Opini  

Syirik Tanpa Patung; Ketika Simbol Tidak Lagi Menunjuk kepada Allah

Oleh: Herdiana*

SELAMA ini syirik sering dipahami sebagai tindakan menyembah sesuatu selain Allah. Pemahaman tersebut tentu benar. Namun pertanyaannya, apakah syirik selalu bermula dari penyembahan?

Pertanyaan ini penting diajukan karena Al-Qur’an memberikan gambaran yang lebih kompleks tentang kemusyrikan. Kaum musyrikin Mekah bukanlah kaum yang menolak keberadaan Allah. Mereka mengakui Allah sebagai pencipta langit dan bumi. Mereka mengenal Ka’bah, menghormati warisan Nabi Ibrahim, melaksanakan haji, bahkan mengaitkan banyak aktivitas keagamaannya dengan Tuhan.

Namun mengapa mereka tetap disebut musyrik?Mungkin jawabannya tidak semata-mata terletak pada apa yang mereka lakukan, tetapi pada bagaimana mereka memaknai apa yang mereka lakukan.

Di sinilah Surat Quraisy menawarkan perspektif yang menarik.Melalui empat ayat yang sangat singkat, Allah tidak memulai komunikasi-Nya dengan larangan atau ancaman. Allah justru mengajak Quraisy membaca ulang realitas yang telah mereka kenal sehari-hari.

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.”

Perjalanan dagang, keamanan jalur perdagangan, dan posisi strategis Mekah adalah simbol-simbol sosial yang membentuk identitas Quraisy. Mereka memaknai semua itu sebagai bagian dari keunggulan kolektif yang mereka miliki.

Namun Al-Qur’an kemudian menggeser pusat makna tersebut: “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini, yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.” Perdagangan tetap perdagangan.Keamanan tetap keamanan.

Ka’bah tetap Ka’bah.Yang berubah adalah cara memaknainya.Apa yang sebelumnya dipahami sebagai hasil kehebatan suku, ditafsirkan ulang sebagai karunia Allah. Apa yang sebelumnya menjadi sumber kebanggaan, dikembalikan menjadi alasan untuk bersyukur dan beribadah.

Jika dibaca melalui perspektif Interaksi Simbolik, hidayah dapat dipahami sebagai proses pelurusan makna terhadap simbol-simbol kehidupan.

Manusia tidak hidup di tengah benda-benda semata. Manusia hidup di tengah makna. Ia tidak sekadar melihat uang, jabatan, organisasi, kekuasaan, atau tokoh. Ia memberi makna pada semuanya. Dari makna itulah lahir sikap dan perilaku.

Karena itu, perubahan hidup seseorang sering kali tidak diawali oleh perubahan benda yang ada di sekelilingnya, melainkan oleh perubahan cara ia memaknainya.

Dari titik ini muncul sebuah pemikiran yang menarik: jika hidayah adalah pelurusan makna, maka kesesatan dan kemusyrikan dapat dipahami sebagai penyimpangan makna.

Syirik bukan pertama-tama persoalan patung, batu, atau benda tertentu. Syirik bermula ketika manusia memberikan makna yang keliru kepada sesuatu yang semestinya hanya berfungsi sebagai sarana.

Al-Qur’an memberikan ilustrasi yang sangat jelas mengenai hal ini. Kaum musyrikin berkata: “Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3).

Patung-patung itu tidak mereka yakini sebagai pencipta alam semesta. Yang berubah bukan bendanya, melainkan makna yang mereka lekatkan kepadanya. Dari simbol penghormatan, ia berubah menjadi simbol perantaraan. Dari simbol perantaraan, ia berubah menjadi objek penghambaan.

Dengan kata lain, kemusyrikan lahir ketika simbol kehilangan makna tauhidnya.

Persoalan ini sesungguhnya tidak hanya terjadi pada masyarakat Arab masa lalu. Ia terus hadir dalam berbagai bentuk yang lebih halus.

Uang, misalnya, pada hakikatnya hanyalah alat transaksi. Namun ketika uang dimaknai sebagai sumber keamanan hidup yang mutlak, ia mulai mengambil posisi yang semestinya hanya dimiliki Allah.

Jabatan adalah amanah. Tetapi ketika jabatan menjadi satu-satunya ukuran harga diri, ia telah mengalami transformasi makna.

Organisasi adalah sarana perjuangan. Akan tetapi ketika loyalitas kepada organisasi mengalahkan loyalitas kepada kebenaran, organisasi telah berubah dari alat menjadi tujuan.

Bahkan tokoh agama pun tidak luput dari kemungkinan ini. Ketika penghormatan berubah menjadi pengultusan, ketika kritik dianggap sebagai pengkhianatan, dan ketika kebenaran diukur dari siapa yang berbicara, bukan dari apa yang dibicarakan, maka telah terjadi pergeseran makna yang berbahaya.

Yang membuat fenomena ini sulit dikenali adalah karena pelakunya sering kali tidak merasa sedang menyimpang. Dalam teori Interaksi Simbolik, manusia bertindak berdasarkan makna yang dianggap benar dalam lingkungannya. Ketika suatu makna yang keliru telah diterima secara luas, ia akan tampak normal bahkan tampak saleh.

Barangkali inilah yang dimaksud Al-Qur’an ketika menggambarkan orang-orang yang mengira dirinya telah berbuat sebaik-baiknya, padahal sesungguhnya mereka berada dalam kerugian.

Dari perspektif ini, dakwah memperoleh makna yang lebih luas. Dakwah bukan hanya menyampaikan perintah dan larangan. Dakwah adalah usaha merebut kembali makna simbol-simbol kehidupan agar kembali menunjuk kepada Allah.

Tugas para nabi bukan sekadar mengubah perilaku manusia, tetapi terlebih dahulu meluruskan cara manusia membaca realitas. Sebab perilaku hanyalah buah dari makna yang hidup dalam kesadaran seseorang.

Mungkin karena itulah Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk melihat, berpikir, merenung, dan membaca tanda-tanda kehidupan. Bukan karena Allah membutuhkan pengakuan manusia, tetapi karena manusia sering kali gagal memahami makna di balik apa yang dilihatnya.

Pada akhirnya, tauhid bukan hanya persoalan mengucapkan kalimat lā ilāha illallāh. Tauhid adalah kemampuan menempatkan segala sesuatu pada makna yang benar. Sebaliknya, syirik bukan selalu bermula ketika manusia menyembah sesuatu selain Allah. Syirik bisa bermula ketika manusia salah membaca makna sesuatu yang semestinya mengantarkannya kepada Allah.

Dengan demikian, perjuangan terbesar seorang mukmin mungkin bukan hanya menjaga perilakunya dari penyimpangan, tetapi juga menjaga cara pandangnya agar simbol-simbol kehidupan tetap menunjuk kepada Sang Pencipta, bukan berhenti pada dirinya sendiri.

*Penulis: Mahasiswa Magister KPI UIN Bandung