
KAB. BANDUNG, LINTAS JABAR – Di tengah kegelisahan sosial yang kian menjauhkan masjid dari denyut kehidupan umat, Persatuan Islam (PERSIS) Jamaah Cileutik menggelar Musyawarah Jamaah (Musjam) VIII di Gedung Pesantren PERSIS Cileutik, Sabtu, 3 Januari 2026.
Forum ini bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan momentum bai’at ideologis untuk meneguhkan kembali peran masjid sebagai pusat peradaban.
Mengusung tema “Optimalisasi Peran Masjid demi Terwujudnya Peradaban yang Rahmatan lil ‘Alamin”, Musjam VIII menetapkan Dadan Syahri Ramdani sebagai Ketua PJ PERSIS Cileutik, dengan H. Enggang Karya sebagai Penasihat.
Tema tersebut mencerminkan kegelisahan sekaligus harapan: masjid tidak boleh berhenti sebagai ruang ritual, tetapi harus hidup sebagai pusat pembinaan iman, ilmu, dan amal sosial.
Dalam taujihnya, Ketua PC PERSIS Banjaran, H. D. Pandi menyampaikan apresiasi kepada kepengurusan sebelumnya yang telah menuntaskan amanah. Ia menekankan bahwa estafet kepemimpinan dalam jam’iyyah bukan sekadar pergantian struktur, tetapi kesinambungan tanggung jawab dakwah.
“Kepada yang baru dilantik, kuncinya adalah sabar dan ikhlas,” ujarnya singkat namun menekan. Sebab, menurutnya, menjadi penggerak jamaah bukan pekerjaan ringan, ia menuntut keteguhan batin dan keluasan visi.
Ia lalu menyampaikan sebuah metafora yang mengundang perenungan. Menjadi anggota PERSIS, katanya, ibarat ban mobil yang berisi angin. Dengan iman yang kuat dan ilmu yang mencukupi, ia mampu menanggung beban melebihi kapasitasnya, baik saat jalan menanjak, menurun, maupun datar. Tanpa “angin” iman dan ilmu, ban itu akan kempes dan gagal menjalankan fungsinya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa tugas utama PJ adalah membimbing anggota untuk memakmurkan masjid, bukan sekadar menghidupkan agenda, tetapi menumbuhkan kesadaran jamaah bahwa masjid adalah pusat pembentukan karakter umat. Dari sanalah nilai rahmatan lil ‘alamin harus dipancarkan, inklusif, mencerahkan, dan membumi.
Ia juga mengingatkan bahwa PC, PJ, dan lembaga pendidikan PERSIS merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ketiganya adalah satu paket peradaban: struktur organisasi, basis jamaah, dan pusat kaderisasi. Jika salah satunya melemah, maka bangunan dakwah akan timpang.
Musyawarah Jamaah VIII ini pada akhirnya bukan hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga memperbaharui bai’at kolektif: merawat masjid berarti merawat masa depan. Di Cileutik, PERSIS menegaskan bahwa masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi titik tolak perubahan, dari jamaah, untuk peradaban. (Herdi)












