
TASIKMALAYA, LJ – Pancasila puncak dialektika yang membutuhkan kekuatan gerakan aplikasi di lapangan.Berdiskusi Pancasila tentu akan mampu melahirkan keseimbangan wacana. Dan bicara Pancasila bisa menyeimbangkan antara perkataan dan wujud realisasi atas sebuah perbuatan.
“Karena ingat Pancasila, maka makin sering merenungkan Pancasila. Makin sering kita merenungkan Pancasila, ibarat menggali dalam hati tentang Pancasila dan isi yang terkandungnya,” terang anggota MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Muhammad Hoerudin Amin pada acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dihadapan warga Salawu Kabupaten Tasikmalaya, Minggu, 23 Juli 2023.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI digelar atas kerjasama dengan Yayasan Baetulrohman Kab. Tasikmalaya dan dihadiri Ketua Yayasan Baetulrohman Ustadz Aang Munawar.
Masih menurut Hoerudin yang juga anggota Komisi IV DPR RI ini, Pancasila itu adalah saripati dari pemahaman negara dan agama. Pancasila juga merupakan nilai-nilai luhur yang digali dari budaya bangsa di nusantara dan memiliki nilai dasar kehidupan manusia yang diakui secara universal dan berlaku sepanjang zaman.
Ditegaskan legislator PAN asal Dapil Jabar XI ini, Pancasila merupakan ideologi, pandangan dan falsafah hidup yang harus dipedomani bangsa Indonesia dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
“Pancasila itu puncak dialektika, saripati dari pemahaman negara dan agama. Sampai kemudian orang bentur-benturkan termasuk presiden sendiri terjebak untuk memisah-misahkan bahkan kemudian menjadi sebab adu domba dan perpecahan di masyarakat,” ujarnya menyayangkan.

Oleh karena itu, sambungnya, setiap warga negara dibutuhkan dimensi kognitif yang baik untuk dapat memahami dan mengerti apa sebenarnya Pancasila. Begitu pula pentingnya sejarah dalam mengimplementasikan nilai-nilai agama dan kebudayaan yang berpuncak pada diri Pancasila.
Menyadur Donald K. Emmerson seorang Profesor Ilmu Politik di University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat, Hoerudin menjelaskan bahwa kunci sukses Indonesia membangun pluralisme di tengah keragaman identitas budaya adalah berkat ideologi Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
“Dengan keduanya, Indonesia juga dinilai dapat menjadi jembatan peradaban bagi dunia, dalam memaknai pluralisme,” tandasnya.
Hoerudin pun memandang bahwa masyarakat Indonesia haruslah bangga memiliki Pancasila yang diperkenalkan pertama kalinya oleh Presiden Soekarno pada 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI. Karena tidak hanya terbukti menyatukan dan menguatkan berbagai kemajemukan bangsa, tetapi Pancasila juga telah diakui berbagai kalangan dunia sebagai ideologi terbesar pada abad ke-21.
“Prinsip Indonesia sebagai negara ‘bhineka tunggal ika’ mencerminkan bahwa meskipun Indonesia adalah multikultural, tetapi tetap terintegrasi dalam keikaan dan kesatuan,” pungkasnya. (Dent)












