BNNP Jabar Ungkap Ancaman Narkoba, Generasi Muda Jadi Sasaran Utama

Kepala BNNP Jawa Barat Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K., M.Si., saat menjadi narasumber Basa Basi Podcast PWI Kota Bandung, Rabu 9 September 2026.

BANDUNG, LINTAS JABAR – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Barat mengungkap ancaman peredaran dan penyalahgunaan narkotika di Jawa Barat masih sangat serius. Wilayah dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 51,7 juta jiwa itu dinilai menjadi salah satu wilayah strategis yang dimanfaatkan jaringan narkotika untuk memasok barang haram ke berbagai daerah di Indonesia.

Kepala BNNP Jawa Barat Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K., M.Si., mengatakan posisi dan jumlah penduduk Jawa Barat membuat wilayah tersebut menjadi perhatian serius bagi jaringan peredaran narkotika.

“Jawa Barat menjadi batu loncatan dari banyak kasus narkotika nasional,” ujar Sulistyo dalam podcast Basa Basi PWI Kota Bandung, Rabu 9 September 2026.

Menurutnya, sejumlah kasus besar pernah terungkap di Jawa Barat. Di antaranya pengungkapan pabrik PCC di Kawalu, Tasikmalaya, yang disebut mampu memproduksi jutaan pil setiap hari, serta pengungkapan pabrik narkotika lainnya di wilayah Cimahi.

BNNP Jabar juga pernah mengungkap peredaran dalam jumlah besar, termasuk penangkapan sekitar lima ton ganja di Kota Bogor.

Generasi Muda Paling Rentan

Sulistyo menegaskan, persoalan narkoba tidak hanya berkaitan dengan penindakan terhadap bandar dan pengedar. Ancaman yang jauh lebih besar adalah dampaknya terhadap generasi muda.

Ia menyebut pengguna narkotika yang menjalani layanan rehabilitasi BNN tidak sedikit yang masih berusia remaja. Bahkan, terdapat anak berusia 13 hingga 15 tahun yang sudah terpapar narkoba.

“Pengguna terbanyak itu generasi muda,” katanya.

Menurut Sulistyo, masyarakat sering kali baru menyadari bahaya narkoba ketika persoalan tersebut sudah masuk ke dalam keluarga. Padahal, peredaran narkoba berada di tengah lingkungan masyarakat dan dapat menyasar siapa saja.

Kondisi tersebut, lanjutnya, berpotensi menghambat upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia Jawa Barat.Pemerintah daerah selama ini terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan. Namun, upaya tersebut akan menghadapi persoalan serius apabila generasi muda justru terpapar narkoba.

“Kalau upaya pendidikan yang tinggi ditarik lagi ke belakang oleh peredaran narkoba yang masif, tentu menjadi persoalan,” ujarnya.

BNN Awasi Jalur Darat, Laut hingga Udara

BNNP Jawa Barat juga memperkuat pengawasan terhadap berbagai jalur yang berpotensi digunakan jaringan narkotika, mulai dari darat, laut hingga udara.

Sulistyo mengatakan keterbatasan sarana tidak menjadi alasan bagi BNN untuk menghentikan pengawasan. Dalam sejumlah operasi besar, BNN bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kepolisian dan unsur terkait lainnya.

Wilayah pesisir selatan Jawa Barat, termasuk kawasan Pangandaran hingga Garut, juga menjadi perhatian karena memiliki jalur laut yang memungkinkan terjadinya transaksi narkotika.

Menurutnya, nelayan tradisional juga berpotensi dimanfaatkan oleh jaringan pengedar untuk melakukan transaksi di tengah laut.

Selain jalur laut, pengawasan terhadap penerbangan juga menjadi perhatian. BNN melakukan pemeriksaan atau screening secara insidental berdasarkan momentum maupun informasi intelijen.

“Tidak ada ruang hukum di Indonesia yang tidak bisa dimasuki oleh BNN. Di mana pun potensi penyalahgunaan itu ada,” tegas Sulistyo.

Tidak Ada yang Kebal Hukum

Sulistyo juga menegaskan tidak ada pihak yang memiliki kekebalan hukum dalam kasus narkotika.

Menurutnya, jabatan, profesi maupun akses khusus tidak boleh menjadi celah bagi jaringan narkotika untuk menjalankan aksinya.

Ia mencontohkan pengungkapan kasus pilot asal Malaysia yang membawa sabu dalam jumlah puluhan kilogram. Kasus tersebut menunjukkan bahwa jaringan narkotika dapat memanfaatkan berbagai profesi dan jalur untuk menyelundupkan barang haram.

“Secara prinsip hukum, tidak ada manusia yang kebal hukum,” ujarnya.

BNN Ajak Masyarakat Tak Takut Melapor

Sulistyo meminta masyarakat tidak takut berhubungan dengan BNN, khususnya ketika membutuhkan bantuan rehabilitasi bagi anggota keluarga yang sudah terlanjur menggunakan narkotika.

Ia menegaskan layanan rehabilitasi yang disediakan BNN bagi masyarakat tidak dipungut biaya.

“Rehabilitasi di BNN itu gratis. Semuanya gratis,” katanya.

Karena itu, masyarakat yang memiliki anggota keluarga terpapar narkoba diminta tidak merasa malu ataupun takut untuk mencari pertolongan.

Menurut Sulistyo, pengguna narkotika harus mendapatkan penanganan dan rehabilitasi, sementara pihak yang harus menjadi sasaran utama penindakan adalah bandar dan pengedar.

“Yang harus takut itu pengedar sama bandar,” tegasnya.

Cegah Narkoba Lewat Pupuh Sinom

Selain penindakan dan rehabilitasi, BNNP Jawa Barat juga mengembangkan pendekatan pencegahan yang lebih dekat dengan generasi muda.Salah satunya melalui seni tradisional Sunda, khususnya pupuh Sinom.

Sulistyo menjelaskan Sinom dipilih karena secara filosofi berkaitan dengan anak muda. Pupuh tersebut sejak dahulu digunakan sebagai media untuk menyampaikan nasihat dan pepeling kepada generasi muda.

Melalui seni tradisional tersebut, pesan tentang bahaya narkoba diharapkan dapat lebih mudah diterima dan diingat oleh anak-anak serta remaja.

“Nasihatnya ini untuk anak muda, agar mereka memiliki daya tangkal, daya tahan dan pengetahuan bahwa narkoba ini berbahaya,” jelasnya.

Inovasi tersebut bahkan telah dikembangkan melalui kegiatan lomba ngawih yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Sulistyo menyebut sekitar 182 peserta, terdiri dari seniman muda, remaja, pelajar dan seniman profesional, ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.

Ia berharap pesan antinarkoba dapat menjadi nilai yang tertanam sejak dini, bukan sekadar informasi yang disampaikan ketika seseorang sudah terpapar.

Pesan untuk Generasi Muda Jawa Barat

Menutup perbincangan, Sulistyo berpesan kepada generasi muda agar berani menolak ketika mendapatkan tawaran untuk mencoba narkoba.

Ia mengingatkan bahwa ajakan menggunakan narkoba sering kali diawali dengan pemberian secara gratis. Setelah korban mulai ketagihan, pengedar kemudian membuat pengguna bergantung dan terlilit utang.

Karena itu, ia meminta generasi muda tidak perlu takut dianggap tidak gaul atau pengecut ketika menolak narkoba.

“Tidak apa-apa kalau dianggap cemen. Yang penting sehat,” pesannya.

Sulistyo juga mengajak masyarakat segera melaporkan apabila mengetahui adanya aktivitas peredaran narkoba di lingkungan sekitar.

Menurutnya, perang melawan narkoba bukan hanya menjadi tugas BNN atau aparat penegak hukum, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat.

“Jaga diri dan keluarga kita dari ancaman para bandar narkoba. Hidup sehat lebih baik daripada setelah terjerumus, untuk keluarnya juga berat,” pungkasnya. (*)