Arif Hamid Rahman Tegaskan Penanganan Covid-19 Harus Masif

  • Bagikan

[lintasjabar tkp] Anggota DPRD Jawa Barat, H. Arif Hamid Rahman menegaskan pandemi covid-19 ini merupakan hal yang sangat serius dan belum pernah terjadi selama Indonesia berdiri. Maka, penanggulangannya pun harus masif guna menekan penyebaran virus tersebut.

Menurutnya, dalam Inpres 6 Tahun 2020, memberikan dukungan kepada penguasa sipil seperti gubernur dan bupati/wali kota, dalam mengawasi dan melaksanakan protokol kesehatan di masyarakat. Artinya, bahwa penanganan dengan keterlibatan TNI tidak bergerak sendiri secara institusional, tetapi di bawah koordinasi dan perintah penguasa sipil.

“Hingga hari ini kita masih mendapatkan fakta bahwa telah terjadi di beberapa daerah khusus di Kota Bandung peningkatan kasus angka positif, dan ini menjadi momok bagi warga,” urainya kepada lintasjabar.com Jumat malam (19/2/2021).


Namun demikian, sambungnya, dirinya mendorong Pemkot Bandung melalui Satgas Penanganan Covid-19 meningkatkan pengawasan hingga penindakan yang lebih tegas kepada pelanggar Protokol Kesehatan. Selain itu juga mengapresiasi langkah dengan penambahan ruang isolasi mandiri di Kota Bandung.

Sebelumnya, di tempat teripsah, Ketua Pelaksana Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bandung, Ema Sumarna mengatakan, kasus positif aktif di Kota Bandung bertambah sebanyak 1.440 kasus sejak 5 Februari 2021 sampai 18 Februari 2021. Sedangkan kasus yang meninggal dunia akibat Covid-19 bertambah sebanyak 22 orang, dari sebelumnya 203 orang kini menjadi 225 orang.

[xyz-ips snippet=”bacajuga”]

“Tapi secara kumulatif bisa disimpulkan terjadi penurunan sampai 7,43 persen,” kata Ema yang juga selaku Sekretaris Daerah Kota Bandung, usai mengikui Rapat Terbatas bersama Satuan Penanganan Covid-19 secara virtual di Balai Kota Bandung, Jumat 19 Februari 2021.

Berdasarkan hasil evaluasi selama dua pekan ke belakang, ada beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan kasus positif aktif di Kota Bandung. Di antaranya, disiplin masayarakat dalam menerapkan protokol kesehatan cenderung menurun.

Di samping itu, peningkatan tersebut juga karena Pemkot Bandung masif melakukan 3T (Testing, Tracing, Treatment). Bahkan, Pemkot Bandung merekrut 306 tenaga kesehatan tambahan untuk menggencarkan upaya tersebut. Termasuk meminta, kecamatan untuk menyiapkan tempat isolasi mandiri di wilayahnya. Pasalnya dari 30 kecamatan, baru 19 yang memiliki tempat isoman.

“Tempat isoman tidak bergejala masih penuh 100 persen, tapi kita sudah menambah 2 hotel. Hotel V ada 130 kamar dan hotel F ada 40 kamar,” tuturnya. (AdiPar/San)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan