Sungai Cikapundung Jadi Kawasan Wisata Air

  • Bagikan

BANDUNG (Lintasjabar.com),- Program kali bersih (prokasih) merupakan bagian dari 5 (lima) gerakan pembangunan lingkungan hidup Kota Bandung yang diimplementasikan dalam Gerakan Cikapundung Bersih (GCB). Filosofi dari program ini, intinya menginginkan semua sungai besar maupun kecil yang banyaknya 40 sungai, benar-benar bersih dari sampah maupun limbah lainnya seperti limbah industri maupun rumah tangga, yang diawali dari Sungai Cikapundung.

Namun GCB pastinya sejak 2004 dicanangkan hingga hari ini, meski belum signifikan perubahannya, sudah mulai dirasakan dengan semakin menurunnya endapan sedimentasi padat dan sampah yang mencemari kali. Belum adanya lonjakan ini, disinyalir karena faktor pendanaan yang terbatas selain juga perlu adanya penguatan komitmen seluruh stakeholder terkait termasuk kesadaran masyarakat.

Membangkitkan semangat GCB, Kota Bandung di hari jadi ke-200 tahun pada 25 September 2010, akan merintis menjadikan Sungai Cikapundung sebagai kawasan wisata air, berperahu menyusuri Cikapundung dari Curug Dago sampai Sabuga. Kegiatan diharapkan seperti Car Free Day, yang diawal kegiatan tidak seorangpun tahu bagaimana mengikuti kegiatan ini, tapi akhirnya masyarakat secara mandiri bisa melakukan kegiatan.

“Saya berharap Cikapundungpun demikian. Cikapundung bisa jadi pusat budaya air, tempat bermain, tempat berekreasi. Masyarakat yang mau berpatisipasi, bisa bawa perahu sendiri dan bisa sama-sama kita berperahu”, ungkap Wakil Wali Kota Bandung, Ayi Vivananda di Balaikota usai mengikuti Bandung Eco Town Workshop dan Eco Creatif Fest Fair, Selasa (21/9).

Cikapundung menjadi pusat budaya dan kawasan wisata air, kata Ayi bukan tidak mungkin diwujudkan. Dirinya secepatnya akan melengkapi koridor sungai, kembali menanami vegetasi sungai, seperti tanaman pohon Enau (kawung), pandan air/pandan sungai dan pohon pakis. Sepanjang koridor sungai pun akan dibangun kampung-kampung seni dan budaya lokal. “Melalui Cikapundung pusat budaya dan wisata air, timbul budaya bersih masyarakat, menjaga tempat bermainnya untuk tidak terkotori limbah domestik maupun limbah lainnya”, ujarnya.

Penataan Cikapundung berikutnya khususnya dari titik Sabuga sampai belakang PLN, Ayi menambahkan, penataan akan dilakukan Pemkot Bandung dengan Pemprop Jabar dan Pemerintah Pusat. “Dari Sabuga ke PLN ini kita sedang membuat eksekutif summary. Minggu depan kita akan bertemu lagi dengan Pemerintah Propinsi dan Pusat untuk membuat eksekutif summary bersama-sama”.

Wali Kota Bandung pernah menyebutkan, penataan Cikapundung dirumuskan dalam 7 kegiatan. Kegitan itu meliputi normalisasi sungai, inventerisasi bangunan liar di sepadan sungai, penataan sepadan sungai, pembanguan sarana bangunan air seperti bendungan dan alat pengontrol, penghijauan dan konservasi air, serta peningkatan kualitas air sungai. Kegiatan terakhir yang baru merupakan impian, adalah rumah yang membelakakngi sungai Cikapundung, ditata menjadi menghadap ke sungai.

Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung, Akhmad Rekotomo menuturkan, peran institusinya terkait prokasih, sedang menyiapkan Peraturan Wali Kota (Perwal) yang mengharuskan setiap kegiatan usaha punya dokumen lingkungan hidup yang disebut Amdal, RUPL dan IPPL. “Kini masih dalam proses dan menunggu untuk ditandatangani. Tapi sambil menunggu, kita akan sosialisasikan. Insya Allah tingkat pencemaran akan semakin berkurang,” tandasnya. (Herdi).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan