Pelaku UKM Pendukung Minta Pasar

  • Bagikan

BEKASI (Lintasjabar.com),- – Gelar Produk UKM Pendukung Produksi di Kawasan Industri Kabupaten Bekasi 2011, yang dilaksanakan Dinas KUMKM Propinsi Jawa Barat kerjasama Pemkab Bekasi dan PHKI-PWK ITB, Kamis (9/6) menampilkan 100 peserta pelaku UKM pendukung di Kawasan Industri Bekasi dan sekitarnya dinilai pelaku UKM sangat membantu dalam mengembangkan pasar produk mereka.

Menurut Ronny, salah seorang pelaku UKM pendukung di Bekasi, kegiatan ini sebagai ajang untuk tukar menukar informasi dan kemitraan antara pelaku UKM maupun pelaku industri besar lainnya. “Saya sempet kaget juga ternyata produk UKM di kawasan industri ini sangat bervariasi. Disamping itu, produk satu dengan lainnya bisa saling mendukung dan dibutuhkan oleh industri besar di sini,” katanya.

Ia menilai, kegiatan ini sangat strategis untuk terjadinya kemitraan antara pelaku UKM dengan pelaku industri lainnya. Harapannya, kegiatan bisa terus dilakukan setiap tahun. Jumlah UKM di kawasan Industri Bekasi mencapai ribuan. Paling tidak, mereka bisa dilibatkan pada pameran seperti ini secara bergilir.

Ronny pun menjelaskan, selain masalah pemasaran, pelaku UKM pendukung di kawasan industri bekasi juga dihadapkan persoalan permodalan, kelemahan SDM. “Jujur modal kita bukan modal seperti UKM pada umumnya, biasanya modal kita butuhkan untuk membeli mesin produksi yang harganya di atas Rp 20 juta lebih,” tuturnya.

Belum lagi masalah  kesulitan secara prosedur untuk menambah kapasitas listrik dan air, serta kesulitan ketika akan membayar pajak tahunan ke negara. Kita berharap,  perhatian pemerintah agar  mendapatkan kemudahan-kemudahan yang dapat menopang usahanya.

Sebelumnya Prof. Dr. Ir. B. Kombaitan, M.Sc Dekan Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB mengatakan, ITB terus  mendorong pemerintah agar dapat membuat kebijakan yang bijak bagi UKM. Guna penguatan UKM pendukung industri ini, dibutuhkan kolaborasi yang harmonis antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/ kota. ITB diharapkan dapat bermitra secara sinergis dengan semua tingkat pemerintahan yang ada.

Menurutnya, sudah sejak 1,5 tahun terakhir ITB melalui kegiatan Pengembangan Nilai Tambah Mata Rantai Industri melalui pengembangan kawasan Terpadu atau PHKI-PWK ITB mencoba mendorong UKM pendukung ini bisa berkembang maksimal dan memiliki keterkaitan dengan industri besar di sekitar kawasan industri.

Kegiatan ini berawal dari kegelisahan ITB akan perkembangan UKM suplier industri di Cikarang-Bekasi. “Apakah pertumbuhan ribuan industri besar di kawasan industri bekasi berdampak pada perkembangan UKM lokal pendukung industri?,” ungkapnya.                                      Kombaitan menjelaskan, UKM suplier industri memiliki karakteristik yang berbeda dibanding UKM pada umumnya. Selain, memiliki tenaga kerja lebih dari 20 orang dan membutuhkan dana hingga ratusan juta untuk memiliki satu buah mesin. Sehingga dibutuhkan pendekatan khusus agar mereka dapat bersaing dengan UKM suplier industri dari luar negeri.

Harapan, lewat kegiatan ini akan terwujud keterikatan mata rantai produksi antara UKM dan industri besar sehingga berdampak pada pengembangan ekonomi wilayah di sekitar kawasan industri di Bekasi. Lewat program ini pula akan terus mendorong kehadiran ribuan industri besar dapat memberikan multiplier effect bagi UKM lokal yang berada di dalam atau sekitar kawasan. (ade dian)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan