Deklarasi Pembubaran Geng Motor Sambut Tahun Baru 2011

  • Bagikan

BANDUNG (Lintasjabar.com),- Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bersama Kapolda Jawa Barat Irjen Suparni Parto bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah menyaksikan deklarasi pembubaran 4 geng motor ternama se Jawa Barat. Acara deklarasi tersebut diikuti empat geng motor di Jawa Barat, yakni XTC, Brigez, Moonraker, dan GBR. Deklarasi dilakukan di Halaman Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Jawa Barat, Jalan Soekarno Hatta, Jumat (31/12). Deklarasi itu sekaligus mendukung gerakan Jabar Kondusif 2011.

Dalam sambutannya, Heryawan menyampaikan apresiasi dan bahagianya atas inisiatif seluruh elemen untuk membubarkan geng motor. Untuk itu. Ke depan perlu upaya yang lebih kongkrit terkait dengan pembinaan generasi muda penggemar motor. “Perlu ada kegiatan yang mewadahi bakat anak muda di bidang otomotif. Diharapkan dengan adanya kegiatan itu dapat menjadi ajang mengasah bakat dan prestasi,” tegasnya

Deklarasi ini, lanjut Heryawan, merupakan kado Tahun Baru bagi masyarakat Jawa Barat. “Ini kado tahun baru bagi Jawa Barat semoga ke depannya semua aktivitas anak muda Jawa Barat bersifat prositif dan membangun,” harapnya di hadapan ratusan anggota geng motor yang sudah menyatakan pembubaran itu. Pada kesempatan itu, Gubernur juga menyaksikan pelepasan atribut geng motor sebagai simbol pembubaran.

Keempat geng motor diwakili langsung oleh ketua umumnya masing-masing. Dari XTC Indonesia Warmin, Moonraker Indonesia Arif Rahman, GBR Indonesia Julian Rahmawan, dan Brigez Indonesia Cecep Hendra Erawan. Sementara Deklarasi pembubaran geng motor dipimpin oleh Ketua Umum GBR Indonesia Julian Rahmawan. Isi deklarasi di antaranya, mereka mengakui kegiatan itu merugikan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Mereka juga ikhlas berhenti beraktivitas bermotor yang mengarah ke hal negatif.

Dalam kesempatan yang sama Suparni Parto menyambut deklarasi ini sebagai langkah yang baik. “Saya mencoba pola baru dan langkah-langkah baru, salah satunya geng motor yang sudah sangat meresahkan masyarakat. Oleh Polri mencoba dengan menguranginya. Tentunya cara yang tepat diantaranya dengan membubarkan geng motor tersebut,” ujarnya. Bubarnya geng motor ini, ujar Kapolda  merupakan fenomena yang menggembirakan dengan tidak kembali menggunakan nama kelompoknya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bandung, Ayi Vivananda menyatakan, deklarasi atau pernyataan sikap itu dinilainya sebagai hadiah 200 tahun Hari Jadi Kota Bandung mewujudkan suasana kamtimbas Kota Bandung  yang lebih kondusif. Masyarakat dikatakannya,sudah jenuh dengan berbagai kekisruhan antar klub motor, yang diantara kegiatannya tidak jarang mengarah pada tindakan kriminal. ”Kini saatnya anggota dan pengurus klub motor tampil sebagai pahlawan untuk menjaga suasana yang kondusif, berhenti dari tindakan anarkismenya selama ini,” ujarnya.

Pasca pembubaran, kata Ayi, Pemkot  akan mengundang mereka untuk bersama-sama

membahas program kedepan.  Sesuai komitmen, mereka siap di lingkungan hidup, turun membersihkan sungai dan aksi penanaman pohon. “Kita bersama-sama juga akan  menghapus vandalism, corat-coret atribut mereka yang ada di Kota Bandung. Kita akan fasilitasi catnya,”  imbuh Ayi.

Deklarasi Bandung Bersatu dan Bandung Damai, dikatakannya, akan akan memberi nilai tambah jika seluruh anggotanya mengisi kebersatuan dan kedamaian dengan karya-karya nyata bermanfaat bagi kepentingan umum. Berhenti melakukan narkisme dan menyalurkan kreativitasnya secara potitif. “Terima kasih dan apresiatif pada Kapolrestabes Bandung beserta jajaran, yang konsisten dan fokus mengatasi persoalan geng motor selama ini,” ujarnya.

Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Jaya Subriyanto menyatakan, menyelesaikan persoalan geng motor hal terpenting menurutnya bagaimana agar mereka membubarkan lebih dulu, merubah imej yang negatif kearah yang positif. Dirinya tidak akan membeda-bedakan sipapun yang melakukan kriminalitas di jalanan, pihaknya akan melakukan tindakan tegas.

Pembubaran geng motor, diartikannya, mereka tidak akan melakukan kegiatan kriminalitas, kegiatan merugikan masyarakat. Harapannya, nama geng motor beserta atributnya tidak lagi dipakai.

Karena meski ada perubahan kepanjangan tapi masih menggunakan nama geng lama, masyarakat masih akan menilai negatif. Untuk itu dirinya menyarankan istilah GBR, XTC, Moonraker dan Brigez benar-benar dihapus dan dihilangkan.

“Selain sanksi dan tindakan represif sesuai hukum, kita bersama jajaran pimpinan daerah lainnya juga berkomitmen, akan melaporkan siapapun yang terlibat geng motor pada institusinya.  Jika pelajar pada kepala sekolahnya, masyarakat ke RW nya, jika karyawan swasta ke pimpinan perusahaannya, jika PNS, TNI atau Polri ke  atasan  instansinya bekerja,” jelas Jaya. (Zaen/Herdi)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan