Angkat Tema Masa Depan Pers, Fifi Aleyda Yahya Beberkan Tantangan di Era Teknologi AI

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Fifi Aleyda Yahya saat memberikan sambutan pembuka dalam talkshow dan workshop yang mengangkat tema “Masa Depan Pers: Tumbuh Adaptif dengan Teknologi, Terjaga Kualitas dengan Fakta” yang digelar di Gedung Innovation Factory, Jalan Ir H Juanda Kota Bandung, Kamis, 24 September 2026. (Poto: Lj)

BANDUNG, LINTAS JABAR – Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Fifi Aleyda Yahya mengungkapkan bahwa perubahan teknologi telah mengubah pola kerja ruang redaksi secara signifikan.

Hal tersebut sejalan dengan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang memengaruhi dan membawa perubahan besar terhadap ekosistem pers dan kerja jurnalistik.

Kondisi itu dikemukakannya saat memberikan sambutan dalam talkshow dan workshop yang mengangkat tema “Masa Depan Pers: Tumbuh Adaptif dengan Teknologi, Terjaga Kualitas dengan Fakta” yang digelar di Gedung Innovation Factory, Jalan Ir H Juanda Kota Bandung, Kamis, 24 September 2026.

Ditambahkan Fifi, perkembangan teknologi kini memberikan banyak pilihan baru dan cukup memudahkan tugas dalam proses produksi berita. Namun demikian, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait penggunaan AI dan informasi yang beredar di media sosial.

Karenanya, di tengah perubahan yang berlangsung semakin cepat, insan pers dituntut mampu beradaptasi tanpa mengabaikan prinsip jurnalistik, terutama akurasi dan verifikasi fakta.

“Dalam penggunaan AI, pernah menemukan kasus ketika informasi mengenai seorang tokoh nasional berubah setelah diproses menggunakan teknologi. Tokoh yang diketahui hanya memiliki satu anak, misalnya, dalam hasil yang dihasilkan teknologi justru malah jadi memiliki tiga anak. Nah hal-hal tersebut yang harus kita benar-benar waspadai. Harus kembali kita cek,” katanya.

Menurut Fifi, teknologi seharusnya menjadi alat bantu bagi jurnalis, bukan menggantikan proses verifikasi dan kerja jurnalistik. Di sisi lain, media juga menghadapi perubahan pola konsumsi informasi.

Ia mengingatkan dengan kondisi tersebut membuat jurnalis dan pengelola media harus memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Namun, kecepatan produksi berita tetap harus diimbangi dengan akurasi.

Bahkan Fifi pun mengingatkan bahwa kepercayaan publik merupakan modal penting bagi media.

“Trust atau kepercayaan itu tidak lahir secara instan. Reputasi itu dibangun bertahun-tahun, bisa runtuh dalam waktu satu hari,” ujarnya.

Tiga narasumber dari sebelah kiri ke kanan diantaranya, Pemimpin Redaksi Tirto.id Rachmadin Ismail atau Mas Madin, Akademisi Dr Ahcmad Abdul Basith yang juga Komisioner KPID Provinsi Jawa Barat serta Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto. (Poto: Lj)

Pada kesempatan talkshow tersebut, diisi oleh narasumber dari kalangan pers, akademisi, dan praktisi media.

Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto saat itu mengupas soal perspektif mengenai profesionalisme dan masa depan pers.

Sementara itu, akademisi Dr Ahcmad Abdul Basith yang juga Komisioner KPID Provinsi Jawa Barat memberikan pandangannya mengenai perkembangan jurnalistik dan tantangan profesi di era teknologi.

Adapun praktisi media yang diisi Pemimpin Redaksi Tirto.id Rachmadin Ismail atau Mas Madin serta Wakil Pemimpin Redaksi Tirto.id Rina Nurjanah turut berbagi pengalaman mengenai adaptasi ruang redaksi terhadap perubahan teknologi.

Menariknya, pada talksow mengemuka tentang peranan dan keunggulan media lokal yang memiliki proximity atau kedekatan dalam periatiwa yang terjadi.

Karenanya, kedekatan atau proximity menjadi salah satu keunggulan media lokal yang tidak selalu dimiliki media yang berada jauh dari lokasi kejadian. (San)