Kegelisahan Pius Lustrilanang Gamblang Tertuang dalam Buku Aldera

Dr. Pius Lustrilanang S.IP, M.SI, CSFA, CFRA ketika memberikan paparan dalam acara Kuliah Umum dan Bedah Buku Aldera di Unpar, Rabu (7/12/2022).

BANDUNG, LJ – Animo peserta Kuliah Umum dan Bedah Buku Aldera tampak begitu besar, hal ini terlihat dari kapasitas kursi Auditorium PPAG Universitas Katholik Parahyangan (Unpar) Bandung terisi penuh, Rabu 07 Desember 2022.

Aldera atau Aliansi Demokrasi Rakyat sendiri diambil dari nama sebuah gerakan mahasiswa era 1990-an. Gerakan besar prodemokrasi yang berjuang bersama gerakan buruh, perempuan, agraria, lingkungan, masyarakat adat, dan gerakan demokrasi lainnya yang punya satu tujuan, meruntuhkan rezim otoriter dan korup bernama Orde Baru pada masa itu.

Dr. Pius Lustrilanang S.IP, M.SI, CSFA, CFRA adalah sosok dibalik yang pertama mengusulkan nama Aldera.

Sebelumnya Pius Lustrilanang yang saat itu salah seorang aktivis mahasiswa Unpar Bandung pun sebelumnya menginisiasi lahirnya Unit Studi Ilmu Kemasyarakatan (USIK). Bahkan USIK pun turut bergerak bersama jaringan aktivis mahasiswa lainnya di Jawa Barat dan Indonesia dalam memperjuangkan keadilan, demokrasi, dan HAM.

Gerakan ke-Indonesiaan yang muncul dari sebuah kegelisahan aktivis melihat tatanan negara saat itu. Hingga akhirnya dengan gigih memperjuangkan demokrasi, keadilan, dan hak asasi manusia.

“ALDERA, buku ini bukan sekadar catatan sejarah, tapi juga menginspirasi dan menumbuhkan semangat intelektual dalam menegakkan demokrasi, hak asasi manusia, dan supremasi hukum, ” tutur Pius Lustrilanang yang saat ini menjabat sebagai salah satu pimpinan BPK RI.

Dalam buku Aldera, Potret Gerakan Politik kaum Muda 1993-1999, Pius Lustrilanang secara gamblang menulis sepak terjang pergerakannya hingga dirinya sempat diculik oleh rezim berkuasa saat itu.

Dirinya menandaskan dalam narasi buku ini banyak merekam perjuangan di tahun 99 saat gerakan reformasi digaungkan. Pius berharap buku Aldera menjadi bacaan wajib untuk mahasiswa yang ingin tahu sejarah dan menjadi sarana reuni para aktivis mulai dari Jawa, Bali, Lombok, hingga Sulawesi Selatan. Dengan demikian, sambungnya, para mahasiswa bisa menjaga sikap kritis pada kekuasaan yang ada.

Bedah buku sendiri menghadirkan narasumber diantaranya Dekan FISIP Unpar, Dr. Pius Sugeng Prasetyo; Dekan Fakultas Hukum Unpar, Dr. IUR. Liona Nanang Supriatna, serta Ketua Jurusan Hubungan Internasional Unpar, Elisabeth A S Dewi Ph.D .

Sedang diungkapkan Rektor Unpar, Mangadar Situmorang Ph.D mengatakan, ini bukan perjuangan individu tapi perjuangan kebangsaan.

“Ketika membaca Aldera bisa melihat bahwa untuk sampai ke posisi ini ada perjuangan yang dimulai dari idealisme pribadi, berkembang jadi idealisme beberapa orang dan kini jadi gerakan yang lebih luas tidak hanya di Jawa Barat tapi nasional,” pungkasnya. (San)