
KAB. BANDUNG, LINTAS JABAR – Ketika euforia kemenangan Persib masih menggema di warung kopi, jalanan, hingga lini masa media sosial, suasana berbeda tampak di Kantor Bersama Persis Banjaran, Minggu, 24 Mei 2026. Alih-alih larut dalam pesta kemenangan sepak bola, sejumlah calon anggota Persatuan Islam (Persis) duduk melingkar mengikuti agenda ta’aruf, langkah awal memasuki proses pembinaan kader organisasi.
Bagi Pimpinan Cabang Persis Banjaran, momentum kegembiraan publik bukan alasan untuk menghentikan kerja kaderisasi. Justru di tengah arus perhatian yang tersedot ke lapangan hijau, mereka tetap menjalankan agenda penguatan akidah, pemahaman keislaman, dan loyalitas berjamaah.
Program ta’aruf itu dirancang dalam dua pertemuan. Sesi pertama berlangsung pekan ini, sementara pertemuan lanjutan dijadwalkan pada 31 Mei mendatang.
Ketua Majelis Penasehat PC Persis Banjaran, Ustadz Oom Surahman, membuka kegiatan dengan pesan yang menggugah cara pandang peserta terhadap agama. Menurut dia, keberagamaan tidak cukup dipahami sebagai kumpulan teks, hafalan, atau deretan dalil.
“Agama itu bukan naskah, bukan runtuyan hadits, tapi kenyataan hidup; ia merupakan uswah sulūkiyah,” ujarnya.
Bagi Oom, ukuran keberhasilan beragama tidak berhenti pada kemampuan mengutip ayat atau hadits, melainkan tampak dalam perilaku, akhlak, dan cara seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.
Ia kemudian mengingatkan pentingnya kedekatan seorang muslim dengan ilmu. Dengan gaya penyampaian yang lugas, ia mengutip nasihat klasik tentang posisi manusia terhadap ilmu pengetahuan: menjadi pengajar, pembelajar, pendengar yang baik, atau setidaknya orang yang mencintai majelis ilmu. Satu posisi yang harus dihindari, katanya, adalah menjadi pihak yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan ilmu.
Pesan itu seolah menjadi fondasi ideologis kegiatan: Persis menginginkan anggotanya tumbuh sebagai insan yang terikat pada tradisi belajar dan dakwah.
Penanggung jawab kegiatan, H. Ana Karmana, menyebut pembinaan calon anggota sebagai tahapan penting dalam proses kaderisasi organisasi. Menurut Wakil Ketua PC Persis Banjaran itu, pembinaan diperlukan bukan sekadar untuk mengenalkan struktur organisasi, melainkan untuk menyamakan orientasi pemahaman keagamaan.
“Calon anggota perlu dibina, terutama dalam persoalan akidah, agar memiliki pemahaman ibadah yang sesuai Al-Qur’an dan Sunnah,” katanya seusai kegiatan.
Ia menambahkan, proses pembinaan juga menjadi sarana evaluasi keseriusan calon anggota. Kehadiran peserta dipantau sebagai bagian dari penilaian internal. Mereka yang berhalangan tanpa keterangan, kata dia, akan menjadi bahan koordinasi dengan pimpinan jamaah masing-masing.

Dalam sesi materi tauhid, Ustaz H. D. Pandi menekankan bahwa inti ibadah terletak pada ketaatan: menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah, menurutnya, bukan perkara ringan; ia menuntut kesungguhan, pengorbanan, dan konsistensi.
Ia mengutip QS Al-Hijr ayat 99, ia mengingatkan peserta agar beribadah hingga akhir hayat: “Wa’bud rabbaka hattā ya’tiyakal yaqīn.” Bahkan Ia juga menyoroti dinamika keimanan yang, dalam konsep Islam, dapat bertambah maupun berkurang. Karena itu, pembinaan keagamaan dinilai penting sebagai ruang menjaga sekaligus menguatkan kualitas iman.
Suasana mencair saat H. Agus Mulyana mengambil alih sesi tentang semangat berjihad dalam organisasi. Dengan pendekatan santai dan interaktif, ia beberapa kali mendekati peserta, melontarkan pertanyaan, lalu mengajak mereka terlibat dalam diskusi singkat. Di sela suasana yang cair itu, ia menanamkan satu pesan tentang pentingnya soliditas berjamaah.
“Satu rasa, satu suara, satu usaha.”
Melalui kegiatan ini, Persis Banjaran tampaknya hendak menegaskan satu hal: organisasi dakwah tidak hanya membutuhkan anggota yang memahami ajaran, tetapi juga pribadi yang siap belajar, berkomitmen, dan bertahan dalam disiplin perjuangan kolektif—bahkan ketika perhatian masyarakat sedang tersedot ke gegap gempita kemenangan PERSIB. (Herdi)












