
KAB. BANDUNG, LINTAS JABAR – Pimpinan Jamaah Persatuan Islam (PJ Persis) Kamasan – Banjaran Kabupaten Bandung menggelar Musyawarah Jamaah (Musjam) ke VI yang berlangsung di Masjid Persis Kamasan, Minggu (7/12/2025).
Di ruang yang sederhana itu, para peserta musyawarah tampak khidmat saat menggelar rapat. PJ Persis Kamasan merupakan anggota resmi baru dengan jumlah sebanyak 12 orang dengan dua otonom, terdiri dari Persistri dan Pemudi Persis.
Namun demikian, pembahasan rapat pada musyawarah tersebut lebih dinamis terlebih memasuki pembahasan Bab 1 sampai Bab 4 yang mengalir tanpa jeda. Terlihat jelas, kendati memiliki jumlah yang relatif sedikit namun justru tak menunjukkan energinya mengecil.
Para peserta seolah dituntut untuk menimbang ulang cara-cara memperluas basis jamaah, memperkuat kader, dan menyambung ikhtiar yang selama ini dirintis Pimpinan Cabang (PC) Persis Banjaran.
Bukan tanpa alasan, sebab upaya “menghidupkan kembali denyut kaderisasi” memang menjadi agenda besar PC Persis Banjaran setahun terakhir. Dari sejumlah titik ranting yang sempat meredup kemudian didampingi kembali, salah satunya termasuk PJ Persis Kamasan.
Hal itu diungkapkan Ketua PC Persis Banjaran, Ustaz D. Pandi saat menghadiri Musjam PJ Persis Kamasan yang mengusung tema “Meningkatkan partisipasi anggota untuk membentuk kaderisasi dalam jam’iyah,”.
Dikatakannya, sebagai program kaderisasi, para pengurus cabang Persis Banjaran acap turun bergiliran ke lapangan guna mengisi halaqah, menata ulang administrasi, sampai menjemput satu per satu anggota yang lama absesn.
Hingga akhirnya, ikhtiar itu berbuah hasil kendati pelan tetapi cukup jelas. Karrnanya para jamaah yang dinilai minoritas pun memiliki hak tumbuh dengan cara yang bermartabat.
“Di wilayah Kamasan, pekerjaan merintis itu diteruskan oleh PJ setempat. Rapat-rapat kecil, pembinaan rutin, dan penyiapan struktur otonom menjadi langkah awal agar jamaah tak hanya bertahan, tetapi bergerak,” jelasnya.
Karena itu, Musjam VI ini terasa seperti babak baru. Pemilihan pimpinan jamaah dilakukan melalui voting terbuka. Dari proses yang cepat tetapi hangat, hingga akhirnya terpilih sosok Agus Cudiarsa sebagai Ketua Pimpinan Jamaah Persis Kamasan masa jihad 2025–2028. Sementara itu, nama Drs. Aa Wahyudin didaulat sebagai penasihat. Usai keputusan musyawarah diambil, lantas Wakil Sekretaris PC Persis Banjaran Agus Ismail Qurbani bertindak membacakan surat keputusan.
Masih menurut Ketua PC Persis Banjaran, Ustaz D. Pandi, dalam taujih atau sambutannya menyampaikan pesan yang tegas tetapi sangat berbobot.
“Ikhwatul iman, agenda jihad yang baru saja kita putuskan bersama-sama tadi, akan berjalan jika memang dikerjakan secara bersama-sama. Bukan oleh ketua sendiri, bukan oleh sekretaris sendiri. Semua harus bergerak. Agenda ini milik kita semua,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan: di dalam hidup berjam’iyah harus dilandasi keikhlasan. Karena jika tidak, sambungnya, akan menjadi kerugian besar.
“Kita bukan bekerja untuk jabatan, bukan untuk pujian, tetapi untuk Allah SWT. Jika niatnya salah, yang rugi kita sendiri. Dan tentu saja kita sadari bahwa sebagai tasykil, jam’iyah ini tidak memiliki anggaran seperti perusahaan. Tidak ada honor, tidak ada fasilitas berlebih. Oleh sebab itu, jurus tombok, mengeluarkan dana dari kantong pribadi untuk kepentingan dakwah, itu menjadi keharusan. Itulah pengorbanan riil yang harus kita siapkan. Siap atau tidak, begitulah jihad di Persis,” tegasnya diiringi anggukan para peserta saat itu.
Suasana pun berubah hening ketika bai’at tasykil dimulai. Ustaz D. Pandi berdiri di depan barisan pimpinan terpilih. Sebelum bai’at diucapkan, ia kembali mengingatkan pesan kepada para pengurus PJ Persis Kamasan yang akan dilantiknya.
“Ini bukan sekadar seremonial. Bai’at adalah janji kepada Allah SWT. Jika berkenan, mari ikuti dengan sepenuh hati,” ujarnya.
Saat itu tampak para pengurus menunduk, mengikuti kalimat bai’at satu per satu dengan suara mantap. Di ruangan kecil itu, komitmen terasa lebih padat daripada jumlah peserta.
Musjam VI kemudian ditutup dengan pesan yang sama, bahwa kaderisasi bukan pekerjaan besar yang menuntut jumlah besar. Sebab kaderisasi tumbuh dari tekad dan konsistensi.
Bagi Ketua PJ Persis Kamasan masa jihad 2025–2028 Agus Cudiarsa, Kamasan akan mulai melangkah dengan kekuatan seadanya, walau secara kuantitas keanggotaan tak begitu banyak. Tetapi dirinya bertekad untuk memulai.
Di tengah kondisi jamaah yang masih muda secara jumlah, Musjam VI Kamasan menjadi penegas bahwa gerakan kaderisasi bisa mulai dari titik yang paling sederhana: sebuah masjid, dua otonom, dan belasan anggota yang sepakat untuk melangkah bersama. (Herdi)












