Literasi Membaca Membentuk Masyarakat Cerdas Dan Berdaya Saing Kuat

  • Bagikan

[lintasjabar tkp] Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, H. Arif Hamid Rahman, SH menekankan bahwa mahasiswa memiliki tanggungjawab moral dalam membina serta mengedukasi masyarakat terlebih dalam minat literasi membaca bagi masyarakat umumnya di Jawa Barat agar kritis dan memiliki pembendaharaan data yang valid.

Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, H. Arif Hamid Rahman, SH

Pada kesempatan itu, Arif yang merupakan anggota Fraksi Gerindra Persatuan ini berharap agar selalu terciptanya sinergitas antar stakeholder terlebih pemuda dan mahasiswa sehingga literasi di Jawa Barat bisa bersaing dengan Provinsi lain di Indonesia.

“Buku adalah jendela dunia”. Kunci untuk membukanya adalah membaca. Ungkapan ini secara jelas menggambarkan manfaat membaca, yakni membuka, memperluas wawasan dan pengetahuan seseorang. Berbagai penelitian membuktikan bahwa lingkungan, terutama keluarga, merupakan faktor penting dalam proses pembentukan kebiasaan membaca,” ujarnya kepada lintasjabar.com menyikapi dampak pengaruh media massa dan media sosial di era disrupsi pada literasi membaca mahasiswa di Villa Esduabelas, Minggu (25/7/2021).

[xyz-ips snippet=”bacajuga”]

Menyinggung pengaruh media massa dan media sosial, selain sisi manfaat, juga menimbulkan sisi negatif yakni kegelisahan akan terkikisnya nilai-nilai tabayyun (konfirmasi), berita bohong atau hoax, dan liarnya ujaran kebencian, terutama di media sosial.

Oleh karena itu, kata Arif pentingnya literasi media dan digital sebagai filter atas liarnya informasi yang menyebar ke masyarakat. Tidak hanya masyarakat, media juga penting dalam mengemas, memframing berita atau mengambil narasumber atau konten kontennya adalah bagian dari literasi supaya masyarakat mendapatkan informasi yang baik dan benar.

“Kemudian dari sisi masyarakat, jangan langsung mencernah begitu saja. Dengan adanya kecepatan masyarakat seakan gatel kalau tidak mengesahre atau repost padahal isinya benar apa tidak. Kalau masyarakat melek atau pemahaman literasi medianya kurang tanpa mengetahui informasi itu benar atau tidak maka sangat bahaya dan menjadi pemicu-pemicu ketidaknyamanannya, ketidak rukunan. Karena tadi dari informasi yang tidak benar, yang ada jadi panas tanpa tau kebenarannya asal viralkan, viralkan,” pungkasnya. (AdiPAr)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan