Dada Rosada Rindukan Figur Aparat Cerdas Emosional dan Intelektual

  • Bagikan

BANDUNG (Lintasjabar.com),- Wali Kota Bandung, H. Dada Rosada merindukan, jajaran aparaturnya kedepan benar-benar menjadi figur pelayan masyarakat yang tidak saja cerdas secara emosional dan intelektual, tapi juga matang secara spiritual. Karena menurutnya, figur ini akan menjadi lokomotif perubahan yang membawa masyarakat kearah kemajuan dan kesejahteraan.

“Jajaran Aparatur Pemkot Bandung ke depan benar-benar menjadi insan-insan terpercaya dan amanah, insan yang bermartabat”, tandas Dada dalam kesempatan Halal Bihalal Iedul Fitri 1431 H/2010 dengan seluruh unsur pimpinan dan pegawai di lingkungan Pemkot Bandung, di Taman Dewi Sartika Jalan Perintis Kemerdekaan, Kamis (16/09).

Tampak hadir mantan Wali Kota Bandung, H. Aa Tarmana, jajaran Forum Komunikasi Unsur Pimpinan Daerah diantaranya Dandim 0618/BS Letkol. Yutfi Senjaya, Kapolrestabes Bandung, Kombes. Pol. Jaya Subriyanto, Wakil Wali Kota Bandung, Ayi Vivananda, para pejabat publik, Ketua PKK dan Dharma Wanita Persatuan Kota Bandung.

Mewujudkan kerinduan itu, menurutnya diperlukan komitmen dan kemauan mengubah diri menjadi insan berkarakter kuat. Tempaan 30 hari Shaum Ramadhan, diyakininya menjadi modal sekaligus pemacu semangat untuk mengubah kualitas diri menjadi lebih baik. Kedewasaan mental dan spiritual sudah lebih terasah. “Kebiasaan disiplin, patuh pada aturan, peduli lingkungan dan empati pada sesama harus terus dipertahankan bahkan ditingkatkan”, ujarnya.

Perubahan kuat karakter itu, imbuh Dada, jika dijaga secara konstan diyakininya pula bahwa fungsi pengawasan dari aparat manapun akan berkurang. Karena seluruh pegawai akan bekerja sesuai prosedur, disiplin dan taat azas seperti ketika berpuasa yang berharap keridoan Allah semata.

Dada berharap, Halal Bihalal Iedul Fitri juga akan menguatkan keharmonisan baik dalam hubungan pribadi maupun kedinasan. “Puasa Ramadhan pembelajaran bagi kita mengendalikan hawa nafsu, yang seharusnya membuat kita lebih bijak dan dewasa dalam menyikapi dinamika hubungan sosial”.

“Halal bihalal identik dengan memperkuat atau menyambung tali silaturahim. Halal bihalal adalah ikhtiar sosial yang berdimensi religius. Silaturahmi yang berlangsung di dalamnya mencerminkan keinginan bersama untuk menghilangkan hambatan komunikasi, sekaligus menebar kasih sayang dengan sesama”, imbuhnya.

H. Tengku Maulana dalam tauziyahnya mengingatkan, muslim belum bisa mengklaim beriman manakala dirinya belum memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya. Terlebih bagi seorang pemimpin, formal maupun non-formal ia harus melindungi rakyatnya. Termasuk menciptakan hubungan harmonis, membangkitkan kepekaan, kepedulian dan kesalehan sosial diantara warganya. (Herdi)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan