Ketua MPR RI : Indonesia Harus Tumbuhkan Industri Pertanian

  • Bagikan

GARUT LJ – Dalam safari kebangsaan di bulan Ramadhan, Ketua MPR RI, Dr. (H.C.) Zulkifli Hasan, S.E., M.M., didampingi Anggota Komisi IV DPR RI Haerudin, S.Ag., MH berdialog dengan para petani sayuran di Desa Sirnajaya Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut.

IMG-20160613-WA0032-1Zulkifli Hasan atau yang biasa akrab disapa Bang Zul menegaskan masalah pertanian adalah masalah nasional yang harus diselesaikan bersama-sama antara DPR, Pemerintah dan petani itu sendiri. Baik dalam hal penetapan harga ditingkat petani dengan harga pasar, standardisasi harga nasional terhadap komoditi holtikultura, sehingga para tengkulak tidak bisa memainkan harga dengan seenaknya, disamping itu, pengadaan bibit yang berkualitas tinggi, sebab tidak sedikit dari para petani harus membeli bibit import yang harganya sangat tinggi.

Mengingat beragam permasalahan di bidang pertanian, banyak petani merugi hingga pada akhirnya diantaranya banyak yang kehilangan lahan pertanian milik dan beralih pekerjaan. Bahkan sekitar 94 % petani sebagai petani garap yang tidak memiliki tanah milik sendiri yang disebabkan hutang kepada para tengkulak atau bahkan disebabkan biaya operasional yang melambung setiap tahunnya.

Mengingat kondisi pertanian saat ini, menurutnya, perlu menumbuhkan industri pertanian agar ketika panen raya tiba, produksi pertanian tidak terbuang akibat busuk dan gagal panen yang disebabkan tidak terjualnya di pasaran. Sedangkan, dalam hal penetapan harga, dirinya merasa pesimis, sebab sulit mendapat jaminan dari pemerintah untuk mengantisipasi permasalahan atau ulah dari para tengkulak. Dirinya pun menyayangkan, sebab realitas kondisi petani seperti itu akan menurunkan ketahanan pangan nasional.

petani sayur“Perlu adanya persatuan dan kekuatan dari kelompok petani agar memiliki daya dorong yang kuat dan daya tawar petani untuk melawan ulah para tengkulak yang kerap memainkan harga pada saat panen raya,” katanya di hadapan ratusan petani, Minggu (12/6).

Ditegaskan Bang Zul, menyoal asuransi pertanian, saat ini hanya baru ada asuransi padi yaitu penggantian kerugian bagi petani jika panen padi mengalami gagal atau rugi, dan bagi petani pun harus memanfatkan pinjaman KUR dengan bunga yang ringan dan hindari berhutang kepada para tengkulak. Disamping itu, soal pembibitan, diperlukan pengadaan bibit unggul dengan berbagai varietas dengan harga yang terjangkau. Serta pengadaan obat-obatan dan jaminan tersedianya pupuk yang berkualitas dan ramah lingkungan.

Belum sampai disitu, sikap prihatin serta rasa ironis Bang Zul saat mengunjungi sentra pengolahan dodol Picnic, dirinya menyerap aspirasi serta keluhan dari para pengrajin dodol yang berkutat dengan mahalnya bahan baku dodol berupa gulasehingga berimbas pada produksi dodol serta efek yang besar terhadap menurunnya penjualan dodol.

“Ironi memang, negeri agraris yang kaya tetapi kenyataannya tingginya harga bahan pokok, harga cabai, gula bahkan hingga kini harga daging masih tertinggi di banding negara-negara tetangga. Hal ini tentu mengherankan, sepertinya pemerintah tidak mampu menjamin harga nasional yang melindungi petani dan rakyat dari kebutuhan pokok,” tuturnya.

Dan jika industri pertanian tumbuh dengan optimal, maka setiap permasalahan yang dialami para petani sayuran akan teratasi. Disini peranan adanya industri pertanian agar permasalahan klasik petani teratasi. (Dent)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan