Opini  

Agama Memandu Peradaban: Ketika Kampus Kehilangan Arah

Refleksi atas Krisis Orientasi Perguruan Tinggi Keagamaan

Reportase Khusus: Herdiana (Ka. Biro Kabupaten Bandung Lintas Jabar)

Ada pertanyaan yang jarang benar-benar diajukan di lingkungan pendidikan keagamaan: sejauh mana kita sudah menjawab persoalan yang terjadi di luar pagar kampus?

Pertanyaan itu muncul dalam perbincangan panjang saya bersama Ketua Umum IKA IAI Persis Bandung, Muhammad Hoerudin Amin, S.Ag., M.H. yang juga anggota Komisi X DPR RI. Legislator dari Fraksi PAN yang berlatar belakang santri sebab tumbuh dari tradisi pesantren Persis Cikajang Garut, serta berlatar sarjana Komunikasi dan Penyiaran Islam, dan magister hukum.

Pada saat itu, Ia tidak berbicara dengan nada menyalahkan. Justru sebaliknya — dari rasa memiliki yang dalam terhadap lembaga pendidikan Islam, ia mengajukan sebuah kalimat yang sederhana namun berat:

“Agama memandu peradaban.”

Bukan slogan. Ini adalah kritik. Dan sekaligus, undangan.

Kampus di Tengah Masalah yang Bukan Urusannya

Di sekitar banyak perguruan tinggi — termasuk perguruan tinggi keagamaan — terdapat kemiskinan, pengangguran, kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan disorientasi moral yang kian kompleks. Namun tidak jarang semua persoalan itu berjalan seolah tidak ada hubungannya dengan aktivitas akademik di dalam kampus.

Kampus hadir secara fisik. Tetapi belum tentu hadir secara sosial. Kampus hadir sebagai institusi. Tetapi belum tentu hadir sebagai solusi.

Inilah yang Kang Hoer sebut sebagai hilangnya kesadaran ruang — sebuah kondisi di mana perguruan tinggi lebih mengenal instrumen akreditasinya daripada kebutuhan masyarakat sekitarnya; di mana penelitian lebih mengejar angka publikasi daripada penyelesaian masalah nyata.

“Ini bukan krisis ilmu. Ini krisis orientasi,” ucapnya di kediamannya di kawasan Soreang Kabupaten Bandung beberapa waktu lalu.

Ketika Fakultas Menjadi Sekat

Kang Hoer juga menunjuk kecenderungan lain: kampus terus memperluas fakultas dan program studi, tetapi nyaris tanpa upaya membangun keterhubungan antarilmu.

Setiap fakultas berjalan dengan logikanya sendiri. Setiap disiplin merasa cukup dengan dunianya sendiri.Padahal kehidupan tidak pernah berjalan dalam bentuk fakultas.

Kemiskinan tidak hanya membutuhkan ilmu ekonomi — ia juga membutuhkan komunikasi, hukum, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan nilai moral yang mampu menggerakkan perubahan. Kerusakan lingkungan tidak cukup diselesaikan oleh teknologi semata — ia membutuhkan kesadaran etis, regulasi, dan kepemimpinan sosial.

Persoalan kehidupan selalu bersifat multidimensional. Ilmu yang hendak menjawabnya pun harus mampu saling terhubung. Ketika kampus gagal membangun keterhubungan itu, yang lahir adalah lulusan-lulusan yang ahli dalam bidangnya masing-masing, tetapi kerap tidak mampu membaca persoalan secara utuh.

Menguji “Wahyu Memandu Ilmu”

Dalam konteks inilah Kang Hoer menyinggung sebuah slogan yang sudah lama menjadi identitas salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Jawa Barat: Wahyu Memandu Ilmu.

Secara konseptual, slogan itu kuat. Ia mengandung gagasan bahwa ilmu tidak boleh kehilangan arah moral dan spiritual. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah wahyu benar-benar memandu ilmu, ataukah ia sudah berhenti menjadi slogan kelembagaan?

Jika wahyu benar-benar memandu, maka ilmu yang lahir darinya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Wahyu mengajarkan keterhubungan, kesatuan, dan kemaslahatan. Maka ilmu yang dipandu wahyu semestinya melahirkan sintesis — bukan sekadar spesialisasi.

Karena itulah Kang Hoer memperluas cakrawala: bukan hanya “wahyu memandu ilmu”, melainkan agama memandu peradaban. Sebab ilmu hanyalah satu unsur peradaban. Di luar ilmu, masih ada politik, ekonomi, hukum, budaya, dan lingkungan — yang semuanya juga membutuhkan panduan nilai.

Tafsir yang Berdialog dengan RealitasKang Hoer juga mengingatkan bahwa seorang mufasir tidak boleh terkurung dalam ilmu tafsirnya sendiri. Al-Qur’an tidak diturunkan untuk hidup di rak-rak perpustakaan. Ia diturunkan untuk membimbing manusia dalam menghadapi persoalan kehidupan yang nyata.

Karena itu, seorang mufasir tidak cukup memahami teks — ia harus memahami konteks. Ia harus memahami masyarakat, memahami perubahan zaman, dan memahami tantangan kemanusiaan yang terus berkembang.

Tafsir yang hanya berbicara kepada dirinya sendiri akan kehilangan daya transformasinya. Sebaliknya, tafsir yang mampu berdialog dengan realitas akan menjadi sumber inspirasi bagi perubahan sosial.

Dari Politik Kepentingan ke Politik Kebijaksanaan

Ada satu perbedaan mendasar yang diajukan Kang Hoer — dan ini melampaui dunia kampus.

“Politik kepentingan bertanya: apa yang menguntungkan kelompok saya?”

Politik kebijaksanaan bertanya: apa yang bermanfaat bagi masyarakat?

Dua pertanyaan yang tampak mirip, tetapi menentukan arah yang berbeda sepenuhnya. Banyak institusi — termasuk institusi pendidikan — mengalami kemunduran karena dikuasai logika kepentingan. Kebijakan dibuat untuk melayani kelompok. Ilmu pengetahuan pun kadang diarahkan untuk memenuhi agenda tertentu.

Dalam tradisi Islam, ukuran utama kebijakan adalah kemaslahatan — bukan keuntungan kelompok, melainkan manfaat yang seluas-luasnya bagi kehidupan bersama.

Mengembalikan Kampus kepada Misinya

Agama tidak diturunkan sekadar untuk menghasilkan kesalehan personal, mengatur ritual, atau menjadi identitas kelembagaan. Agama hadir untuk memandu kehidupan manusia — cara membangun ilmu, menggunakan kekuasaan, mengelola sumber daya, dan membangun hubungan sosial.

Singkatnya: agama memandu peradaban.

Maka tantangan terbesar perguruan tinggi keagamaan hari ini bukan membangun gedung baru atau memperbanyak program studi. Tantangan terbesarnya adalah mengembalikan keterhubungan antara ilmu dan kehidupan — mengembalikan kampus kepada masyarakat, penelitian kepada kebutuhan umat, dan pendidikan kepada misi kemaslahatan.

Kampus yang kehilangan kesadaran ruang hanya akan melahirkan sarjana yang kehilangan kesadaran sosial. Sebaliknya, kampus yang menyadari ruang hidupnya akan tumbuh menjadi pusat ilmu yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memakmurkan.

Saya menulis ini bukan sebagai orang luar. Saya sendiri dibentuk oleh tradisi pendidikan Islam dan menempuh studi di lingkungan perguruan tinggi keagamaan. Kegelisahan ini lahir dari rasa memiliki — karena saya tahu betapa besar potensi yang dimiliki lembaga-lembaga ini, dan betapa sayang jika potensi itu hanya berputar di dalam dirinya sendiri.

Jika agama benar-benar memandu peradaban, maka kampus-kampus keagamaan harus menjadi lokomotif yang menghubungkan wahyu, ilmu, dan kemaslahatan dalam satu tarikan napas sejarah.

Ukuran keberhasilannya bukan seberapa banyak lulusan yang dihasilkan, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh umat, bangsa, dan kemanusiaan.