
KAB. BANDUNG, LINTAS JABAR – Persis Cabang Banjaran mulai menggeser cara pandangnya terhadap olahraga. Aktivitas yang selama ini kerap ditempatkan sebagai kegiatan pelengkap kini mulai dilihat sebagai bagian dari strategi kaderisasi, rekrutmen anggota, sekaligus kepedulian jam’iyah terhadap kesehatan kader.
Gagasan itu mengemuka dalam diskusi sejumlah tasykil Persis Banjaran dari Bidang Sumber Daya Insani dan Pengembangan Jam’iyah (SDIJ-PJ), Minggu malam, 9 Agustus 2026. Pertemuan berlangsung di Vila Merah, Desa Ciapus, kediaman Wakil Ketua PC Persis Banjaran, H. Ana Karmana.
Diskusi tersebut secara khusus membedah posisi olahraga dalam kehidupan jam’iyah. Peserta tidak hanya membicarakan jenis olahraga yang dapat dikembangkan, tetapi juga bagaimana olahraga dapat menjadi ruang perjumpaan baru antara Persis dan masyarakat, khususnya generasi muda.
Bagi Persis Banjaran, pendekatan ini penting. Kaderisasi tidak selalu harus dimulai dari ruang pengajian atau forum formal organisasi; lapangan olahraga pun dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan nilai, membangun kedekatan, dan pada akhirnya menumbuhkan keterlibatan seseorang dalam jam’iyah.
Gagasan itu diperkuat oleh Angga, anggota Persis yang baru dilantik bulan sebelumnya. Dalam diskusi tersebut, ia memaparkan bahwa olahraga dapat dikembangkan dalam sedikitnya tiga orientasi: olahraga prestasi, olahraga rekreasi, dan olahraga kesehatan — termasuk bagi kalangan orang tua.Ketiganya membutuhkan pendekatan berbeda.
Karena itu, menurut Angga, pengembangan olahraga di lingkungan Persis tidak cukup dilakukan secara sporadis; dibutuhkan pengelolaan profesional agar setiap potensi dapat berkembang sesuai kebutuhan dan karakter pesertanya.
Pemaparan tersebut mendapat respons dari Bidang SDIJ-PJ PC Persis Banjaran. Dari pembahasan itu muncul gagasan konkret untuk menginisiasi pembentukan Badan Olahraga Persis Banjaran.Badan ini diharapkan menjadi wadah yang mengorganisasi berbagai aktivitas olahraga di lingkungan jam’iyah, mulai dari olahraga prestasi hingga kegiatan rekreatif serta olahraga yang berorientasi pada kebugaran dan kesehatan anggota.
Lebih jauh, keberadaan badan olahraga diproyeksikan menjadi bagian dari ekosistem kaderisasi Persis Banjaran. Minat olahraga dipandang sebagai salah satu pintu masuk rekrutmen anggota: seseorang yang datang karena tertarik futsal, bulu tangkis, tenis meja, gerak jalan, atau cabang olahraga lainnya diharapkan memiliki ruang untuk mengenal lebih dekat kehidupan dan nilai-nilai jam’iyah.
Dengan pendekatan itu, olahraga tidak berhenti pada aktivitas fisik. Ia dapat menjadi ruang membangun persaudaraan, kedisiplinan, kepemimpinan, solidaritas, dan keterlibatan sosial.
Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari H. Ana Karmana. Selain menjabat Wakil Ketua PC Persis Banjaran, ia juga pemilik Vila Merah yang menjadi tempat berlangsungnya diskusi. Ana menyambut antusias gagasan pembentukan Badan Olahraga Persis Banjaran dan menyatakan akan membawanya ke rapat harian PC Persis Banjaran untuk dibahas lebih lanjut secara kelembagaan.
Pertemuan tersebut diinisiasi dan dimoderatori oleh Anang Suryana. Ia mengaku puas dengan perkembangan diskusi yang tidak berhenti pada pembahasan normatif, tetapi mampu menghasilkan gagasan yang lebih konkret.
Bagi Persis Banjaran, pembentukan badan olahraga bukan semata-mata soal membentuk kelompok atau komunitas olahraga baru. Lebih dari itu, gagasan tersebut membawa pertanyaan yang lebih besar: bagaimana jam’iyah hadir di tengah masyarakat melalui ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan mereka?
Jika olahraga mampu menjadi ruang perjumpaan, maka lapangan bukan hanya tempat bertanding. Ia juga dapat menjadi tempat membangun persaudaraan, menemukan calon kader, dan memperluas partisipasi dalam kehidupan jam’iyah.
Gagasan pembentukan Badan Olahraga Persis Banjaran kini menunggu pembahasan di tingkat PC. Jika disepakati, langkah berikutnya adalah menentukan bentuk kelembagaan, cabang olahraga yang akan dikembangkan, sistem pembinaan, serta pola rekrutmen dan kaderisasi yang menyertainya.
Persis Banjaran tampaknya sedang mencoba membuka pintu kaderisasi dari arah yang berbeda: bukan hanya dari mimbar dan ruang kelas, tetapi juga dari lapangan olahraga. (Herdi)












