,

Ikhwan Fauzi Jelaskan PPDB Jadi Titik Krusial Tiap Tahun

20 Februari 2019 / 12:05 Dibaca sebanyak: 5 kali Tulis komentar

BANDUNG, LJ – Anggota Komisi V DPRD Jabar, dr.H. Ikhwan Fauzi, M.Kes dari Fraksi PDIP asal daerah pemilihan Jabar I ( Kota Bandung dan Cimahi) mengatakan, setiap kali melaksanakan kegiatan reses, aspirasi yang disampaikan masyarakat tidak terlepas dari persoalan Pendidikan, Kesehatan, Ketenagakerjaan dan masalah sosial. 

Aspirasi serupa juga disampaikan masyarakat dan konstituennya ketika dr.Ikhwan Fauzi melakukan kegiatan Reses I tahun sidang 2019, di RT 06 RW 7 Kampung Cimaung, Kel. Tamansari. Kec. Bandung wetan, Kota Bandung. Rabu, (20/2). 

Menurut Ikhwan, aspirasi yang disampaikan masyarakat tersebut, memang sangat berkaitan dengan tufoksi Komisi V (yang membidangi Kesra- Pendidikan, Kesehatan, Ketenagakerjaan, Kepariwisataan dan Sosial). 

“Pada intinya tadi saya menjelaskan kepada warga bahwa komisi V yang membidangi pendidikan kesehatan dan tenagakerja, sosial, sehingga yang harus saya beritahukan yang paling dekat adalah PPDB itu jadi titik krusial tiap tahun,” ujarnya saat ditemui usai bersilaturahmi dengan warga kampung yang ada disekitar pusat bisnis jl. Cihampelas ini. 

Dijelaskannya, Sekarang ini sistemnya (PPDB) kan berubah, sistem zonasi kemarin-kemarin ada beberapa kriteria, sekarang kriterianya jadi sempit. 

“Kita berharap regulasi PPDB 2019 yang akan dikeluarkan oleh Gubernur dapat meminimalisir persoalan-persoalan yang kerap kali terjadi ditengah masyarakat pada penerimaan siswa baru,” terangnya.

Sebenarnya Pemerintah terus memperbaiki sistem PPDB, namun masih kurangnya sosialisasi kepada masyarakat, akhirnya sistem zonasi dapat menyebabkan terjadinya konflik.

“Untuk itu, sebagai wakil rakyat berkewajiban turut mensosialisasikan sitem PPDB yang terus berubah. Perubahan kebijakan tentunya memerlukan adanya diseminasi informasi yang harus sampai kepada masayrakat. “Hal ini penting!”, tegas Ikhwan. 

Adapun terkait ketenagkerjaan, Ikhwan menyoroti, bahwa kini banyak lulusan SMA yang terserap bekerja dibandingkan lulusan SMK, sehingga kita berpikir ulang. 

“Karena orang masuk SMK kan ingin kerja, tetapi kenyataannya, banyak lulusan SMA yang diterima kerja,” pungkasnya. (Ihsan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.