Peresmian Student Center IAIPI Bandung, Hoerudin Soroti Krisis Ekologi dan Peran Kampus

Ketua IKA IAI Persis Bandung M. Hoerudin Amin yang juga anggota DPR RI hadir sebagai narasumber bersama Dr. MS Ka’ban dan M. Sulwan Kosasih pada Diskusi Publik bertema Dari Mimbar ke Gerakan: Dakwah Ekoteologi dan Krisis Iklim, Sabtu (16/5/2026).

KAB. BANDUNG, LINTAS JABAR — Ketua Ikatan Alumni (IKA) IAI Persis Bandung, Muhammad Hoerudin Amin, menegaskan pentingnya “kesadaran ruang” sebagai fondasi jati diri manusia dalam merespons krisis lingkungan.

Hal itu disampaikannya saat memberikan materi pada diskusi publik sekaligus dirangkai dengan peresmian Student Center IAI Persis Bandung, di kawasan Kampus IAI Persis Bandung Jl. Ciganitri Bojongsoang Kabupaten Bandung, Sabtu (16/5/2026).

“Kesadaran ruang adalah ciri jati diri manusia. Ketika manusia kehilangan kesadaran itu, maka relasinya dengan alam ikut rusak,” ujar Hoerudin yang juga anggota DPR RI Komisi X.

Acara yang berlangsung pukul 09.00–15.00 WIB ini mengangkat tema “Dari Mimbar ke Gerakan: Dakwah Ekoteologi dan Krisis Iklim” serta dihadiri mahasiswa, alumni, dan akademisi. Selain Hoerudin, hadir sebagai narasumber Dr. MS Ka’ban dan M. Sulwan Kosasih.

Hoerudin juga menekankan bahwa kemuliaan kehidupan manusia sangat bergantung pada kesadarannya terhadap lingkungan. Ia mendorong agar kampus, khususnya IAIPI Bandung, mulai memasukkan studi ekologi sebagai bagian integral dalam sistem pendidikan.

“Kesadaran ekologis tidak cukup menjadi wacana. Ia harus menjadi struktur pengetahuan yang diajarkan secara sistematis,” katanya.

Menurutnya, krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak lepas dari cara pandang manusia yang memisahkan dirinya dari ruang hidupnya. Karena itu, kampus memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran tersebut sejak dini.

Sementara itu, Dr. MS. Ka’ban dalam forum yang sama menegaskan bahwa krisis iklim merupakan isu global yang menyangkut relasi antara Tuhan, manusia, dan alam.

“Ekologi adalah interaksi tiga unsur itu. Jika satu rusak, maka keseluruhan sistem akan terganggu,” ujarnya.

Ka’ban juga mengkritik pendekatan global yang dinilai terlalu bertumpu pada wacana seperti perdagangan karbon tanpa diiringi aksi konkret.

“Omong kosong perdagangan karbon tanpa gerakan penanaman pohon,” tegasnya.

Adapun M. Sulwan Kosasih mengajak peserta untuk membangun komitmen dengan menempatkan agama sebagai orientasi utama, sementara teknologi sebagai alat bantu.

“Agama adalah sisi pertama, teknologi hanya fasilitas kemudahan,” ujarnya.

Peresmian Student Center IAIPI Bandung ini diharapkan menjadi pusat aktivitas mahasiswa yang tidak hanya mengembangkan intelektualitas, tetapi juga mendorong lahirnya gerakan nyata dalam merespons persoalan lingkungan.

Diskusi yang berlangsung dinamis tersebut menegaskan satu benang merah: perlunya transformasi dari sekadar wacana menuju aksi konkret, dengan kesadaran ruang sebagai pijakan utama dalam membangun relasi manusia dengan alam. (Herdi)