BAGI anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Taufik Nurrohim, S. Psi, sosok tokog besar ulama NU yang merupakan mantan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid atau dikenal Gus Dur bukan hanya sebagai sosok Kiai tetapi Ia adalah santri yang berani melampaui batas zamannya berpikir modern, membela HAM, merawat demokrasi, dan hadir bagi semua manusia tanpa kecuali.

Begitu pula, di mata Taufik Nurrohim, di tangan Gus Dur, tradisi tidak kaku dan modernitas tidak angkuh. Gus Dur justru menunjukkan bahwa menjadi santri berarti berani membuka ruang dialog, menghargai perbedaan, dan setia pada nilai-nilai kemanusiaan.
Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Fraksi PKB DPRD Jawa Barat Taufik Nurrohim merespons figur ulama besar KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur atas dianugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-4 Republik Indonesia, belum lama ini.
Anggota Komisi III DPRD Jabar itupun menyebut penghargaan tersebut bukan hanya layak disematkan bagi Gus Dur, tetapi sudah lama hidup dalam kesadaran masyarakat Indonesia.
“Gus Dur telah menjadi simbol keberpihakan terhadap kelompok rentan, minoritas, dan masyarakat kecil jauh sebelum negara memberikan gelar pahlawan. Karenanya bagi kami di PKB dan para santri, Gus Dur tanpa gelar negara pun sudah menjadi pahlawan di hati kami sejak lama,” ujar Taufik, di Bandung.
Ditegaskan Taufik Nurrohim, di matanya sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, memiliki kedekatan dengan masyarakat Jawa Barat. Meskipun Gus Dur tidak lahir atau besar di Jawa Barat, tetapi gagasan-gagasan Gus Dur bersifat universal dan mampu dirasakan hingga kini, terutama oleh kelompok yang pernah mengalami diskriminasi.
“Gus Dur selalu mengatakan bahwa kebijakan pemimpin harus berdasar pada kemaslahatan rakyat. Pondasi utamanya adalah kemanusiaan,” katanya.
Jejak pemikiran Gus Dur ditelusuri Taufik Nurrohim, dari darah pesantren, pergaulan lintas budaya, hingga pendidikan yang membentuk cakrawala kemanusiaannya.
Oleh karenanya, Taufik Nurrohim mengajak srmua kalangan untuk merawat tradisi berpikir inklusif seperti yang diwariskan Gus Dur.
“Gus Dur selalu selangkah di depan zamannya. Pemikirannya modern, tapi tetap membumi menyentuh hidup sehari-hari, menyapa kemanusiaan tanpa batas. Bahkan kita akui bagaimana kecerdasan waktu ala Gus Dur justru semakin relevan hari ini,” tambahnya.
Begitu pula, cara Taufik membaca Gus Dur, seolah diingatkan bahwa menjadi santri hari ini bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang keberanian menatap masa depan.
Dalam penjelasannya, Taufik Nurrohim menegaskan bahwa kehadiran Gus Dur tidak pernah berhenti pada tataran wacana. Malah Gus Dur hadir secara nyata di ruang-ruang tempat kaum minoritas yang seringkali merasa terpinggirkan.
“Dari pengalaman hidup, tradisi keluarganya, hingga jejaring lintas budaya yang ditempanya sejak muda, Gus Dur menjadikan keberpihakan kepada kelompok rentan sebagai sikap yang terus ia jaga. Bagi Gus Dur, hukum tidak boleh tunduk pada jabatan, status, atau latar belakang. Oleh srbab itu dalam pemikirannya, setiap manusia berdiri setara karena keadilan bukan milik golongan, tapi hak semua warga,” bebernya.
Taufik menceritakan, sejak kecil, Gus Dur sudah akrab dengan dunia tulisan. Karyanya tidak hanya berhenti di kertas, tapi dimuat di berbagai media kredibel. Dari sanalah, sambungnya, wawasannya tumbuh, membawanya mampu berdialog lintas budaya, lintas batas, dan lintas cara pandang.
“Pemikiran besar itu ternyata berawal dari kebiasaan sederhana: yakni menulis. Karena itu, pemikiran maupun gagasan Gus Dur hingga kini terus hidup sebab relevan dengan situasi dan kondisi bangsa kini,” tegasnya.
Taufik Nurrohim pun menyebut bahwa jika KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur masih hidup, pasti akan menjadi sosok terdepan dalam membela kelompok terpinggirkan..Pasalnya, rekam jejak Gus Dur selama hidup menunjukkan keberpihakan tanpa batas terhadap semua warga negara tanpa memandang latar belakang agama, budaya, maupun kelompok.
“Gus Dur datang dari tradisi pemikiran yang melahirkan konsep kosmopolitanisme Islam. Baginya, setiap warga itu sama di mata hukum,” pungkas Politisi PKB asal Dapil Jabar XI meliputi Subang, Majalengka dan Sumedang atau dikenal Dapil SMS. (AdiPar)












