Arif Tegaskan Oknum Guru Merudapaksa 12 Siswinya di Bandung Perbuatan Biadab

BANDUNG, LJ – Geger dan viralnya pemberitaan baik di media mainstream maupun informasi di media sosial terkait sosok pemilik Boarding School bernama Herry Wiryawan alias HW. Selain seorang guru dirinya pun pemilik yayasan yang menaungi boarding school tersebut.

anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, H. Arif Hamid Rahman, SH

Bagaimana tidak mengejutkan, perbuatannya meruda paksa sebanyak 12 anak didik atau siswinya yang kebanyakan masih di bawah umur. Akibat perbuatannya, delapan korban sudah melahirkan sementara dua orang sedang hamil.

Menanggapi kejadian itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, H. Arif Hamid Rahman, SH menyebut perbuatan tersebut sebuah kekejaman dan kebiadaban yang luar biasa. Bagaimana tidak, sambungnya, orangtua siswa menitipkan anak-anaknya ke sekolah bertujuan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, terciptanya kualitas pendidikan moral dan karakter yang agamis tetapi malah menjadi musibah bagi masa depan anak.

“Saya kira sangat biadab, perbuatan tak bermoral. Sosok guru seharusnya menjadi suri tauladan dan memberikan pengayoman dan pendidikan moral serta adab yang baik. Dan tentunya sangat paham dan tahu, orangtua siswa menitipkan anak-anaknya ke sekolah tersebut untuk mendapatkan pendidikan demi masa depannya,” tegasnya Arif yang juga anggota Komisi I ini, Senin 13 Desember 2021.

Arif menandaskan atas kasus tersebut, biarkan proses hukum berjalan atas tindakan asusila yang dilakukan oknum guru bernama Herry Wiryawan alias HW dan berharap bagi para korban mendapat rehabilitasi karena ia memandang secara psikologis korban yang berada di bawah umur tersebut akan merasa tertekan.

Sebelumnya, Kepala Divisi Pengawasan Monitoring dan Evaluasi (Kadivwasmonev) Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra menduga guru Boarding School yang telah memperkosa belasan siswinya sampai melahirkan anak di Bandung, Jawa Barat telah mencuci otak para santri.

“Artinya ada brainwash yang dilakukan pelaku, tentang tindakan kriminalnya. Sehingga para santrinya mau menerima, begitu juga para orang tua yang mungkin tahu anak-anaknya hamil,” ujar Jasra.

Bahkan Jasra juga menduga kasus ini kejahatan seksual ini tidak berdiri sendiri namun ada berkaitan bisnis atau suatu program sebab usaha pelaku sudah berlangsung lama tanpa ada yang melapor.

“Tanpa terdeteksi oleh regulasi pengawasan, tanpa orang tua korban melapor, tanpa tersentuh. Sedangkan eksploitasi seksual dalam rangka pesantren, menjadi kedok untuk memajukan usaha pelaku sudah berlangsung lama, bahkan ada 8 bayi, 2 santri hamil akibat perbuatannya,” imbuhnya. (AdiPar)