Legislator PAN: Basis Nilai Keragaman Budaya Adalah Nilai Ketuhanan

  • Bagikan

[lintasjabar tkp=”GARUT”] Pancasila sebuah filosofis bangsa dengan taburan nilai-nilai kehidupan bangsa. Keragaman nilai karena keragaman budaya di nusantara memiliki ribuan suku, ribuan nilai yang tumbuh hidup. Bahkan semua nilai mengusung keluhuran budi, semua nilai luhur menyokong keluhuran kemanusiaan.

Anggota MPR RI Fraksi PAN, Haerudin saat paparian sosialisasi empat pilar di Padepokan Manda Agung

Keragaman sosial budaya di Indonesia menjadi berkah bagi bangsa. Bangsa Indonesia adalah masyarakat yang terdiri dari beranekaragam suku bangsa yang memiliki adat istiadat yang berbeda-beda. Keragaman budaya indonesia memiliki lebih dari ribuan suku bangsa yang bermukim di wilayah yang tersebar di ribuan pulau terbentang mulai dari sabang sampai merauke.

Indonesia sendiri terdiri dari kurang lebih 656 suku bangsa dengan bahasa lokal 300 macam. Keanekaragaman tersebut merupakan kekayaan milik Bangsa Indonesia yang harus kita jaga dan lestarikan sehingga mampu memberikan warna ketentraman dan kedamaian bagi rakyat Indonesia.


Oleh karena itu, keragaman sosial budaya menjadi kebudayaan nasional yang berlandaskan Undang-Undang Dasar. Seperti yang dituangkan dalam penjelasan pasal 32 UUD 45 yang berbunyi “Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan tidak menolakbahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia”.

“Basis nilainya bukan hanya antroposentris, tetapi bassicalynya nilai ketuahanan. Nilai ketuhanan dan kemanusiaan menjadi satu kesatuan. Maka itu, harapan terbesarnya yakni terwujudnya sebuah bangsa yg beriman dan bertakwa,” papar anggota MPR RI, Haerudin, S.Ag., MH saat acara sosialisasi 4 (empat) pilar MPR RI yang digagas Yayasan Duha Center di Padepokan Manda Agung Desa Mandala Kasih Kecamatan Pamengpeuk, Sabtu malam (14/11/2020).

Suasana peserta dan tamu undangan saat sosialisasi empat pilar

Jadi, kebudayaan nasional adalah suatu kebudayaan yang mampu memberi makna bagi kehidupan berbangsa dan berkepribadian, akan dapat dibanggakan sebagai identitas nasional.

“Adanya berbagai kelompok masyarakat yang beragam,keragaman budaya di indonesia merupakan sebuah potensi yang perlu di manfaatkan agar dapat mewujudkan kekuatan yang mampu menjawab berbagai tantangan saat ini seperti melemahnya budaya lokal sebagai bagian dari masyarakat. Hal ini di khawatirkan akan menurunnya kebanggaan nasional yang dapat menimbulkan disintegrasi sosial,” jelas legislator Fraksi PAN asal Dapil Jabar XI ini.

Menurutnya, pribadi yang mampu beradaptasi dengan perbedaan yang ada, tidak egois, toleran, menjunjung tingi norma dan nilai, serta mampu menjalin kerjasama dengan orang lain. Pribadi yang memiliki andil untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang rukun bersatu, bermartabat, dan bangsa yang maju, yang tidak tertinggal dengan bangsa-bangsa lain.

[xyz-ips snippet=”bacajuga”]

“Kita hidup dalam masyarakat yang beragam. Di dalam kehidupan kita sehari-hari kita berjumpa dan bergaul dengan orang lain yang berbeda karakter, berbeda suku, agama, dan adat istiadat. Tetapi dalam keberagaman ini kita dituntut untuk berkembang menjadi pribadi-pribadi yang berkarakter, kreatif dan mandiri,” ungkap putera aseli Garut Selatan yang merupakan anggota Komisi IV DPR RI.

Kemajemukan bangsa Indonesia tidak hanya terlihat dari beragamnya jenis suku bangsa, namun terlihat juga dari beragamnya agama yang dianut penduduk. Suasana kehidupan beragama yang harmonis di lingkungan masyarakat heterogen dengan berbagai latar belakang agama terbangun karena toleransi yang saling menghargai perbedaan. Berbagai kegiatan sosial budaya berciri gotong-royong memperlihatkan karakter masyarakat Indonesia yang saling menghormati antara berbagai perbedaan golongan, suku bangsa, hingga agama.

Ditambahkannya, sebagai bagian dari bangsa-bangsa yang ada di dunia, Indonesia menjadi unsur untuk memelihara kebudayaan manusia di dunia. Suatu kebudayaan tentunya terdiri dari berbagai macam hal yang berhubungan dengan daerah asalnya. Unsur-unsur budaya Mulai dari bahasa, busana, tarian, kuliner, rumah adat, bahkan mitos-mitos dan ada kepercayaan yang berbeda. Disamping itu, beberapa budaya Indonesia yang telah diakui dunia sebagai warisan budaya diantaranya adalah pencak silat, batik, keris, perahu pinisi, gamelan, dan sistem irigasi persawahan tradisional asal Bali yang bernama subak.

[xyz-ips snippet=”bacajuga”]

“Seperti yang kita tahu, di Indonesia, terdapat berbagai macam kebudayaan yang berasal dari hampir seluruh sukubangsa. Hal ini mungkinkah terwujud sebagai masyarakat multikultural? Syarat terwujudnya masyarakat multikultural adalah apabila warganya dapat hidup berdampingan, toleransi dan saling menghargai. Nilai-nilai tersebut harus dijadikan pedoman untuk bertindak, baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik maupun tindakan individual. Di antara prinsip mendasar dari demokrasi yang patut dikembangkan di Indonesia adalah kesetaraan derajat individu, kebebasan, toleransi terhadap perbedaan, konflik dan konsensus, hukum yang adil dan beradab serta perikemanusiaan,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan DUHA Center, Edi Kusnadi menjelaskan acara penyerta sosialisasi empat pilar menampilkan seni pencak silat sebagai bagian dari bentuk kepeduliannya memelihara dan “ngamumule” warisan budaya leluhur.

Diantara peserta seni pencak silat diantaranya hadir perwakilan dari Paguron Silat Gending Kawangi Siliwangi Manda agung Pameungpeuk juga dari Paguron Pencak Silat Siliwangi Kecamatan Cibalong.
Hadir pada kesempatan itu pula, aparatur kecamatan dan desa setempat selain juga hadir tokoh-tokoh masyarakat dan pemuda. (San)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan