
KAB. BANDUNG, LINTAS JABAR – Akhir pekan pertengahan Januari 2026 menjadi momen padat bagi Persatuan Islam (Persis) di Kecamatan Banjaran. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Musyawarah Jamaah (Musjam) digelar di tiga wilayah: Curug, Pangkalan, dan Cintaasih. Dua di antaranya, Pangkalan dan Cintaasih, berlangsung pada hari yang sama, Ahad, 18 Januari 2026, di lokasi yang saling berjauhan.
Situasi ini menempatkan Ketua PC Persis Banjaran pada posisi yang tidak sederhana. Ia harus hadir di dua Musjam sekaligus, dengan agenda yang sama pentingnya: membuka acara secara resmi di awal, dan memberikan taujih penutup pasca terpilihnya pimpinan jamaah. Bukan sekadar soal kehadiran fisik, melainkan menjaga psikologis jamaah agar tidak merasa dianaktirikan atau ditempatkan sebagai prioritas kedua.
Musjam V Persis Pangkalan digelar di Masjid Nashrulhaq, bertepatan dengan 29 Rajab 1447 H. Musjam ini mengusung tema “Menjadikan Jam’iyah sebagai Wasilah Meningkatnya Iman, Ilmu, dan Amal Shaleh.”
Dalam musyawarah tersebut, jamaah menetapkan Ustadz Hasan Nurdin sebagai Ketua, dengan Asep Sunarji Supriatna dan H. Engkos Kosasih sebagai Penasihat—sebuah keputusan yang mencerminkan kebutuhan pendampingan kolektif, ditandai dengan penetapan dua penasihat sekaligus.
Di hari yang sama, Musjam Persis Cintaasih juga berlangsung dan menghasilkan kepemimpinan baru. Bapak Asep Anwar terpilih sebagai Ketua Jamaah Persis Cintaasih, dengan H. Cepat sebagai Penasihat. Kedua musyawarah ini menjadi titik penting regenerasi dan konsolidasi jamaah di wilayah masing-masing.
Ketua PC Persis Banjaran berupaya hadir di kedua lokasi dengan membagi waktu secara ketat. Ia membuka Musjam di salah satu lokasi, kemudian berpindah untuk memastikan agenda pembukaan di lokasi lain tetap terlaksana secara resmi. Pada sesi akhir, ia kembali hadir untuk memberikan taujih pasca terpilihnya ketua dan penasihat jamaah. Upaya ini dilakukan bukan sekadar menjalankan formalitas struktural, melainkan menjaga rasa kebersamaan dan keadilan psikologis jamaah, bahwa setiap jamaah memiliki nilai yang sama dalam jam’iyah.
Dalam sambutan pembukaannya, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menggerakkan jam’iyah di tingkat PJ dan ranting, termasuk dukungan masyarakat dan aparat setempat. Ia juga menyinggung padatnya agenda kejam’iyahan yang kerap bertumpuk dalam satu waktu, sebagai konsekuensi dari dinamika organisasi yang hidup.
Sebagai bagian dari tahadduts bin ni’mah, ia menyampaikan pernyataan Ketua Umum PP Persis yang menjadikan PC Persis Banjaran sebagai role model pengembangan pimpinan cabang Persis di Indonesia. Namun ia menegaskan, capaian tersebut bukan alasan untuk berpuas diri. “Kita ini pelanjut, bukan sekadar pengikut,” ujarnya dalam salah satu sambutan, menekankan bahwa melanjutkan perjuangan berarti menjaga nilai, bukan hanya merawat struktur.
Pada sesi taujih penutup, Ketua PC mengingatkan bahwa apa pun kondisi yang dihadapi jamaah—baik keterbatasan, jarak, maupun tantangan internal—semuanya berada dalam ketetapan Allah. Mengutip penggalan ayat wajaahiduu haqqal jihaad, ia menekankan pentingnya istiqamah dalam menyebarkan ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Sunnah, meski dihadapkan pada kendala yang berulang.
Sebelumnya, Musjam IX Persis Curug yang digelar pada Jumat, 16 Januari 2026 di Madrasah Diniyah Curug, Desa Ciapus, telah lebih dahulu menetapkan Ustadz Dindin Nurdin sebagai Ketua dan Ustadz Ajun Junaedi sebagai Penasihat. Dengan komposisi jamaah yang didominasi generasi sepuh, Musjam Curug berlangsung khidmat. Ketua terpilih membacakan QS. Maryam ayat 96 dalam pidato iftitahnya, menegaskan bahwa cinta dalam jam’iyah adalah sumber ketenteraman dan kekuatan ruhani.
Rangkaian Musjam di Curug, Pangkalan, dan Cintaasih ini memperlihatkan satu benang merah: jam’iyah tidak hanya dijaga melalui keputusan organisasi, tetapi juga melalui kehadiran, keteladanan, dan kepekaan psikologis para pemimpinnya. Di tengah keterbatasan jarak dan waktu, upaya menjaga semua jamaah tetap merasa setara menjadi bagian dari ikhtiar merawat jam’iyah agar tetap hidup, bukan sekadar berjalan. (Herdi)












