Imas Paridah Pengidap Tumor Getah Bening, Hanya Tergolek Lemah *Ekonomi Pas-pasan Sebabkan Penyakitnya Tidak Diobati

  • Bagikan

KAB BANDUNG (Lintasjabar.com),- Sekilas rasa keprasahan terlihat terpancar diraut sang suami Oo Somantri (48) saat menemani Imas Paridah (46) pengidap Tumor Getah Bening yang sisa waktunya hanya bisa diam dan tergolek lemah. Meskipun begitu berat menahan cobaan yang diterima anggota keluarganya, namun Oo mencoba berusaha tetap tegar menghadapi cobaan tersebut.

Imas sendiri merupakan seorang guru pada salah satu sekolah dasar di Kecamatan Ibun. Selama mengidap penyakit tersebut, dirinya harus rela meninggalkan tugasnya sebagai pengajar. Profesi guru yang dijalaani Imas berawal dari dirinya diangkat menjadi pegawai negeri sipil belum lama ini, dan akhirnya mengajar di sekolah dasar Talun I Ciekekek desa Talun Kecamatan Ibun.

“Sejak Maret 2010, isteri saya mengidap penyakit ini (Tumor.red). Awalnya kakinya tidak begitu bengkak hanya ada sedikit benjolan di bagian paha. Kami mengira hal itu tidak akan berakibat seperti sekarang,” urai Oo di kediamannya belum lama ini.

Diungkapkan Oo, dari hasil diagnosa dokter disimpulkan isterinya mengidap “Tumor Getah Bening”. Ibu yang memiliki empat orang anak dari hasil pernikahan dengan Oo ini, hanya bisa pasrah terlebih factor ekonomi yang dibilang pas-pasan menyebabkan dirinya tidak mampu untuk melanjutkan pengobatan.

Oo sendiri merupakan penarik ojeg di lingkungan sekitar, dengan pendapatan yang tidak tetap. Terkadang dalam sehari dirinya bisa mendapatkan uang hasil ojeg sebesar Rp. 30.000, itupun hanya cukup untuk menutupi biaya sehari-hari.

Melihat kondisi seperti itu, Imas, Guru pengajar murid kelas V ini, hanya mengandalkan belas kasihan serta perhatian dari pemerintah. Dirinya sempat berobat ke Rumah Sakit Hasan Sadikin dengan jaminan Asuransi Kesehatan (Askes), namun demikian, hal itu hanya bisa menutupi sebagian biaya yang mesti dikeluarkannya. Sementara selebihnya ditanggung sendiri.

“Kami sempat berobat ke RSHS dengan jaminan Askes, namun jaminan Askes hanya bias menutupi sebagian dari total yang mesti kami bayar. Sementara selebihnya kami harus bontang-banting mencari untuk menutupi biaya pengobatan,” katanya lirih.

Dengan ketidak mampuan keluarganya untuk terus berobat, akhirnya Oo memutuskan untuk tidak melanjutkan pengobatan isterinya secara medis. Sejauh ini, dikatakan Oo, isterinya hanya mendapatkan perawatan dan pengobatan alternative berupa teraphy dengan obat-obatan tradisional. Karena hal itu, dianggap relative terjangkau dengan kondisi ekonominya.

”Dengan keadaan ekonomi yang terbilang pas-pasan saya sudah tak dapat lagi membawa istri saya ke rumah sakit, karena terbentur kesulitan biaya, untuk sementara saya hanya dapat merawatnya dirumah, Ya seperti inilah,,,,” tuturnya seraya menerangkan, ”kini hanya dapat berikhtiar melalui pengobatan ramuan tradisional serta terapi herbal dengan tak lepas saya terus mendorong untuk kesembuhan istri saya  dengan upaya doa doa  terhadap yang maha kuasa dengan selalu saya lakoni dalam bentuk pengajian- pengajian bersama maupun doa-doa yang saya slalu panjatkan seusai salat,’tuturnya.

Dirinya berharap, ke depan bisa membawa kembali istrinya berobat ke rumah sakit, andai segala biaya pengobatan ada yang sudi membantu selain askes yang ada.

Sementara diungkapkan salah seorang kerabat lainya, bahwa Imas sejak empat bulan yang lalu sempat dibawa ke  Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung bahkan sempat mendapatkan tindakan operasi. “Saat itu, tim medis rumah sakit saat melakukan operasi sempat mengangkat daging yang membesar di paha seberat 2,8 kg. Setelah beberapa waktu dirawat, diperbolehkan pulang dengan keadaan kondisi sehat,”katanya.

Oo sendiri mengaku meskipun kala itu biaya yang dikeluarkannya cukup besar separuh biaya dibantu dari Askes. Dirnya bersama keluarga merasa berbahagia dengan anggapan penyakitnya hanya tinggal pemulihannya saja. Namun demikian, rupanya cobaan ini belum berakhir, karena jelang berapa lama keadaan kaki istrinya kembali membengkak bahkan lebih besar dari sebelumnya.

“Untuk yang kedua kalinya kami membawanya ke pihak rumah sakit Al Islam, setelah menjalani perawatan selama 9 hari, bahkan pihak kami sempat mendapatkan bantuan untuk biaya dari lembaga guru yang ada di kecamatan ibun, tapi hasilnya pihak rumah sakit Al islam mengeluarkan surat merujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin dengan alasan tak sanggup. Dan kami pun kala itu hanya dapat membawanya pulang, dan sampai saat ini kami tak dapat lagi membawa istri saya ke pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin. Karena kami sendiri kebingungan masalah biaya yang harus ditanggung diluar ASKES, seperti sampai saat ini kami sudah tak sanggup lagi untuk mencarinya,” ungkap Oo.

Sementara dikatakan Kepala UPTD Dinas P dan K Kecamatan Ibun, M Chuarliman, Kamis (16/6) dari kalangan dinas pendidikan kecamatan, baik dari PGRI, pengurus lainya maupun dari para guru dan siswa sempat menggalang dana bantuan untuk membantu biaya pengobatan guna meringankan beban ibu imas untuk kesembuhanya.

“Dan perhatian maupun yang sempat kami berikan berupa bantuannya terasa sudah maksimal dengan kemampuan kami masing masing, hanya mungkin untuk kelajutanya kami belum dapat lagi membantunya bahakan kami sempat mendengar ada pihak pihak lain yang akan mengupayakanya,” jelas Chuarliman yang diamini oleh kasubag UPTD  Yaya S. Kasubag UPTD sendiri, menegaskan pihaknya selalu siap membantu andai pihak keluarga ibu imas, memintanya untuk mencoba mencarai solusi guna melakukan terapi ke tempat lain. (DENT)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan