Kencleng “Beas Perelek” Warga RW 04

  • Bagikan

BANDUNG (LJ),- Pernah mendengar “Beas Perelek” ? bagi yang tinggal di pedesaan tentu tak asing mendengar istilah ini. beas atau beras yang dikumpulkan sepekan sekali dan dikumpulkan oleh salah seorang petugas yang berkeliling memanggul karung dari rumah ke rumah.

Ide Koswara seorang Ketua RW.04 Kelurahan Sukajadi Kecamatan Sukasari sesungguhnya patut dicontoh oleh ketua RW lainnya. Ia menempatkan bumbung bambu berukuran 20cm di setiap rumah warganya untuk dijadikan kencleng sumbangan sukarela layaknya sistem ‘beas perelek’ untuk membantu tambahan dana operasional berbagai kegiatan dan aktifitas sosial di RW tersebut.

Bak pepatah orang bijak, ‘sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit’ hal ini dibuktikan oleh sekelompok masyarakat RW.04 Kelurahan Sukajadi Kecamatan Sukasari, terdapat kegiatan masyarakat dimana secara sukarela menyumbangkan uang receh yang selama ini dianggap kecil sehingga jadi bermanfaat untuk kegiatan warga.

“Awalnya dulu ada pungutan pada warga untuk kematian satu kepala keluarga sekitar 3 ribu rupiah, yang terkumpul satu tahun 14 juta, tenyata dalam satu tahun itu ada yang meninggal 18 orang sedangkan santunan duka untuk satu jiwa meninggal sebesar 1 juta rupiah, jadi tahun itu kami kurang 4 juta rupiah yang terpaksa mengambil dari kas RW,” Koswara bercerita di ruang serbaguna RW.04 Kelurahan Sukajadi Kecamatan Sukasari, Selasa (04/06/2013)

Lebih lanjut diceritakan koswara, pada tahun 2011 pengurus RW.04 kelurahan Sarijadi tersebut berusaha menanggulangi kekurangan dana jangan sampai terjadi lagi, sehingga munculah ide dana uang ‘kencring’, harapannya setiap warga yang mempunyai kelebihan uang receh 100, 200, 500 rupiah bisa menyisihkan uangnya.

Hasilnya ternyata cukup signifikan, uang lebih dari satu juta perbulan yang didapat, “ternyata tanggapan masyarakat bagus, secara sukarela dari 5 RT terkumpul satu bulannya dari uang receh itu lebih dari satu juta sehingga setidaknya satu tahun itu bisa terkumpul lebih dari 14 juta, dan itu diluar sumbangan wajib warga,” paparnya bersemangat.

Diterangkannya di RW.04 terdapat sekitar 500 KK 1.700 jiwa, “sumber keuangan itu dari masyarakat, dengan pengelolaan, pengadministrasian, dan tercatat dengan baik apabila digabung dengan sumbangan wajib, dana yang didapat bisa bertambah dua kali lipat,” lanjut koswara.

Menanggapi hal tersebut Wakil Walikota Bandung, Ayi Vivananda berpendapat, apabila ada kelebihan dengan menyisihkan uang receh 100, 200, 500 rupiah untuk kepentingan warga setiap harinya tidak akan menjadikan kaya apalagi menjadi miskin.

“Warga masyarakat di RW.04 kelurahan sarijadi ini memiliki kebiasaan yang baik, kebiasaan sunda yang dulu dikenal ‘beas perelek’ dari bumbung bambu sekarang dirubah menjadi kencleng,” kata ayi.

Ayi menilai jika ide tersebut bisa disosialisasikan dengan baik juga diikuti oleh warga RW yang lain tentunya akan bernilai positif, untuk melatih jiwa berkorban dari hal yang paling kecil dengan tetap mempertahankan nilai kebersamaan dengan semangat gotong royong.

Pada intinya dengan cara yang sederhana sekecil apapun yang diperbuat, sepanjang itu kebaikan tentu hasilnya menjadi maslahat.

“Warga masyarakat yang pulang mengantar anaknya atau pulang dari pasar, atau yang punya uang receh seratus, dua ratus atau lima ratus rupiah yang bisa dimasukan kedalam bambu tersebut,” jelasnya.

Pemanfaatan media bambu sebagai kencleng warga, Koswara beralasan, “selain mudah didapat dan murah, ini untuk mengembalikan tradisi budaya Indonesia yang segala sesuatunya menggunakan bambu seperti nenek moyang dahulu apabila menyimpan uang atau surat berharga di dalam bumbung bambu, juga dulu dikenal tradisi ‘beas perelek'” uangkapnya.

Dalam kesempatan tersebut Ayi menghimbau untuk tidak memberikan uang kepada pengemis di jalanan, “ini akan menjadi ‘Succes story’ seorang pengemis yang akan membawa teman-temannya untuk bergabung menjadi pengemis,” katanya. (Herdi)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan