
KAB. BANDUNG, LINTAS JABAR – Sejumlah aktivis, pegiat budaya, mahasiswa, dan tokoh kepemudaan berkumpul dalam forum Diskusi dan Refleksi Film Pesta Babi yang diselenggarakan Al-Furqon Institute di Aula Al-Furqon Banjaran, Selasa (16/6/2026) malam.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Ihsan Nugraha selaku Direktur Al-Furqon Institutetersebut menjadikan film sebagai pintu masuk untuk membaca persoalan lingkungan, ketimpangan pembangunan, relasi kekuasaan, dan masa depan masyarakat lokal.
Aktivis sosial Harlans M. Fachra menyoroti ancaman eksploitasi sumber daya alam yang menurutnya kerap mengorbankan masyarakat di daerah. Ia mengingatkan bahwa kerakusan kelompok-kelompok berkepentingan di pusat kekuasaan dapat membahayakan kehidupan masyarakat lokal yang selama ini hidup berdampingan dengan alam.
“Hutan adalah paru-paru bumi yang telah ditanam Tuhan. Ketika ia dirusak, yang hilang bukan hanya pohonnya, tetapi juga ruang hidup manusia,” ujarnya.
Sementara itu, aktivis reformasi Dadan Saputra menilai bahwa film Pesta Babi dapat dibaca dari berbagai perspektif, namun pada akhirnya memperlihatkan persoalan yang sama, yakni hegemoni kekuasaan dan ketidakadilan.
“Analisis apa pun terhadap film ini pada akhirnya akan berbicara tentang relasi kuasa dan ketidakadilan,” katanya.
Menurut Dadan, krisis energi yang selama ini menjadi perhatian dunia kini telah berkembang menjadi krisis lingkungan yang lebih luas. Ia juga menyoroti berbagai ketentuan yang membatasi akses publik terhadap informasi atas nama rahasia perusahaan, rahasia negara, dan berbagai pengecualian lainnya.
Dari perspektif kepemudaan, Riyan Hidayatullah menegaskan bahwa cita-cita besar bangsa seperti swasembada pangan dan kemandirian energi harus berjalan seiring dengan keadilan sosial. Ia mengajak generasi muda untuk kritis membaca berbagai narasi yang berkembang di ruang publik, termasuk berbagai wacana perubahan sosial dan politik.
Menurutnya, film dapat menjadi pemantik kesadaran terhadap nilai-nilai Pancasila yang dalam praktiknya masih sering tidak ditemukan dalam berbagai kebijakan maupun aktivitas ekonomi.
“Ketidakadilan yang dilakukan baik oleh negara maupun korporasi harus menjadi perhatian bersama. Anak muda tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi bagian dari solusi,” tegasnya.
Budayawan muda Rosihan Fahmi mengajak peserta membaca film dari perspektif kebudayaan. Ia menyoroti tagline film, ‘Papua Bukan Tanah Kosong’, lalu menghubungkannya dengan kondisi daerah sendiri.
“Kalau Papua bukan tanah kosong, lalu bagaimana dengan kita? Apa kabar Banjaran?” tanyanya.
Menurut Fahmi, pembangunan sering kali dimaknai berbeda oleh pemerintah dan masyarakat yang merasakan langsung dampaknya. Karena itu, sikap kritis harus tetap dirawat.
“Kita boleh romantis dengan pemerintah, tetapi jangan lupa kritis,” ujarnya.
Di akhir diskusi, Fahmi mengusulkan agar pertemuan berikutnya dilaksanakan di alam terbuka saat malam purnama agar refleksi yang dibangun lebih dekat dengan realitas yang sedang dibicarakan.
“Pertemuan berikutnya outdoor saja, di bawah bulan purnama. Supaya refleksinya betul-betul menyatu dengan alam. Kita ini kumpulan orang-orang gelisah yang sedang berbicara tentang alam yang juga cukup gelisah dan marah,” katanya.
Forum tersebut juga diwarnai penampilan musik dan puisi reflektif dari Rozenski. Melalui karya-karyanya, ia mengajak peserta merenungkan kembali hubungan manusia dengan alam, keberanian, dan makna perlawanan.
“Kesunyian adalah nyali,” ucapnya dalam salah satu penggalan puisi yang mendapat apresiasi peserta.
Pada sesi dialog, peserta bernama Ramdan mengangkat pertanyaan tentang bagaimana meredam hiruk-pikuk batin para penguasa sehingga kesederhanaan dapat menjadi dasar keberanian dan kepemimpinan.
Sementara peserta lain, Deni, menyoroti perbedaan mendasar antara konsep persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa.
Menutup kegiatan, Direktur Al-Furqon Institute, Ihsan Nugraha, menegaskan bahwa forum tersebut tidak dimaksudkan untuk menghakimi pihak lain.
“Forum ini tidak ditujukan untuk mengkritik orang lain. Yang paling utama adalah bagaimana kita mengkritik diri kita sendiri. Sebab perubahan sosial selalu dimulai dari kesediaan untuk bercermin dan memperbaiki diri,” ujarnya.
Diskusi yang berlangsung hingga larut malam itu menunjukkan bahwa film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi media literasi sosial yang mendorong lahirnya kesadaran kritis terhadap berbagai persoalan bangsa. Bagi para peserta, forum tersebut menjadi ruang untuk merawat kegelisahan, mempertajam refleksi, dan menumbuhkan kepedulian terhadap masa depan manusia serta lingkungan hidup. (Herdi)












