Bandung Eco Town Workshop – Eco Creative Fest Fair

  • Bagikan

BANDUNG (Lintasjabar.com),- Memaknai hari jadinya yang ke 200 tahun, Kota Bandung menguatkan ikhtiar membangun kota berwawasan lingkungan (Eco Town). Membangun kota yang didasarkan pada sinergitas penggunaan sumberdaya, manajemen sampah, perlindungan lingkungan selaras dengan pengembangan industri dan ekonomi. Konsep yang mempertimbangkan kondisi lingkungan, baik industri atau kawasan komersial maupun kawasan pemukiman dengan mereduksi dampak lingkungan dari aktivitas manusia dan industri agar keberlanjutan ekologis kawasan meningkat. Namun persoalannya, konsep ini belum banyak dimengerti, msih perlu sosialisasi.

Dalam kaitan itu terutama sebagai upaya sosialisasi konsep Eco Town, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung selama 2 (dua) hari menggelar Workshop dan Pameran Eco Creative Fair, di halaman parkir Balaikota Jalan Wastukancana. Dibuka resmi Wali Kota Bandung, H Dada Rosada, Selasa (21/9).

Acara ditandai pelepasan ikan pada kolam, pelepasan burung dan penanaman pohon di Taman Dewi Sartika Bandung serta uji emisi gas buang kendaraan bermotor gratis. Dalam kesempatan ini mobil Menteri juga ikut diuji dan dinyatakan lulus uji emisi.

Dada menuturkan, isu lingkungan hidup terkait langsung dengan kelangsungan hidup manusia secara global. Isu yang bukan sekedar bagaimana menanam pohon, memperluas ruang terbuka hijau dan mengurangi BBM, tapi bagaimana membangun budaya peduli lingkungan yang direalisasikan dalam aksi-aksi nyata.

Dada bersyukur, selama kepemimpinannya sejak 2003 hingga kini sudah tertanan sedikitnya 1,43 juta pohon, 78.151 sumur resapan dan menambah luas RTH dari 2 % menjadi 9,31 %. Diharapkan warga Bandung suatu saat nanti, benar benar mampu menyikapi dinamika lingkungan dengan baik. Memanfaatkan setiap jengkal lahan dengan menanam pohon, membuat sumur resapan, mengurangi volume dan memperlakukan sampah dengan baik dan benar.  “Biaya restorasi lingkungan jauh lebih besar dibanding manfaat ekonomi saat ini. Upaya realistis, mendayagunakan segala sumberdaya secara rasional. Karenanya budaya ramah lingkungan harus terus ditumbuhkan,” tandasnya.

Kota Bandung kini. Kata Dada, mengupayakan penataan lingkungan hidup yang revolusioner, dalam arti dilaksanakan secara massal dan serentak. Upaya diawali dengan kebiasaan buruk buang sampah sembarangan, mengolah sampah dengan pola 3 R (reuse, reduce, recycle), termasuk penerapan car free day serta kawasan bebas emisi.

Dada berharap, workshop melahirkan kesepakatan-kesepakatan untuk mengakselarasikan pemeliharaan dan penyelamatan lingkungan hidup. Begitupun dengan pameran Eco-Creatif Fair diharapkan dapat memberikan contoh serta menyuarakan upaya-upaya praktis yang menginspirasi dan bisa dilakukan siapapun.

Menteri lingkungan Hidup RI, Gusti Muhammad Hatta yang hadir dan larut dalam kegiatan menuturkan, Eco Town intinya adalah kondisi yang menggambarkan suasana kota bersih dan bebas dari polusi yang ditimbukan sampah dan zat ataupun gas yang membahayakan kesehatan manusia, lingkungannya indah, hujau dan rindang pepohonan indah, udaranyapun juga nyaman. “Ini yang kita jaga agar kita tetap sehat dan produktif,” tandasnya.

Dalam Eco Town, imbuhnya, mau tidak mau harus menata ruangnya dahulu. Dimana penempatan ruang terbuka hijau, dimana penempatan gedung dan industri-industri, bahkan bangunanpun kalau bisa eco green atau green building. “Maksudnya, gedung yang kita bangun sejak mendesain, penggunaan bahan-bahannya dan dalam operasinya ramah lingkungan serta hemat energi. Kalau perlu gedung itu kita gunakan dengan sumber tenaga matahari, minimal 10 persen, baru yang lainnya,” ujarnya.

KLH imbuh Gusti, akan terus konsisten dalam peningkatan kualitas lingkungan hidup disemua kawasan Indonesia. Mendorong kearah itu, satu upaya diantaranya melalui apresiasi Adipura bagi kota yang berhasil membangun lingkungan hidupnya. Bahkan penilaian akan dikembangkan dan ditambah, diantaranya meliputi pengelolaan kualitas air sungai dan udara. “Kota Bandung sementara ini yang harus ditingkatkan lagi, sebetulnya sampah. Kalau ini beres kelihatannya cantiklah Bandung,”.

Ketua Penyelenggara Kepala Bappeda Kota Bandung, H Taufik Rakhman menuturkan, Program Eco Town dirintis Kota Bandung sejak 2007. Eco Town merupakan jejaring kemitraan lingkungan (Eco-Partnership) antara Kota Kawasaki di Jepang dengan kota kota lain di Asia Pasifik lainnya, diantaranya Kota Bandung-Indonesia, Kota Penang-Malaysia, Kota Senyang-China, Kota Denang-Vietnam. Program terlaksana melalui fasilitasi Uniten Nation Environment Center (UNEP) dan Global Environment Center (GEC) yang berkedudukan di Osaka-Jepang.

Di 2009, Kota Bandung telah dipilih menjadi satu dari tiga kota percontohan pengembangan Eco-Town di kawasan Asia Pasifik dalam rangka menciptakan masyarakat yang berorientasi daur-ulang. Pada konsep baru ini, pengelolaan sampah diarahkan langsung pada penciptaan ekonomi kreatif berbasis pendekatan 3R.

Hal penting guna mengakselarasi bandung Eco Town, adalah sinergitas antara pemerintah, komunitas dan sektor swasta, serta adanya jejaring kemitraan lingkungan dengan berbagai tingkatan pemerintahan dan lembaga-lembaga internasional di dalam pelaksanaan program

Pameran Eco Creatif, kata Taufik, mendemonstrasikan inisiatif dan inovasi dari daerah, diikuti 42 peserta diantaranya komunitas, sekolah dan perusahaan yang terkait dengan 3 R serta menampilkan produk berwawasan lingkungan (Eco Friendly Products) khususnya dari perusahaan swasta. Bertujuan, tukar menukar informasi dan pengalaman di dalam pengembangan “masyarakat yang peduli daur ulang” pada komunitas dan perusahaan. (Herdi)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan