Ketua PC Persis Banjaran: Kurikulum adalah Ruh Pendidikan, Bukan Sekadar Dokumen

Seminar Pendidikan bertema “Mengenal Lebih Jauh Kurikulum Khas Pesantren Persis 2026” yang digelar di Aula Barat PC Persis Banjaran, Jalan Pajagalan Nomor 115, Minggu, 13 September 2026. (Poto: herdi)

KAB. BANDUNG, LINTAS JABAR — Ratusan lembar kertas kurikulum bisa saja tersimpan rapi di lemari arsip sebuah lembaga pendidikan. Tapi bagi Ketua PC Persis Banjaran, H.D. Pandi, dokumen itu tidak akan berarti apa-apa jika tidak dihayati sebagai ruh dari seluruh proses pendidikan yang berjalan di dalamnya.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam Seminar Pendidikan bertema “Mengenal Lebih Jauh Kurikulum Khas Pesantren Persis 2026” yang digelar di Aula Barat PC Persis Banjaran, Jalan Pajagalan Nomor 115, Minggu, 13 September 2026. Seminar berlangsung selama tiga jam, dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB.

“Pendidikan adalah pilar utama dalam dakwah Islamiyyah, dan kurikulum merupakan ruh dari proses pendidikan tersebut,” kata Pandi dihadapan para asatidz yang hadir.

Menurut Pandi, sebagai bagian dari jam’iyyah Persis, seluruh unsur pendidikan memikul tanggung jawab besar untuk mencetak generasi yang tafaquh fiddin. Bukan hanya unggul secara intelektual, generasi tersebut juga dituntut kokoh dalam aqidah dan tertib beribadah sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ia menegaskan, seminar tersebut digelar bukan sekadar rutinitas tahunan. Ada tujuan yang lebih mendasar di baliknya, yakni menyamakan persepsi, memperdalam pemahaman, sekaligus memperkuat komitmen dalam mengimplementasikan nilai-nilai serta sistem pendidikan khas Persatuan Islam di lembaga masing-masing.

Kehadiran Peserta Baru 35 Persen

Di balik pesan penting yang disampaikan, seminar ini juga menyisakan catatan dari sisi partisipasi. Ketua panitia, Drs. Asep Sahidi Rahmat, yang juga menjabat Bidang Garapan Tarbiyah PC Persis Banjaran, mengungkapkan bahwa dari 371 asatidz yang diundang, hanya 124 orang atau sekitar 35 persen yang hadir.

“Panitia sudah berusaha mengoptimalkan partisipasi asatidz, namun hasilnya baru sekitar 35 persen atau 124 dari 371 asatidz yang hadir. Semoga seminar berikutnya bisa lebih baik,” ujar Asep.

Ia berterima kasih kepada asatidz yang menyempatkan hadir di tengah kesibukan masing-masing. Kepada mereka, Asep berpesan agar ilmu yang diperoleh diteruskan kepada rekan sejawat yang belum berkesempatan hadir.

Kuis Digital Warnai Penyampaian Materi

Seminar ini turut menghadirkan DR. Acep Saefuddin, M.Ed. sebagai narasumber utama. Berbeda dari seminar pada umumnya, Acep membuka sesi bukan dengan paparan materi, melainkan kuis interaktif berbasis aplikasi digital.Para peserta diminta membuka Google Chrome di ponsel masing-masing untuk mengikuti kuis tersebut. Setiap jawaban benar langsung ditampilkan di layar utama ruangan, lengkap dengan hadiah bingkisan buku bagi peserta yang beruntung.

Pendekatan andragogi yang santai ini membuat suasana seminar terasa hidup. Selepas sesi kuis, Acep baru masuk ke inti materi dengan melontarkan pertanyaan pemantik: mengapa kurikulum penting untuk terus diperbarui?Pertanyaan itu disambut antusias. Sejumlah peserta mengacungkan tangan untuk menyampaikan pandangan mereka, sebelum Acep mengurai jawabannya secara lebih mendalam kepada seluruh peserta.

Tafaqquh Fiddin Tak Melulu Cetak Mubaligh

Dalam pemaparannya, Acep juga meluruskan pemahaman yang selama ini berkembang di kalangan asatidz mengenai makna tafaqquh fiddin. Menurutnya, konsep tersebut kerap dipersempit maknanya seolah-olah hanya berorientasi mencetak muballigh atau ustaz.

Acep menegaskan bahwa cakupan tafaqquh fiddin jauh lebih luas dari itu. Lulusan pendidikan Persis, kata dia, semestinya juga mampu tumbuh menjadi teknokrat, ekonom, praktisi hukum, tenaga medis, hingga ilmuwan di berbagai bidang keilmuan lainnya, selama keahlian tersebut tetap dilandasi pemahaman agama yang kokoh.

“Tafaqquh fiddin ini bukan hanya mencetak muballigh, melainkan harus tumbuh pula teknokrat, ekonom, dan posisi-posisi strategis lainnya,” ujarnya, menegaskan bahwa kurikulum khas pesantren Persis dirancang untuk melahirkan kader yang menguasai ilmu agama sekaligus kompeten di bidang keahlian masing-masing, sehingga dakwah dapat hadir dari berbagai lini kehidupan, bukan hanya dari mimbar.

Pandangan ini sekaligus menjadi penegasan arah kurikulum ke depan: bahwa pesantren Persis tidak sedang mencetak generasi dengan satu profesi tunggal, melainkan generasi yang siap berkontribusi di berbagai sektor tanpa kehilangan jati diri keislamannya.

Tugas Lanjutan bagi Peserta yang Hadir

Rendahnya angka kehadiran menjadi catatan tersendiri bagi jajaran pengurus PC Persis Banjaran untuk seminar-seminar berikutnya. Di sisi lain, antusiasme yang ditunjukkan peserta yang hadir mengindikasikan bahwa materi kurikulum khas pesantren Persis masih relevan dan dibutuhkan di lapangan.

Sebagaimana disampaikan panitia, kini giliran 124 asatidz yang hadir untuk meneruskan hasil seminar kepada rekan-rekan sejawat yang berhalangan. (Herdi)