjuangan para pahlawan terdahulu dalam merebut kemerdekaan.

“Para pahlawan dengan segenap jiwa raganya berani mengorbankan harta dan nyawa. Semua itu harus kita sadari, hormati dan kita jadikan teladan dalam hidup,” papar anggota MPR RI, Haerudin, S. Ag. MH dalam keterangan persnya saat sosialisasi empat pilar yang digelar di Pesantren Persatuan Islam (Persis) Cioyod Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut, Sabtu (19/1/2019).

Proses sejarah kebangsaan, menurutnya harus dipahami secara utuh. Sebab, sambungnya dalam sejarah kebangsaan tersurat dan tersirat upaya para pendahulu dalam mempersiapkan generasi yang paham tentang nilai-nilai Islam juga memiliki paham Indonesia.

“Seperti pendahulu Allahu yarham, sosok M. Natsir merupakan seorang tokoh yang dengan mosi integralnya dapat menyatukan Indonesia,” terang legislator dari Fraksi Partai Amanat Nasional ini.

Untuk itu, ia menilai dalam memahami empat konsensus kebangsaan sama halnya memahami sejarah Indonesia.

“Kemajuan saat ini, tidak bisa lepas dari campur tangan perjuangan orang-orang dulu, nenek moyang. Jadi, tak mungkin membuang hasil masa lampau. Sebab, kemajuan sekarang adalah akumulasi hasil-hasil perjuangan-perjuangan masa lalu. Dengan kata lain, sejarah harus dikenang dan diabadikan,” tegas Haerudin yang kembali masuk dalam daftar calon legislatif untuk Dapil Jabar XI.

Ia menilai, dengan sejarah seseorang bisa tahu kejadian masa lampau. Lewat sejarah pula orang Indonesia bisa menikmati kehidupan damai dan tenteram sekarang.

“Jadikanlah sejarah sebagai pembelajaran untuk menemukan pengetahuan baru untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dan penuh kerukunan,” pesannya.

Sementara itu, dalam kesempatan itu Ketua Pimpunan Daerah (PD) Persis Kab. Garut KH. Ena Sumpena warga Persis diharapkan harus mampu memahami tentang konstitusi negara. Selain juga harus mengetahui terkait hak dan kewajibannya sebagai warga bangsa.

“Islam mengajarkan bernegara. Tujuannya agar umat Islam bahagia di dunia dan ahirat kelak,” dihadapan ratusan peserta yang kebanyak merupakan santriwan dan santriwati pesantren.

Saat sesi dialog, panitia sempat dibuat kewalahan akibat banyaknya peserta yang antusias mengacungkan tangan untuk bertanya. Kendati akhirnya semua aspirasi dan pertanyaan terjawab tuntas.
Tampak hadir pengurus PD Persis, Ustadz Fahmi serta tokoh masyarakat setempat.

Sedang Ketua Pelaksana, Dede Muman menandaskan kegiatan dilangsungkan guna memberikan pencerahan dan edukasi kepada para santri tentang bagaimana hak dan kewajiban sebagai warga negara. (San)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.