Pansus VI Dorong Agar Sawah Teknis Keberadaannya Tetap Dipertahankan

BANDUNG, LJ – Panitia Khusus (Pansus) VI Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat akan mendorong agar lahan persawahan tetap dipertahankan dan menerima subsidi secara berkala, supaya penggarapannya konsisten. Hal tersebut seiring hadirnya Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) yang diharapkan dapat mengakomodir kebutuhan dalam pengembangannya. Dan RTRWP berkaitan pula dengan adanya Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sejauh ini digarap, salah satunya pembangunan Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC).

anggota Pansus VI, H. Arif Hamid Rahman, SH

“Setelah kita turun ke lapangan, Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) persis sama dengan data yang ada di Pemerintah Jawa Barat dan kementerian. Pansus VI ini bertujuan, agar sawah teknis itu dapat subsidi dan keberadaannya harus dipertahankan,” ucap anggota Pansus VI, H. Arif Hamid Rahman, SH saat dikonfirmasi melalui sambungan selulernya terkait kinerja Pansus VI, Rabu, 19 Januari 2022.

Menurutnya, hingga saat ini lahan sawah masih menjadi tumpuan utama sistem produksi padi di Indonesia termasuk di Jawa Barat, karena lebih dari 90 persen produksi padi dihasilkan dari lahan sawah. Pertambahan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan, dan perkembangan industri, menyebabkan permintaan beras terus meningkat baik untuk konsumsi langsung maupun untuk bahan baku industri.

Menurutnya, tantangan utama dalam penyediaan pangan saat ini dan dimasa yang akan datang adalah ketersediaan sumber daya lahan yang makin langka atau lack of resources, baik luas maupun kualitasnya serta konflik penggunaannya atau conflict of interest.

“Lahan sawah tidak hanya diperlukan untuk proses produksi padi, tetapi permintaan lahan sawah juga meningkat untuk memenuhi kebutuhan pokok bukan pangan, seperti permukiman, industri, dan infrastruktur lainnya. Hal ini menimbulkan permasalahan yang kompleks dan memacu percepatan alih fungsi lahan sawah ke penggunaan nonpertanian yang bersifat permanen irreversible dan multiplikasi. Secara empiris, lahan sawah termasuk lahan pertanian yang paling rentan terhadap alih fungsi,” ujarnya.

Maka itu, dipaparkan Arif, kondisi demikian akan terus berlanjut, dan apabila tidak ada upaya pengendalian dapat mengancam keberlanjutan kemandirian pangan. Sedang, sambungnya, Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional. (AdiPar)