Pleno Persis Banjaran Tetapkan 56 Anggota Baru, H.D Pandi Tegaskan Memilih Kader yang Siap

PC Persis Banjaran menggelar pleno di Aula Kantor Bersama Persis Banjaran, Sabtu, 30 Mei 2026. /Photo: Herdi

KAB. BANDUNG, LINTAS JABAR – Persatuan Islam (Persis) Banjaran menetapkan 56 anggota baru setelah melalui rangkaian pembinaan dan evaluasi berjenjang. Dari 62 calon anggota yang mengikuti proses pembinaan, enam orang belum ditetapkan dan akan menjalani evaluasi lanjutan.

Penetapan tersebut dilakukan dalam pleno yang digelar usai pembinaan calon anggota tahap kedua di Aula Kantor Bersama Persis Banjaran, Sabtu, 30 Mei 2026.

Kegiatan ini merupakan lanjutan masa ta’aruf yang telah berlangsung sepekan sebelumnya.

Sebelum sesi materi dimulai, Bidang Garapan Sumber Daya Insani Jam’iyah (SDIJ) memberikan ulasan mengenai materi pembinaan yang telah disampaikan pada pertemuan pertama. Dalam pengantarnya, SDIJ menekankan bahwa kelahiran Persatuan Islam pada 12 September 1923 tidak dapat dipisahkan dari kesadaran para pendirinya untuk menjawab tantangan zaman yang dihadapi umat Islam.

Karena itulah, organisasi ini menggunakan nama “Persatuan Islam” dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Arab. Pilihan tersebut dinilai mencerminkan kedekatan gerakan dengan masyarakat yang menjadi medan dakwahnya.

Pembinaan juga menyoroti karakter gerakan Persis yang bertumpu pada tauhid sebagai fondasi perubahan. Dari landasan itu lahir semangat tajdid atau pembaruan yang selama ini menjadi ciri khas perjuangan Persis dalam merespons persoalan umat.

Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan materi mengenai akhlak ‘Ibadurrahman. Nilai-nilai tersebut dipandang sebagai fondasi etika gerakan yang menempatkan kemanusiaan di atas sekat-sekat perbedaan.

Pemateri sejarah Persatuan Islam, H. Ana Karmana, mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu.

“Sejarah harus menjadi cermin untuk menentukan arah perjuangan hari ini. Buah dari sejarah harus melahirkan tindakan jihad pada masa kini,” ujarnya.

Sementara itu, Ustaz Asep Syahidi Rahmat menegaskan bahwa sifat Ar-Rahman Allah mengajarkan kepedulian tanpa diskriminasi.

“Ketika seseorang membutuhkan bantuan, kita tidak bertanya lebih dulu apakah ia kawan atau lawan. Kita juga tidak menanyakan kartu tanda anggota,” katanya.

Sedang pesan yang paling menonjol justru muncul pada taujih penutup. Ketua PC Persis Banjaran, H. D. Pandi, menegaskan bahwa keanggotaan Persis harus lahir dari kesadaran pribadi.

“Saya tidak pernah memaksa siapa pun menjadi anggota Persis. Kami hanya menyediakan ruang kebersamaan untuk mewujudkan cita-cita perjuangan Islam. Jika ada yang merasa terpaksa, ia berhak membatalkan niatnya menjadi anggota,” ujarnya.

Menurut dia, menjadi anggota Persis berarti menyatakan kesiapan untuk melanjutkan perjuangan jam’iyah dalam menegakkan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.Usai pembinaan, jajaran tasykil PC Persis Banjaran menggelar pleno evaluasi yang dipimpin langsung oleh ketua cabang. Penilaian dilakukan berdasarkan tingkat kehadiran dan kesungguhan peserta selama proses pembinaan.

Dalam pleno tersebut disepakati bahwa calon anggota yang dua kali berturut-turut tidak hadir tanpa keterangan akan ditinjau kembali kelayakannya. Kebijakan itu, menurut pengurus, bukan untuk mempersempit keanggotaan, melainkan menjaga kualitas kaderisasi.

Hasilnya, 56 orang ditetapkan sebagai anggota baru Persis Banjaran. Adapun enam peserta lainnya akan menjalani proses evaluasi lanjutan.

Menanggapi keputusan tersebut, H. D. Pandi menyebut kualitas kader lebih penting daripada sekadar jumlah.

“Bagi kami, yang utama bukan banyaknya anggota, melainkan lahirnya kader yang siap, istiqamah, dan mampu memikul amanah perjuangan,” katanya. (Herdi)