Sungai Bukan Anugerah Tempat Buang Sampah

  • Bagikan

BANDUNG (Lintasjabar.com),- Bandung kini tidak saja telah menjadi kawasan padat penduduk, tapi juga padat dengan bangunan baik untuk gedung perkantoran, rumah tempat tinggal, bangunan sekolah, mall ataupun pusat-pusat kegiatan bisnis lainnya. Ini menekan berat ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan menurunnya kualitas lingkungan hidup.

“Bandung kini udaranya tidak lagi sejuk seperti dahulu, apalagi turun embun di pagi hari. Udara terpolusi emisi gas buang dan sungai pun banyak tercemar limbah sampah”, ungkap Wakil Wali Kota Bandung, Ayi Vivananda dalam arahannya, membuka workshop Adiwiyata dan Sekolah Berbudaya Lingkungan (SBL), di Hotel Grand Serela, Jalan Martadinata 56 Bandung, Rabu (20/10).

Kondisi lingkungan hidup Bandung seperti itu, lanjut Ayi, karena budaya peduli dan cinta lingkungan yang belum melembaga, baik secara individu maupun secara kelompok. Malu jika membuang sampah ke sungai dan malu jika buang sampah ke jalan. “Perubahan sikap ini yang kita inginkan. Sungai bukanlah anugerah untuk tempat pembuangan sampah”, tandasnya.

Antisipasi pesatnya pertumbuhan kota, Ayi menjelaskan, Kota Bandung mengingimbanginya dengan program yang adaptif, terarah, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Memadukan aspek lingkungan hidup, sosial dan ekonomi kedalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup, keselamatan, kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa depan.

“Ini alasan, pentingnya Kota Bandung menanamkan kepedulian lingkungan hidup secara formal di lingkungan sekolah. Menjadikan pendidikan lingkungan hidup sebagai muatan lokal,” ujarnya.

Di tataran implementasi, secara konseptual dikatakannya mungkin saja sudah lengkap. Namun diakuinya belum optimal dan masih terdapat sejumlah kendala. Kegiatan riil praktek siswa, mendapatkan porsi yang lebih dominan dibanding teoritisnya. Perlu terobasan, antara lain pengembangan teknik-teknik implementatif dari guru dan siswa. Tiap siswa diajak menyumbang dan menanam masing-masing satu pohon disekolahnya. Melakukan pembibitan dari setiap biji dari buah-buahan yang dimakannya, memelihara sekaligus mengawasinya.

“Cara ini, siswa akan lebih merasa memiliki. Kita awali sejak mereka diterima menjadi siswa baru. Saya pun telah mengajak beberapa rector perguruan tinggi di Bandung, ospek dimanfaatkan mahasiswa baru, bebersih dan tanam pohon di bantaran sungai. Menjadikan sungai ruang publik tempat wisata dan bermain. Kedepan, peringatan Hari Jadi Kota Bandung 2011, akan kita fokuskan pada gerakan kebersihan sungai,” jelasnya.

Program Adiwiyata dan sekolah berbudaya lingkungan, kata Ayi, akan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam pelestarian lingkungan. Penilaian bersifat lomba, harus diapresiasi antusias, bukan menjadi beban. “Sekolah yang asri akan meningkatkan produktivitas sekolah dan kemampuan belajar siswa. Kota Bandung, ingin lebih banyak lagi sekolah-sekolah berprestasi Adiwiyata dan berbudaya lingkungan”, kata Ayi seraya menyebut SMP Negeri 7 sebagai sekolah yang mendapat anugerah Adiwiyata mandiri. Juga sekolah-sekolah lainnya yang telah disiapkan, diantaranya SMPN 36, SMAN 15, SMAN 20 dan SMKN 7.

Sedang  Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung, Akhmad Rekotomo menuturkan, kaitan dengan pendidikan berkarakter, sekolah menurutnya dapat dijadikan pengatur arah membangun masa depan generasi muda. Citra kualitas masa depan dapat diprediksi dari kinerja dan prestasi sekolah. Sekolah merupakan instrument penting membangun generasi depan yang berkarakter, generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup. (Herdi)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan