Mengarifi Produktivitas Manusia Pos

  • Bagikan

“Anda boleh ambil alih perusahaanku,

hancurkan pabrik-pabrikku,

tetapi kembalikan orang-orangku,

maka akan kubangun kembali bisnisku”.

Henry Ford (1863-1947)

TANTANGAN yang dilontarkan Henry Ford, bukanlah gertakan kosong. Dia punya keyakinan kuat bahwa perusahaan dibangun-kembangkan lebih dengan modal manusia, bukan dengan uang (capital). Dia percaya diri dan yakin terhadap kemampuan anak buahnya. Dia mampu membuktikan; sampai akhir hidupnya dia adalah kampiun permobilan Amerika Serikat dan Ford Motor Company yang didirikannya berjaya hingga kini.

Siapakah ”orang-orang” yang dimaksudkan Ford, kalau bukan manusia yang mempunyai sumber daya berpikir, berbicara, bertindak, dan berkarya menurut bidangnya masing-masing.

Seperti mengamini Ford, pada masa terkini, filsafat perusahaan raksasa semacam Hewlett-Packard (HP) pun berorientasi pada manusia. Top Leader-nya yakin, kebijakan dan tindakan yang diputuskan haruslah didasarkan pada keyakinan  bahwa manusia –laki-laki atau wanita—ingin melakukan pekerjaan yang baik dan kreatif.  Tradisi HP adalah perlakuan terhadap setiap pribadi dengan penuh penghargaan dan pertimbangan. Harga diri dan nilai seorang pribadi itulah faktor penting dalam perusahaan. Filsafat kemanusiaan HP pun mendasarkan pada keyakinan: Hasil yang dicapai suatu organisasi merupakan hasil gabungan dari setiap pribadi.

Memanusiakan manusia dan tidak menganggap manusia sebagai komunitas, merupakan pencerminan sikap menghargai manusia. Sumber daya manusia (human resources) begitu potensial untuk berbagai bidang kegiatan. Kegagalan banyak perusahaan di Indonesia memang lebih disebabkan oleh ketidakmampuan mengenali potensi itu. Akibatnya, manusia lebih menjadi beban daripada sumber daya. Karena itulah mereka lebih memilih pemecatan pegawai daripada melakukan terobosan usaha yang sebenarnya dapat dilakukan melalui potensi sumber daya itu.

Martabat manusia ditentukan oleh kemampuannya bekerja produktif. Tenaga kerja berkualitas tinggi ditandai oleh perilaku produktif. Banyak penelitian dan pengalaman membuktikan, salah satu faktor penting –kalau tidak disebut terpenting—yang turut mempengaruhi proses kemunduran atau kemajuan ekonomi suatu negara adalah ”produktivitas”. Kini, perhatian dunia terhadap produktivitas kian meningkat, terutama dalam menghadapi ekonomi dunia yang masih tidak menentu. Upaya peningkatan produktivitas di segala bidang dinilai oleh banyak negara sebagai persyaratan pokok (necessary condition) untuk proses pemulihan ekonomi di masing-masing negara, termasuk Indonesia.

Walter Aigner dalam “Motivation and Awareness” (1986), menyatakan filosofi dan spirit  produktivitas sudah ada sejak awal peradaban manusia, karena makna produktivitas adalah ”keinginan” (the will) dan ”upaya” (effort) manusia untuk selalu meningkatkan kualitas kehidupan dan penghidupan di segala bidang.

Jadi dalam pengertian filosofis, produktivitas adalah,  ”Sikap (mental) manusia untuk membuat hari esok lebih baik daripada hari ini dan membuat hari ini lebih baik daripada kemarin”. Dalam konteks ini, esensi pengertian produktivitas  adalah sikap mental dan cara pandang tentang hari esok. Filosofi pengertian produktivitas ini berresonansi dengan tema peringatan acara Pos Indonesia 265 Tahun Satukan Nusantara, yaitu “Learning From The Past, Developing For The Future”. Tema ini dimaksudkan untuk membangun citra positif Pos Indonesia di kalangan masyarakat, membangkitkan rasa memiliki dan kepercayaan masyarakat kepada Pos Indonesia, juga mengenang para pelaku sejarah pos di nusantara.

Itulah sebabnya ada kebutuhan mendesak untuk mengadakan peneropongan yang lebih saksama terhadap faktor manusia dan mengkaji kontribusinya terhadap peningkatan produktivitas. Analisis yang biasa dilakukan atas faktor produksi yang mencakup output, input, tenaga kerja, modal, teknologi, dorongan manajerial, dan sebagainya, serta-merta menunjukkan bahwa lebih daripada separuh faktor-faktor tersebut berkaitan erat dengan kualitas tenaga kerja. Bahkan setelah kita lakukan tilikan lebih dalam terhadap segi teknis, kembali kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kualitas semua itu instrinsik bertumpu pada kualitas input manusiawinya.

Mengartifi Norvest

Suatu aspek penting dalam menciptakan iklim dan sikap kerja bagi peningkatan produktivitas ialah keikutsertaan secara aktif  dari seluruh karyawan dalam proses perubahan yang diupayakan. Partisipasi bukan saja membantu pengembangan organisasi, tetapi sekaligus memberikan dampak pendidikan yang nyata. Keterlibatan para karyawan dapat dicapai melalui banyak cara; rapat atau pertemuan, kelompok kerja, satuan tugas, curah pendapat, berbagai peluang untuk memberikan saran atau usul, quality circles, diskusi informal, mekanisme hubungan karyawan-pengusaha secara formal maupun informal.

Dalam kaitan partisipasi untuk menciptakan iklim dan sikap kerja bagi peningkatan produktivitas, PT. Pos Indonesia (Persero) salah satunya bisa mengarifi kebijakan yang dilakukan Bank Norvest Minneapolis. Salah satu bank terbesar di AS ini menugasi Douglas Wallace sebagai wakil presiden untuk urusan kebijakan sosial. Dia menyarankan kepada manajemen tertinggi di bank, suatu program yang akan melibatkan semua karyawan Norvest dalam merumuskan kebijakan tentang masalah-masalah sosial yang dapat mempengaruhi usaha perbankan. Dia membentuk sebuah satuan tugas yang terdiri atas 16 karyawan yang mewakili semua tingkat kepegawaian dalam bank. Satgas ini mengadakan rapat setiap minggu dalam setahun; mereka mewawancarai banyak karyawan bank dan ahli-ahli dari luar. Mereka menyusun laporan tentang penemuan dan saran-sarannya. Manajemen bank pun melaksanakan semua saran kebijakan penting yang diajukan oleh satgas itu.

PT. Pos Indonesia bisa melakukannya dengan membentuk sebuah satuan tugas yang terdiri atas sejumah karyawan –”manusia-manusia pos” yang mewakili semua tingkat kepegawaian. Bahkan untuk akuntabilias, unsur dari tukang pos atau pengantar surat pun mesti dilibatkan. Satgas ini mengadakan rapat setiap minggu dalam setahun (atau sesuai kebutuhan); mereka mewawancarai banyak karyawan pos dan ahli-ahli dari luar. Mereka menyusun laporan tentang penemuan dan saran-sarannya. Manajemen PT. Pos Indonesia pun melaksanakan semua saran kebijakan penting yang diajukan oleh satgas itu.

Bila kearifan kebijakan Bank Norvest Minneapolis, juga diterapkan PT. Pos Indonesia, sepertihalnya  manajemen tertinggi di Bank Norvest, maka manajemen tertinggi di PT. Pos Indonesia pun akan menemukan bahwa ”karyawan merupakan sumber informasi dan kearifan yang kaya mengenai masalah-masalah sosial”. Hal lebih penting yang ditemukan ialah bahwa dengan membuka saluran komunikasi,  PT. Pos Indonesia diyakini akan berhasil meningkatkan performa keseluruhan di bidang yang paling menentukan usaha, yakni pelayanan terhadap konsumen/masyarakat.

Dalam jangkauan lebih jauh, saran-saran kebijakan penting hasil dari kinerja Satgas yang mewakili berbagai tingkat kepegawaian ini adalah sebagai masukan signifikan bagi penerapan   Good Corporate Governance (GCG), yang telah ditekad-laksanakan PT. Pos Indonesia.

Jadi, ”budaya partisipatif” yang diperkenalkan telah membantu meningkatkan ”budaya produktivitas” di kalangan seluruh karyawan—manusia-manusia pos. Sebaliknya, manajemen perusahaan belajar banyak dari para karyawannya tentang segi-segi sikap dan kebijakan perusahaan yang perlu diubah bila yang diinginkan perusahaan berkembang maju. Jadi, ”pendidikan praktis” melalui partisipasi telah menghasilkan peningkatan budaya produktivitas dan performa.

Dengan peningkatan budaya produktivitas dan performa, maka visi; menjadi pemimpin pasar di Indonesia, dengan menyediakan layanan suratpos, paket, dan logistik yang andal
serta jasa keuangan yang terpercaya, serta misi; berkomitmen kepada pelanggan, kepada karyawan, kepada pemegang saham, berkontribusi positif kepada masyarakat, serta berkomitmen untuk berperilaku transparan dan terpercaya kepada seluruh pemangku kepentingan dari PT. Pos Indonesia (Persero) semakin bisa dikukuhkan.

Kembali pada tantangan Henry Ford, yang mengutamakan pekerja-pekerjanya untuk membangun usaha, merupakan semacam imbauan sekaligus keyakinan, keberhasilan usaha memang ditentukan oleh manusia-manusia yang unggul. Manusia-manusia pos yang dengan partisipasinya mampu meningkatkan produktivitasnya dalam kerangka “ Learning From The Past, Developing For The Future”. *

Oleh HARIYAWAN

Penulis, Aktivis Anglia Governance Institute (AGI) Indonesia  dan Pengurus Gerakan Peningkatan Minat Baca (GPMB) Kota Bandung.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan