BNPB Gelar Seminar dan Bedah Buku Citarum Harum

  • Bagikan

BANDUNG, LJ – Selain berdampak dan meningkatkan risiko bencana, kerusakan lingkungan dan pencemaran lingkungan DAS Citarum pun telah mengakibatkan banyak menelan kerugian.

Untuk itu, dalam upaya mengembalikan fungsinya sungai Citarum sebagai sumber air baku untuk pertanian dan komsumsi masyarakat, sebagai salah satu sungai strategis nasional, pemulihan Sungai Citarum juga merupakan kawasan yang menjadi prioritas pemerintah.

Hal tersebut diperkuat dan tertuang dalam Perpres Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum.

Seminar nasional yang mengusung tema Model Sinergitas Pentahelix Merawat Alam dan Mitigasi Bencana yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Kodam III Siliwang, Dinas Lingkungan Hidup Jabar, dan Citarum Institute, Komunitas di sekitar Citarum diharapkan dapat membangun dan semakin menyadarkan pentingnya merawat Citarum guna mengurangi dampak bencana.

“Mari kita bersama-sama mensukseskan program Citarum Harum, sebab kegiatan ini bertujuan untuk menggulirkan niat baik kita semua untuk merawat dan kesadaran dan pentingnya berfikir bagi ihtiar pengurangan bencana yang saat ini harus menjadi fokus perhatian kita bersama,” ujar Kepala BNPB, Doni Monardo di Grand Asrilia Jl. Pelajar Pejuang 45 No.123 Kota Bandung,  Jumat (22/2/2019).

Acara ini pun dihadiri Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Ida Bagus Putera Parthama, Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Trie Soewandono, Rektor Universitas Pasundan sekaligus Ketua APTISI Jabar-Banten Eddy Jusuf, dan Komunitas pengiat lingkungan se-Jawa Barat.

Seminar sendiri menghadirkan tiga pembicara utama yaitu Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, Deputi 4 Kemenko Maritim Dr. Ir. Safri Burhanuddin, DEA serta  Gubernur Jawa Barat Mochamad Ridwan Kamil, ST, MUD.

Pada kesempatan itu dirangkai juga event Bedah Buku yang bertajuk “Kembalikan Citarum Harum”. Buku setebal 380 halaman itu merupakan hasil telisik dua orang diantaranya Joko Irianto Hamid dan Esa Tjatur Setiawan yang menulis paparan jurnalistik yang diniati untuk menjawab kritikan dunia internasional dimana sungai Citarum dijuluki “sungai terkotor sedunia” sejak 2013 oleh Black Smith Institute, organisasi nirlaba berbasis di New York.

Sedang materi “Kualitas sungai hakekatnya menggambarkan kualitas peradaban suatu bangsa” dikupas Irma Hutabarat (Vetiver Indonesia); Joko Irianto Hamid (Lensa Indonesia.com),  Dadan Ramdhan (Walhi Jabar), Haryono Budi Utomo (Artha Graha Peduli). (San)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan