BANDUNG LJ – Kebanyakan masyarakat Indonesia masih menganggap tabu bila membicarakan masalah organ tubuh Reproduksi. Padahal pengetahuan / edukasi kesehatan reproduksi sangat penting bagi kalangan muda untuk dapat menghasilkan keturnan yang sehat dan cerdas.
Akibat kurangnya pengetahuan reproduksi, cukup banyak pasangan rumah tangga yang sudah menikah bertahun-tahun tidak memiliki keturunan. Hal ini karena, wanita maupun pria sewaktu belum menikah tidak memperhatikan betapa pentingnya kesehatan reproduksi yang akhirnya berdampak setelah menikah.
Demikian dikatakan DR. dr Tono Djuwantono, SpOG (K) selaku pembicara didampingi Winni Agustiani, S.Si., M.Kes dalam acara seminar Reproduksi Sehat Keluarga Hangat bersama Laboraturium Klinik Prodia, di Hotel Grand Preanger Bandung, Sabtu (16/8).
Wanita dan pria memiliki kewajiban yang sama dalam menjaga reproduksi, agar terhindar dari masalah kesehatan.
Bahkan menurutnya, penyebab infertilitas yang umumnya ditemukan pada pria diantaranya gangguan seksual, menderita Diabetes Melitus, adanya kelainan hormonal, sumbatan pada saluran sperma, infeksi buah zakar, kelainan bawaan dalam struktur organ reproduksinya.“Produksi sperma dapat mengalami kondisi abnormal akibat penyebab hormonal (hypogonadotropic hypogonadisme, hypergonadotropic hypogonadisme, irreversible germs failure, testosterone resistance),” jelasnya.
Selain itu, kata Tono, gangguan dapat pula disebabkan oleh kondisi non hormonal yakni suhu panas, riwayat penyakit diabetes melitus, infeksi, varises pada testis atau varicoceles, merokok, kebiasaan mengonsumsi alkohol.
Sementara itu, Winni Agustiani, S.Si., M.Kes mengungkapkan mayoritas kasus infertilitas pada wanita disebabkan adanya masalah pada proses ovulasi yang ditandai dengan siklus menstruasi yang tidak teratur atau tidak menstruasi (amenorrhea).
Infertilitas merupakan suatu masalah yang terjadi pada kesehatan reproduksi dimana pasangan tidak mampu memperoleh keturunan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur selama 1-2 tahun, jelas Winni.
Winni menambahkan, masalah pada proses ovulasi sering disebabkan oleh polycystic ovarian syndrome (PCOS), yaitu kondisi ketidakseimbangan hormon. Selain itu, dapat juga disebabkan oleh primary ovarian insuffiency (POI) yang terjadi ketika indung telur tidak berfungsi sebelum usia 40 tahun.
Adapun penyebab lainnya, adalah tersumbatnya tuba falopi akibat radang panggul, endometriosis, atau operasi pada kehamilan ektopik, kelainan pada uterus. “Inilah pentingnya deteksi dini dan pengobatan yang tuntas agar tidak terjadi gangguan kesehatan reproduksi,” ujarnya.
Winni mengungkapkan idealnya pasangan suami istri melakukan beberapa jenis pemeriksaan agar dapat mengetahui status kesehatan reproduksinya. Bagi para pria dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium seperti analisis sperma, urinalisis, LH danFSH, prolactin, FAI dan ASA.
Sedangkan untuk para wanita dianjurkan pemeriksaan TSH, prolaktian, LH dan FSH serta estradisol. “Baik istri ataupun suami harus pro aktif dan mau melakukan pemeriksaan sehingga hubungan tetap terjaga selamanya,” katanya.
Astuti dari Lab Klinik Prodia Bandung mengatakan, Prodia memiliki program young generation terhadap reproduksi. Untuk itu, pihaknya siap mengkoordinir untuk mensosialisasikan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi bagi kalangan generasi muda.
Prodia siap bekerjasama dengan berbagai elemen masyarakat untuk melakukan pemeriksaan laboraturium, termasuk juga bagi masyarakat yang menggunakan kartu BPJS dengan hasil yang akurat dan terjamin kualitasnya. Karena Prodia memiliki peralatan yang canggih dan terjamin kebersihannya. (Herdi)












