Sidkon Djampi Dorong Pemprov Jabar Segera Perkuat Sistem Mitigasi Bencana

anggota Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Muhamad Sidkon Djampi, SH ,MM

BANDUNG, LINTAS JABAR – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan beberapa hari kedepan bahkan hingga awal tahun 2026, cuaca dan iklim ekstrem seluruh wilayah provinsi Jawa Barat. Untuk itu, masyarakat dihimbau agar meningkatkan mitigasi bencana, berupa banjir dan tanah longsor.

Menanggapi itu, anggota Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Muhamad Sidkon Djampi, SH ,MM mengatakan Informasi yang disampaikan oleh BMKG harus menjadi perhatian bersama. Karena memang sejak Oktober hingga awal Desember ini, cuaca ekstrem yang disertai hujan deras dan angin puting beliung, kerap terjadi di beberapa wilayah Jawa barat.

“Sudah kita ketahui bersama bahwa dampak dari cuaca ekstrem yang disertai hujan lebat dangan intensitas tinggi diserta angin kencang atau puting beliung dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor. Hal ini tentunya, sangat mengancam keselamatan manusia dan harta benda, untuk mau tidak mau pemerintah dan masyarakat harus meningkatkan mitigasi bencana,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPRD Jabar baru-baru ini..

Politisi PKB Jabar ini mendorong pemerintah provinsi agar segera memperkuat sistem mitigasi bencana, terutama untuk menghadapi ancaman hidrometeorologi yang setiap tahun menghantui daerah Jabar.

Guna mengantisipasi dan memberikan informasi kepada masyarakat Jabar, tentunya dibutuhkan teknologi sebagai ujung tombak perlindungan masyarakat di tengah cuaca ekstrem yang makin tidak berpola.

“Peralatan teknologi yang dimiliki oleh BMKG sudah cukup canggih, namun cuaca dan iklim sekarang sulit diprediksi. Untuk itu, sudah seharusnya Pemprov Jabar memiliki aset teknologi yang canggih untuk memantau cuaca, sensor gempa, alarm banjir di sungai kecil, sedaang dan besar. Namun, semuanya harus terintegrasi dengan BMKG dan instansi nasional lainnya,” ujar Sidkon.

Menurutnya, sistem peringatan dini yang saat ini dimiliki Jawa Barat masih tertinggal dan perlu upgrading menyeluruh. Ia menganalogikan sistem mitigasi bencana seperti perangkat elektronik jika tidak diperbarui, kinerjanya akan menurun dan berisiko gagal memberi informasi tepat waktu. (*)