Hoerudin: Religiusitas Dalam Kehidupan Berbangsa Bernegara Sudah Berlangsung Sejak Lama

  • Bagikan
Anggota MPR RI, Muhammad Hoerudin Amin saat Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan dihadapan warga Mandala Kasih Kabupaten Garut

KAB. GARUT, LJ – Bangsa Indonesia adalah bangsa yang lahir dan tumbuh dalam semangat keagamaan yang baik. Bahkan hal itu terus terjadi dan berlangsung sejak dari jaman sebelum Masehi sampai abad sekarang.

Demikian disampaikan anggota MPR RI, Haerudin yang kini status namanya sudah reami berubah hasil keputusan Pengadilan Negeri Bale Bandung dan tercatat bernama lengkap Muhammad Hoerudin Amin, S.Ag., MH saat menyosialisasikan empat pilar kebangsaan di Padepokan Manda Agung Kampung Baru Desa Mandala Kasih Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut, Selasa 16 Nopember 2021.

Acara yang digagas Yayasan Al Ikhlas tersebut tampak dihadiri para kepala desa (kades) se-Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut, selain juga Kades Mandala Kasih, Iwan serta dihadiri pula Ketua MUI Kecamatan Pameungpeuk, KH. Hasan Basyari.

Diungkapkan Hoerudin, perjalanan dan semangat keagamaan yang baik itu tumbuh pula sejak dari Halaman Salaka Nagara sampai Pajajaran Majapahit.

“Ruang keagamaan hidup menghiasi perilaku berbangsa bernegara. Sebagai salah satu ajaran yang pernah hidup pada tahun 1111 Masehi. Hal ini pula menjadi salah satu ajaran yang menjadi amanah bagi sebuah tatanan kehidupan dan merupakan amanah tahun 1175, yakni amanat Galunggung amanatnya Prabu Guru Darmasiksa,” tutur anggota Komisi IV Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ini dihadapan warga Mandala Kasih.

Menyinggung sejarah Galunggung di masa lalu adalah sebuah mandala atau kabuyutan yang sangat dimuliakan. Mandala atau kabuyutan adalah tempat kegiatan keagamaan. Ia juga menyebut, isi amanat yang terdapat pada naskah Amanat Galunggung bersumber dari petuah-petuah Batari Hyang, yakni yang membuat parit pertahanan di Galunggung. Salah satu peringatan Sang Batari dalam amanatnya ialah agar anak-turunannya dapat selalu menjaga ajaran leluhur, dan jika tidak mampu maka lebih mulia kulit lasun di tempat sampah.

“Dalam Amanat Galunggung, juga banyak ajaran yang ditujukan untuk semua kalangan masyarakat. Di antaranya tentang pentingnya memelihara sikap rendah hati, seperti yang dikenal sekarang dengan sebutan ilmu padi,” katanya.

Anggota MPR RI Fraksi PAN, Muhammad Hoerudin Amin

Hoerudin juga mengutip Naskah Amanat Galunggung Rakeyan Darmasiksa, Raja Sunda dari tahun 1175 hingga 1297 Masehi diantaranya terkait Agamaning Pare atau Ilmu Padi yang berisi “Na twah rampes dina urang, agamaning pare mangsana jumarum, telu daun mangsana di owyas, gede pare, mangsana bulu irung, neukah, takarah, kasep nangwa tu iya ngaranya, umeusi takarah lagu tungkul harayhay asak, takarah candukur, ngarasa maneh kaeusi” dengan maksud arti ‘Adapun amal yang sempurna pada diri kita adalah ilmu padi. Pada saat bertunas seperti jarum, keluar 3 daun saat disiangi, tumbuh dewasa, keluar kuncup seperti bulu hidung, mekar buah, ia menunjuk langit, ia menengadah indah tampang disebutnya. Setelah berisi tiba saat mulai merunduk, menguning masak ia makin merunduk karena merasa diri telah berisi’.

“Yen kudu jadi jelema anu bisa ngeunteung kana hirupna pare, utamana dina pasifatan jeung tingkah laku jelema anu boga elmu. Nyaeta beuki gede elmu katarima, kudu lungguh. Ulah asa aing luhur elmu jembar pangabisa anu antukna elmu nu dipikaboga jadi euweuh guna lantaran sifat asa aing adigung gede hulu atawa sombong. Sabab pasifatan polah atawa tingkah laku adigung eta teu surup kana tangtung teu sieup ngimbang kana wanda anu sakumaha saestuna pikukuh kolot Sunda baheula. Jadi jelema tara nembongkeun pangabisa tara ebreh pangartina,” bebernya dengan bahasa sunda yang kental.

Sementara itu, Ketua MUI Kecamatan Pemeungpeuk, KH. Hasan Basyari dalam sambutannya menjelaskan, bahwa menggali nilai-nilai luhur dalam sejarah adalah ajaran agama Islam agar manusia bisa hidup lebih beradab untuk masa depan.

Senada dengan yang diungkapkan Kades Mandala Kasih ia menyebut upaya sosialisasi 4 pilar ini penting sebab masyarakat butuh penjelasan dan pencerahan agar tahu tuntunan agama berbangsa dan bernegara. (***)

  • Bagikan