
KAB. BANDUNG, LINTAS JABAR – Jamaah PERSIS di Kampung Babakan, Desa Ciapus, Kecamatan Banjaran, kini memiliki rumah organisasinya sendiri. Minggu 23 agustus 2026, bertempat di Masjid Mathla’ul Hasanah, Pimpinan Cabang (PC) PERSIS Banjaran meresmikan berdirinya Pimpinan Jamaah (PJ) PERSIS Babakan sebagai jamaah ke-34 di wilayah kerjanya.
Acara berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 13.00 WIB, dihadiri unsur pemerintahan Desa Ciapus, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat setempat, serta PJ PERSIS Ciapus selaku jamaah induk yang selama ini menaungi wilayah Babakan.
Peresmian ditandai dengan pembacaan Surat Keputusan bernomor 051/PJ.34–C.1/J.009/2026 tentang Peresmian Pembentukan Pimpinan Jamaah Persatuan Islam Babakan Cabang Banjaran, yang dibacakan langsung oleh Wakil Ketua PC PERSIS Banjaran, H. Ana Karmana, S.Ip.
Bukan Sekadar Menambah Nomor Jamaah
Di balik SK yang dibacakan hari itu, tersimpan perjalanan yang tidak sebentar. Ketua PC PERSIS Banjaran, H. D. Pandi, dalam sambutan peresmian mengungkapkan bahwa usulan pemekaran PJ Babakan sesungguhnya sudah lama diajukan warga setempat. Namun PC tidak serta-merta menyetujuinya.
“Ada proses pembinaan terlebih dahulu. Kesiapan psikologi juang, komunikasi horizontal, sampai persoalan administrasi dan aset harus dipastikan. Jangan sampai setelah terbentuk justru muncul masalah di kemudian hari,” tegasnya di hadapan jamaah.
Baginya, lahirnya sebuah PJ baru tidak boleh diukur dari bertambahnya nomor struktur semata, melainkan dari bertambahnya kapasitas dakwah dan menguatnya mutu pembinaan umat di lapangan.
Wawuh Munding: Kritik untuk Umat yang Hanya Kenal Nama
Momentum peresmian dimanfaatkan H. D. Pandi untuk mengajak jamaah merenungkan kembali relasi mereka dengan Al-Qur’an. Ia membagi cara umat mengenal Al-Qur’an ke dalam dua watak.
Watak pertama, sekadar tahu nama tanpa tahu rupa: Al-Qur’an diimani sebagai kitab suci, namun isinya tak pernah benar-benar dikaji. Watak kedua, tahu nama dan tahu rupa, tetapi tak pernah bertegur sapa — Al-Qur’an dimiliki, dibaca, bahkan dihafal sepotong-sepotong, namun tidak dijadikan ajakan sungguh-sungguh untuk berinteraksi sebagai penunjuk arah hidup.
Dalam ungkapan Sunda, keadaan itu diistilahkan wawuh munding: saling kenal, tapi tak pernah benar-benar berinteraksi. Sindiran ini, kata H. D. Pandi, menyentuh persoalan umat yang sebenarnya — bukan soal Al-Qur’an dikenal atau tidak, melainkan soal sejauh mana ia benar-benar meresap ke dalam kesadaran, cara berpikir, dan laku harian.
Ia berharap jamaah tidak berhenti mengenal Al-Qur’an sekadar sebagai simbol keagamaan, tetapi memaksa diri untuk terus berinteraksi, mengkaji, memahami, hingga menjadikannya jalan naratas rahmatan lil ‘alamin — menempuh jalan yang menghadirkan kasih sayang dan kemaslahatan bagi seluruh alam.

Masjid Mathla’ul Hasanah, Simbol yang Harus Dihidupkan
Pesan yang sama disampaikan H. D. Pandi ketika mengulas nama masjid tempat acara berlangsung. Mathla’ul Hasanah, secara maknawi, berarti tempat terbitnya kebaikan.
Karena itu, tegasnya, masjid tidak boleh berhenti menjadi bangunan fisik atau sekadar tempat ritual, melainkan harus tumbuh sebagai pusat kegiatan umat: tempat pengajian berkembang, pembinaan berlangsung, silaturahmi terjalin, persoalan umat dimusyawarahkan, dan kebaikan terus dipancarkan ke lingkungan sekitarnya.
Pesan ini, menurutnya, selaras dengan makna kelahiran PJ Babakan itu sendiri. Sebuah organisasi tidak akan bermakna hanya karena memiliki struktur dan surat keputusan; nilainya justru terletak pada sejauh mana keberadaannya mampu menggerakkan jamaah dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekitarnya.
Di penghujung sambutannya, Ketua PC PERSIS Banjaran secara resmi menetapkan PJ PERSIS Babakan sebagai PJ ke-34 di wilayah kerja PC PERSIS Banjaran.
Kepemimpinan Baru, Kerja Baru
Usai peresmian, kegiatan berlanjut dengan Musyawarah Jamaah pertama yang diikuti unsur PERSIS dan PERSISTRI Babakan, forum yang sekaligus menjadi ajang penentuan arah dan kepemimpinan organisasi.
Dari musyawarah ini, Ustadz Angga Nugraha, M.Pd. terpilih sebagai Ketua PJ PERSIS Babakan pertama, berpasangan dengan Ustadzah Teti Ningsih yang dipercaya memimpin PJ PERSISTRI Babakan.
Dengan terbentuknya kepengurusan ini, Babakan resmi memasuki babak baru. Namun tantangan yang sesungguhnya justru baru dimulai: SK telah dibacakan, ketua telah ditetapkan, struktur telah berdiri — tetapi sebagaimana pesan wawuh munding yang disampaikan dalam peresmian, sebuah jamaah tidak akan hidup hanya karena memiliki nama dan kepengurusan. Ia membutuhkan interaksi yang terus terjalin, pembinaan yang berkesinambungan, dan kerja nyata di tengah umat.
Pekerjaan rumah PJ PERSIS Babakan ke depan pun menjadi jelas: memastikan kelahirannya benar-benar menghidupkan makna Mathla’ul Hasanah — tempat terbitnya kebaikan, tumbuhnya pembinaan, dan menguatnya dakwah di tengah masyarakat Babakan dan sekitarnya. (Herdi)












