
Sebuah Catatan dari Ujung yang Terlupakan
Oleh: Nurdin Qusyaeri
LANGIT Pakenjeng sore itu menggantung kelam, seakan ikut menanggung beban warga yang hidup di bawahnya. Di balik punggung gunung yang hijau gemulai, tersembunyi Kampung Cipeundeuy, Dusun Sukamaju, Desa Sukamulya Pakenjeng Garut—sebuah titik kecil di peta Kabupaten Garut yang lebih sering absen dari perhatian.
Hari itu 2 hari jelang idul Fitri 1446 H, tanah berbatu di kampung itu akhirnya merasakan langkah seorang pemimpin. Bupati Abdusy Syakur Amin datang, menembus jalan setapak berkerikil tajam yang selama ini menjadi saksi bisu perjuangan warga. Delapan kilometer jarak yang memisahkan mereka dari jalan raya utama bukan sekadar angka, melainkan ukiran penderitaan yang harus ditempuh dengan motor yang sering kali harus dipaksa merangkak, dengan rantai melilit roda agar tak tergelincir di tanjakan licin.
Dari Panggadungan ke Cipeundeuy: Sejarah Pilu yang Berulang
Mereka—48 kepala keluarga—adalah korban pergeseran tanah di Panggadungan. Dipindahkan atas nama keselamatan, tapi kemudian terdampar di tempat baru yang tak jauh lebih baik.
Di Cipeundeuy, hidup berjalan dengan tempo lambat: bertani kapol dengan hasil yang pas-pasan, menjadi buruh tani dengan upah yang tak pernah cukup, atau berjalan jauh ke pasar hanya untuk menjual hasil bumi yang harganya tak sebanding dengan keringat.
Listrik? Baru tiga tahun lalu cahaya itu sampai ke kampung mereka. Tapi gelapnya kehidupan tetap sama.
“Ternyata Garut itu luas. Saya tidak menyangka ada kampung yang kondisinya seperti ini. Inimah Tung-tung Bulan, seperti pembuangan orang!” ujar Bupati, suaranya parau oleh kenyataan yang baru saja ia saksikan. Kalimat itu menggantung di udara, menusuk siapa pun yang mendengarnya.
Janji yang (Mungkin) Akan Mengubah Segalanya
Tapi hari itu, ada sesuatu yang berbeda. Bupati tidak hanya datang untuk melihat, tapi juga menjanjikan perubahan. Jalan sepanjang tujuh kilometer akan dibangun pada tahun 2025, menghubungkan kampung Cipeundeuy ke pemandian Cipanas, Tirta Angsana.
Bagi warga, jalan itu bukan sekadar aspal—ia adalah urat nadi yang akan menghidupkan perekonomian, memendekkan jarak ke sekolah, ke puskesmas, ke pasar ke segala tempat yang selama ini terasa jauh.
Di SMP Yayasan As Syafiq, Bupati menyaksikan sendiri betapa pendidikan di sini bertahan hanya karena kegigihan Tetap Syafiq, M.Si., seorang tokoh muda yang menolak menyerah meski dengan segala keterbatasan.
Bantuan sarung dan uang tunai yang dibagikan mungkin tak seberapa nilainya. Tapi bagi warga yang selama ini merasa hanya menjadi angka di KTP, pemberian itu adalah pengakuan: bahwa mereka ada, bahwa jeritan mereka didengar.
Kunjungan yang Tak Diumumkan, Harapan yang Tak Disangka-sangka
Ada yang mengganjal. Kunjungan Bupati tak diumumkan sebelumnya. Tak ada penyambutan meriah, tak ada barisan anak sekolah yang melambai-lambaikan bendera. Padahal, bagi warga Cipeundeuy, kedatangan seorang pemimpin adalah peristiwa besar—seharusnya dirayakan dengan sukacita.
Tapi mungkin, justru ketiadaan seremoni itulah yang membuat kunjungan ini terasa lebih jujur. Keberpihakan sejati bukan terletak pada upacara, tapi pada langkah nyata. Dan di mata warga, kehadiran Bupati hari itu adalah bukti bahwa doa dan perjuangan mereka selama ini tidak sia-sia.
Sebuah Permulaan
Dalam sebulan memimpin, Bupati Abdusy Syakur Amin telah menorehkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar janji. Ia mengingatkan kita semua bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang keberanian melihat ke tempat-tempat yang selama ini diabaikan kemudian menghadirkan solusi terhadap kebutuhan warganya.
Di Kampung Tung-tung Bulan, di ujung Garut yang terlupakan, optimisme yang hampir padam itu mulai menyalak lagi—masih kecil, masih ragu, tapi nyata.
Mungkin, inilah awal dari sebuah perubahan.
*Penulis adalah putra asli kampung Cipeundeuy