
BANDUNG, LINTAS JABAR – Film Musuh Dalam Selimut yang dibintangi oleh Yasmin Napper, Arbani Yasiz, dan Megan Domani, dan disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu merupakan film drama-thriller psikologis Indonesia yang tak hanya menyuguhkan drama rumah tangga yang menyesakkan, tetapi juga membuka percakapan tentang kepercayaan, pengkhianatan, dan luka emosional yang kerap tersembunyi di balik hubungan paling dekat.
“Musuh Dalam Selimut” begitulah cerita film ini berpusat pada Gadis, yang diperankan oleh Yasmin Napper, yang mulai mencurigai suaminya, Andika (Arbani Yasiz), dan sahabatnya, Susi (Megan Domani), memiliki hubungan terlarang.
Film ini pun menyentuh isu persahabatan palsu dan cinta yang dikhianati, serta tekanan batin dan manipulasi emosional yang intens.
Para pemerannya pun mengaku terlibat secara emosional dalam proses pendalaman karakter.
Seperti diungkapkan Yasmin Napper, yang memerankan Gadis, ia menyebut karakter ini sebagai salah satu peran paling sunyi namun berat yang pernah ia jalani.
“Gadis itu tidak banyak berteriak atau meluapkan emosi. Justru rasa sakitnya dipendam. Tantangannya adalah menyampaikan luka itu lewat tatapan, jeda, dan bahasa tubuh,” ujar Yasmin kepada awak media di sela acara meet and greet di Empire XXI BIP Bandung, Kamis 25 Desember 2025.
Ia menambahkan, trauma kehilangan yang dialami Gadis sejak kecil membuat pengkhianatan terasa berlipat ganda.
“Saat ia tahu orang-orang terdekatnya berkhianat, itu bukan cuma soal cinta, tapi rasa ditinggalkan lagi untuk kesekian kalinya,” urainya.
Sementara itu, Arbani Yasiz mengakui karakter Andhika jauh dari tipikal sosok heroik.

“Andhika terlihat seperti suami ideal di awal penolong, perhatian, dan penuh empati. Tapi justru di situlah bahayanya. Ia tidak jahat secara frontal, melainkan lemah dalam batasan,” katanya.
Menurut Arbani, Andhika adalah representasi orang-orang yang menyakiti tanpa merasa diri mereka bersalah.
“Ia merasa semua masih bisa dikendalikan, padahal dampaknya menghancurkan.,” ucapnya.
Peran Suzy yang hangat sekaligus manipulatif dihidupkan dengan intens oleh Megan Domani, Ia menyebut Suzy sebagai karakter paling ambigu.
“Suzy tidak sepenuhnya merasa dirinya antagonis. Ada luka, ada keinginan untuk memiliki apa yang tidak bisa ia punya,” jelas Megan.
Ia menambahkan, pendekatan Suzy yang penuh empati justru menjadi senjata paling berbahaya.
“Dia hadir sebagai ‘perempuan paling mengerti’, sampai akhirnya kehangatan itu berubah menjadi ancaman,” tambahnya.
Deretan pemeran pendukung turut memperkuat atmosfer cerita. Cakrawala Airawan sebagai Indarto, atasan Gadis, menggambarkan bentuk kekerasan yang kerap dianggap sepele.

“Kadang yang paling menakutkan bukan kekerasan fisik, tapi penyalahgunaan kuasa yang dibungkus profesionalisme,” ujarnya.
Bagi para pemain, Musuh Dalam Selimut bukan sekadar drama perselingkuhan. Film ini menjadi cermin tentang batas kepercayaan dan keberanian menghadapi kebenaran.
Dengan tensi yang dibangun perlahan dan emosi yang terjaga, Musuh Dalam Selimut mengajak penonton menyelami fakta pahit: terkadang, ancaman terbesar justru datang dari orang yang paling kita percaya.
Sedang sebelumnya disampaikan Sutradara Hadrah Daeng Ratu bahwa kisah film ini terinspirasi dari kejadian nyata mengenai hancurnya hubungan rumah tangga akibat orang ketiga dari lingkaran pertemanan. (San)












