
BANDUNG, LJ – Pernyataan anggota DPR RI Arteria Dahlan dalam rapat bersama Kejagung di DPR RI banyak menuai kecaman karena dinilai sangat melukai warga Sunda.
Tidak sedikit pejabat publik, tokoh masyarakat bahkan masyarakat menilai ungkapan yang dilontarkan Arteria saat itu dipandang bertentangan dari sikap mempersatukan anak bangsa sebagai landasan nilai luhur Pancasila.
Salah satunya diungkapkan anggota DPRD Jawa Barat, H. Arif Hamid Rahman, SH usai dirinya mensosialisasikan empat pilar kebangsaan di kawasan Gegerkalong Hilir Bandung, Kamis 20 Januari 2022.
Ditegaskannya, bukan hanya sekadar slogan semata, Bhineka Tunggal Ika merupakan gambaran dari bangsa Indonesia. Adapun, ‘Bhina’ artinya pecah, ‘Ika’ artinya itu, ‘Tunggal’ artinya satu, sehingga Bhineka Tunggal Ika berarti terpecah itu satu.
“Slogan tersebut memiliki gambaran yang sesuai dengan kondisi Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau dari Sabang sampai Merauke. Walaupun terpisah, masyarakat merupakan satu kesatuan, yakni warga negara Indonesia,” ujar legislator Gerindra ini.
Begitu pun, sambungnya, Indonesia kaya dengan warisan kebudayaan. Budaya adalah sebuah warna dalam suatu negara di dalamnya menggambarkan ciri khas dan karakter yang bersinar di setiap budaya yang terpampang.
“Indonesia, tak hanya dikenal dengan negara maritim, namun juga kaya akan budaya. Berbagai suku bangsa di dalamnya pun melahirkan adat dan budaya yang beragam, sehingga membuat Indonesia semakin kaya akan keanekaragamannya,” tanbahnya.
Dia menyebut dengan ragam budayanya yang kaya begitu mengagumkan banyak pihak, termasuk pemerintah bahkan mata dunia. Ditegaskan harusnya semua elemen bangsa dapat menjunjung budaya Indonesia sebagai karya leluhur karena itu bagian jiwa kebangsaan dan sikap nasionalisme.
“Tidak elok jika ungkapan yang mendiskriminasikan salah satu adat, suku atau budaya. Kita (Indonesia) justru banyak dikagumi karena kekayaan dan keanekaragaman suku dan budayanya,” urainya.
Dikatakan Arif yang juga Pembina Paguron Pencak Silat Panglipur Puseur Bumi mengajak anak bangsa untuk sama-sama saling menghargai suku dan budaya.
“Kota Bandung sebagai salah satu Tanah Pasundan yang kental dengan bahasa Sunda dan budayanya, bahkan di Bandung tidak sedikit warga suku lainnya hidup sangat harmonis dan berdampingan,” urainya.
Oleh karenanya, Arif berharap, semua bisa saling menghargai satu sama lain. (AdiPar)












